'Simantap Sejagat' untuk Penanganan ODGJ Bantul Peroleh Penghargaan dari Kementerian PAN-RB

share on:
Bupati Bantul H. Abdul Halim Muslih, Kadinkes Agus Tri W dan Siti Mulyani tunjukan piagam penghargaan|| YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) – Pemerintah Kabupaten Bantul cq Dinas Kesehatan berhasil raih Outstanding Achievement of Public Service Innovation 2023 melalui ‘Simantap Sejagat’, suatu inovasi penanganan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB).

Simantap Sejagat ini inovasi salah satu perawat Puskesmas Kasihan 2 Kabupaten Bantul. Penghargaan diberikan atas capaian kinerja luar biasa dari Simantap Sejagat yang merupakan akronim Sistem Manajemen Terpadu Kesehatan Jiwa Jaga Masyarakat.

BACA JUGA: FFPJ XIV 2023 Ajak Komunitas Film Pelajar Indonesia Jadi 'Sahabat Bumi'

Sebelumnya, pada 2021, inovasi Gelimasjiwo (Gerakan Peduli Masyarakat Kesehatan Jiwa) masuk top 45 inovasi skala nasional. Lalu oleh Bidan Puskesmas Kasihan selaku inovator, Siti Mulyani dan teman-temanya, inovasi ini ditransformasi menjadi Simantap Sejagat.

“Harapannya supaya Kabupaten Bantul memiliki sistem penanganan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang lebih tertata, sistematik, sesuai standar prosedur yang telah ditetapkan,” ujar Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, di hadapan awak media, Senin (4/12/2023).

BACA JUGA: Dispora Sleman Memberikan Penghatrgaan kepada 37 Atlet Berpresatasi

Gelimasjiwo, sebelumnya telah direplikasi oleh 14 Puskesmas dari 27 Puskesmas yang ada di Kabupaten Bantul. Ketika inovasi ini ditingkatkan menjadi Simantap Sejagat, ranah penanganan ODGJ tak hanya menjadi urusan puskesmas, namun naik ke tingkat Kabupaten. 

“Penanganan ODGJ itu tidak bisa kalau hanya dikerjakan oleh Dinas Kesehatan. Sinergi dari berbagai pihak butuh sekali masuk ke ranah ini. Misal ada ODGJ yang membawa sajam (sajam), tentu puskesmas butuh bantuan linmas atau bahkan Polsek hingga Koramil. Penyembuhan ODGJ ini jauh lebih rumit daripada menyembuhkan fisik. Karena dalam promosi kesehatan yang dilakukan, tidak hanya menyembuhkan pasien, tapi juga menyembuhkan stigma negatif masyarakat terhadap ODGJ,” imbuh Halim.

Sertifikat penghargtaan 'Simantap Sejagat' || YP-Supardi

Di Bantul kini punya 6 psikolog untuk ditugaskan di 22 Puskesmas yang ada di 17 Kapanewon. Jumlah ini masih perlu ditambah, sehingga dimungkinkan  akan ada pengadaan psikolog. Selain itu juga memfasilitasi untuk penanganan ODGJ.

BACA JUGA: Kritik Pemerintah Yogyakarta, Gus Hilmy Nilai Ade Armando Ngawur dan Ahistoris

Sementara itu Siti Mulyani, selaku penggagas Simantap Sejagat, mengamini bahwa stigma ODGJ di masyarakat harus ditekan sedemikian rupa. Sebab, sikap lingkungan sekitar terhadap ODGJ sangat berpengaruh pada proses pemulihan ODGJ itu sendiri.

“Tugas dan tanggung jawab besar kita semua tentu saja selain membuat ODGJ pulih, juga menghapus stigma masyarakat bahwa ODGJ itu tidak bisa apa-apa, tidak berdaya. Jangan sampai ODGJ diperlakuan buruk terus menerus. Mereka para penderita, dapat pulih kok. Banyak di tempat kami ODGJ yang pulih, dapat beraktivitas kembali di tengah masyarakat. Bahkan ada yang menikah dan bekerja,” tutur Siti.

BACA JUGA: OJK Cabut Izin Usaha PT ASPAN

Siti menambahkan, Simantap Sejagat tak hanya melatih para kader untuk dapat mengidentifikasi dan memetakan ODGJ tiap wilayah, tapi hingga pasca rehabilitasi. 

Lewat Simantap Sejagat, ODGJ yang telah melewati proses rehabilitasi akan diberi bekal kemampuan sesuai minat dan bakat agar dapat berbaur di masyarakat. Selain itu, dengan jargon Pemberdayaan Untuk Orang Yang Tidak Berdaya, Simantap Sejagat terus berupaya agar penanganan ODGJ dapat diakses dengan mudah, dekat, dan murah.  (Spd)

 

 

 

 


share on: