Yogyapos.com (BANTUL) – Seperti tahun sebelumnya, Keraton Yogyakarta menggelar Hajat Dalem Labuhan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X di Pantai Parangkusumo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Senin (19/1/2026).
BACA JUGA: Duel Setelah Mengonsumsi Miras Akibatkan Seorang Tewas di Kalibayem, Pelaku Diringkus
Sebelum labuhan digelar labuhan, malam harinya di Pendapa Parangkusumo digelar wayang kulit semalam suntuk. Sedangkan prosesi labuhan diawali dengan serah terima uborampe oleh pihak Keraton Yogyakarta yang dipimpin oleh Carik Kawedanan Perintah Ageng Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung KRT Wijoyo Pamungkas kepada Bupati Bantul di Pendopo Kapanewon Kretek, yang kemudian dibawa ke Cepuri Parangkusumo untuk didoakan dan dilabuh di Pantai Parangkusumo.
BACA JUGA: Ini Amanat Panglima TNI pada Upacara Bendera di Makorem 072/Pmk
Carik Kawedanan Perintah Ageng Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung KRT Wijoyo Pamungkas, selain labuhan di Pantai Parangkusumo gelaran Hajat Dalem juga digelar di Gunung Merapi dan Gunung Lawu.
Pada labuhan kali ini ada tiga tempat, yakni labuhan di Pantai Selatan, kedua pegunungan. Masing-masing di Pantai Parangkusumo, kedua itu di Gunung Merapi, ketiga di Gunung Lawu.
BACA JUGA: Museum Monjali Tetap Favorit, Liburan Nataru Tembus 15.000 Pengunjung
Kegiatan labuhan ini, merupakan rutinitas setiap tahun yang jatuh pada bulan Ruwah. Kegiatan ini juga menjelang bulan puasa, dan sebagai tanda rasa syukur keraton serta untuk mendoakan keselamatan raja, rakyat, dan leluhur.
"Labuhan itu kan suatu bentuk hajatan dalam rangka syukur. Dalam hajat dalem ini, memang suatu bentuk keikhlasan seorang raja terhadap Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya.
BACA JUGA: Perkuat Sistem Ekonomi Domestik, Perlu Perombakan Rezim Perdagangan dan Industri
Juru Kunci Pemancingan Pantai Parangtritis, Juru kunci Mas Wedono Surakso Jaladri menuturkan, tradisi labuhan menjadi perwujudan dari filosofi nilai yang dianut Keraton Yogyakarta yakni Hamemayu Hayuning Bawana.
"Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, bermakna upaya melestarikan dan menyeimbangkan alam dan juga sisi lain," ujarnya.
BACA JUGA: Apel Peringatan Hari Desa Nasional 2026 di Tebing Breksi, Ini Pesan Gubernur
Ritual labuhan di Pantai Parangkusumo mendapat sambutan yang cukup antusias masyarakat, dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang saling berebut sesaji. Ratusan orang, saling berebut 'ubo rampe' yang dilarung sampai tak menghiraukan ombak besar yang setiap saat menggulung pengunjung, bahkan ada beberapa wisatawan mancanegara yang ikut berebut uborampe sembari mengabadikan momen budaya tersebut. (*/inm)
