REMBUG WARGA PUNCAK KLECO : Dari Rencana Launching Galeri Alam ke Institut Penulis Indonesia

share on:
Menghidupkan lagi tradisi rembug, mengudar gagasan yang segera diimplementasikan | Foto : Udi

Yogyapos.com (KULONPROGO) - Desa adalah sakaguru negara. Kearifan lokal yang ada di desa sebetulnya bisa diambil dan dijadikan media yang mampu menjembatani beragam kepentingan. Dalam rembug atau musyawarah, beragam perbedaan bisa difasilitasi untuk sama-sama menemukan solusi.

Itulah point penting dalam acara Rembug Warga, di Rumah Seni Bukit Menoreh, Puncak Kleco, Purwoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Kamis (20/12/2018). Diikuti pengola wisata Dewi Tinalah dan BPD, dipandu Kades Purwoharjo R Ariwibowi Amd. Rembug kali ini mengerucut pada rencana wiwit panen dan launching Galeri Alam Puncak Kleco 30 Desember 2018.

“Kesempatan emas ada di depan kita seiring akan dibukanya bandara baru di Kulon Progo. Tak ada pilihan bagi warga selain mempersiapkan diri sebaik-baiknya,” pesan Ariwibowo.

Kawasan wisata Kleco-Tinalah harus bisa menjadi pemain dengan menyajikan paket wisata yang ramah lingkungan, akrab sejarah, dan bersendikan seni budaya.

Puncak Kleco berada di tepi jalur bedah Menoreh, program yang disiapkan Bupati Kulon Progo dalam menciptakan akses dari dan ke bandara akan membuka wilayah-wilayah yang selama ini tersembunyi.

“Kita tak boleh berdiam diri menyambut perubahan dan perkembangan zaman,” tandasnya. 

Sementara itu, Wahjudi Djaja selaku fasilitator independen Puncak Kleco, mengingatkan pentingnya pengelola wisata untuk memahami dan menerapkan manajemen wisata.

“Keunggulan Puncak Kleco adalah karakter tourism based community, pengembangan wisata berbasis masyarakat. Guyup rukun dan gotong royong harus dipertahankan. Rembug dusun tak boleh ditinggalkan agar semua warga Duwet merasa handarbeni,” timpalnya.

Karakter dan identitas Puncak Kleco yang bersendikan alam, sejarah, seni, budaya dan lingkungan merupakan keunggulan yang bisa dikolaborasikan sebaik mungkin untuk menyajikan paket wisata yang unik dan alamiah.

Dalam kesempatan itu Ariwibowo juga menyampaikan perkembangan dan kesiapan Pemerintah Desa Purwoharjo dalam menyambut rencana berdirinya Institut Penulis Indonesia yang digagas Dr Nasir Tamara DEA DEES selaku Ketua Umum Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Tanah yang disiapkan adalah tanah kas desa dan sebagian sultan ground. Dalam audiensi beberapa bulan lalu, rencana ini didukung sepenuhnya oleh Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo.

"Ini juga merupakan kesempatan emas bagi warga Purwoharjo,” simpul Ariwibiwo.(Udi)

 


share on: