PROF YUDIARYANI MA TENTANG PERJUANGAN ABAD 21 : Perlu Paradigma Baru Pendidikan Sebagai Panglima

share on:
Prof Yudiaryani saat menyampaikan pidato kebudayaan dalam HUT ke-47 Teater Alam, di TBY, Kamis (3/1/2019) | Foto : Wahjudi

Yogyapos.com (YOGYA) - Menghadapi perjuangan abad ke-21 bangsa Indonesia berada dalam situasi kompleks yang hanya mampu diselesaikan oleh sumberdaya manusia yang cerdas dan kompetitif. Visi pembangunan yang membimbing bangsa Indonesia hingga tahun 2045 harus menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang ulet dan tangguh. Untuk itu diperlukan paradigma dan praksis baru pendidikan.

Guru Besar Teater dan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Prof Dr Hj Yudiaryani MA menyampaikan hal itu dalam Pidato Kebudayaan HUT  ke-47 Tahun Teater Alam, di Societed TBY, Kamis (3/1/2019).

Yudiaryani lebih lanjut memaparkan, paradigma baru tersebut harus mampu menjadi penjuru aktif dan dinamis yang mampu memposisikan pendidikan pada kedudukan tertinggi dalam pembangunan nasional. "Paradigma tersebut adalah Pendidikan sebagai Panglima Pembangunan Nasional," tandasnya. Kebijakan praksis yang diperlukan guna mendukung implementasinya adalah Paradigma Baru Pendidikan Nasional akan Menghasilkan Bangsa yang Cerdas, Kompetitif, Ulet, dan Tangguh.

Kontribusi paradigma baru tersebut antara lain menjadikan pendidikan sebagai arus utama (mainstream) dan leading sector pembangunan nasional. Praksis baru pendidikan berbasis pada kebudayaan multikultural yang bertujuan agar melahirkan sumberdaya manusia yang memiliki toleransi tinggi untuk mewujudkan tujuan nasional.

Dalam pidato yang diiringi art performance Memet Chairul Slamet dengan menampilkan ragam musik etnis itu, Yudiaryani menguraikan perubahan "paradigm, mental set, dan values' (PVM). Mengutip Janet Wolff, ia menjelaskan bahwa seni masa kini hadir karena penontonnya. Seni masa kini memungkinkan terjadinya suatu pergumulan, dan tarik-menarik secara interteks antara krearivitas seniman dan resepsi penonton, serta ketegangan terus-menerus antara nilai kedaerahan, nilai nasionalisme, dan nilai internasionalisme untuk membentuk nilai-nilai kebangsaan Indonesia. “Pergeseran paradigma tampilan seni mampu menjadi inspirasi bagi kehadiran penciptaan karya seni berperspektif kebangsaan,” jelasnya.


Yudiaryani didampingi Memet Chairul Slamet | Foto : Wahjudi

Pada bagian lain dari pidato setebal 30 halaman itu, perempuan cantik kelahiran 30 Juni 1956 di Jakarta ini menguraikan ruang lingkup pendidikan yang menggunakan paradigma baru. Pertama, memberi peran peserta didik untuk mengembangkan potensi dan krearifitasnya. Kedua, penghormatan pada nilai budaya luhur tradisi bermanfaat sebagai cermin bagaimana manusia memperbaiki diri dan hidupnya. Ketiga, pergeseran paradigma tentang keberadaan peserta didik dari puncak keberhasilan individual menuju pribadi yang terintegrasi dengan lingkungan sosio kulturalnya. Keempat, pergeseran paradigma dengan mengikutsertakan konsep pendidikan seni yang progresif dan visioner.

Terkait Azwar AN, Yudiaryani menyebut sebagai sosok kreatif yang tidak akan berhenti pada satu ‘terminal’. Pada saat jalan pikiran dan kehendaknya tidak sejalan dengan pemikiran dan sikap Rendra, maka ia dengan berani menyatakan keluar dari Bengkel Teater. Saat itu, tulis Yudiaryani pada pengantar buku ‘Azwar AN Manusia Teater’, menjadi titik tolak bagi sikapnya yang konsekuen, mandiri, penuh ide dan strategi. Seolah Azwar AN berkejaran dengan waktu dan tanpa lelah ‘menggedor’ Yogyakarta, juga Jakarta dan kota-kota lain, dengan beragam pertunjukan.

(Udi)

 

 

 

 


share on: