Yogyapos.com (YOGYA) - Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Prof Dr Edy Suandi Hamid mengaku jiwa kemahasiswaan masih terus melekat dalam benaknya, dan selalu merasa masih sebagai aktivis mahasiswa sampai deti kini.
“Saya aktivis mahasiswa dan menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, 1983. Sampai detik (jiwa) saya masih seorang aktivis. Darah saya tetap aktivis,” kata Edy, saat pidato pelantikan Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UWM 2021-2022, Kamis (23/12/2021).
Karena jiwanya tetap sebagai aktivis, profesor ekonomi pembangunan tersebut mengaku selalu meluangkan waktu untuk menghadiri acara kemahasiswaan yang diselenggarakan oleh para aktivis mahasiswa.
“Saya selalu bersemangat ketika diminta bicara di depan aktivis mahasiswa. Kalau diundan gmereka, saya selalu mengalokasikan waktu untuk datang,” ujar dia. Ikut mendampingi dalam pelantikan tersebut Wakil Rektor III UWM Puji Qomariyah SSos MSi.
Aktivis atau memimpin organisasi kampus merupakan modal menjadi pemimpin besar masa depan. Situasidemikian dialaminya oleh pria kelahiran Muara Enim, Sumsel 1957. “Saya ini tidak pernah lulus nilai tertinggi (cumlaude), tetapi saya memimpin orang-orang hebat, yang lulus dengan nilai tertingi (cumlaude). Itu karena saya aktivis mahasiswa,” ujarnya.
Ketika menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia (2006-2010 dan 2010-2014), memimpin sekitar 1000an dosen alumni dari seluruh perguruan tinggi di dunia. Ada alumni Amerika, Inggris, Jerman, Australia.
“Mereka lulus cumlaude menjadi anak buah saya yang lulus tidak cumlaude. Itu terjadi karena pengalaman saya sebagai aktivis mahasiswa yang pernah saya jalankan selama masa kuliah,” ujar dia.
Agar aktivis menjadi pemimpin masa depan, menurut Prof EdySuandi Hamid, jangan sekedar bangga berlabel pengurus organisasi kemahasiswaan. Terdapat sikap dan etika nilai-nilai yang perlu dihayati. Misalnya sikap disiplin. Aktivis mahasiswa itu bukan bebas apa saja dant idak disiplin waktu.
Saya ingin menyampaikan mahasiswa harus menjadi aktivis yang sesungguhnya, yang prima, yang tidak hanya dilantik jadi pengurus. Disiplin waktu dan belajar berargumen, tidak asal bicara, itu bagian dari proses menjadi pemimpin masa depan,” pesannya.
Ketika tahap aktivis dilalui, itu gerbang pertama untuk melangkah ke tahap aktivitas berikutnya. Saat lulus kuliah, alumni mana pun dituntut untuk berkarir. Jalani karier dari level rendah sampai level tinggi harus dijalani sesuai proses yang berlaku di instansi tempat berkarir.
“Awalnya karier saya sebagai dosen, itu saya jalani dari bawah. Saya menunjukkan gagasan-gagasan saya, lalu orang melihat bagaimana kualitas saya memimpin. Kemudian pimpinan kampus mulai memilih saya menjadi kepala lembaga, naik lagi menjadi ketua program studi, dekan, sampai akhirnya menjadi rektor,” katanya.
Menurutnya, saat pemimpin bisa menunjukkan kemampuan kepemimpinannya, maka mandat kepemimpinan berikutnya sudah menunggu. Walaupun menjadi rektor PTS (UII), pada saat yang sama bisa menjadi Ketua Forum Rektor Indonesia (2008-2009). Jabatan ini sebelumnya dipimpin oleh para rektor PTN seperti rektor ITB, UGM. Kemudian menjadi Ketua ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) 2009-2018, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (2011-2015).
“Jabatan itu semua berasal dari modal saya menjadi aktivis mahasiswa. Maka saya pesan kepada para aktivis mahasiswa, kamu adalah pemimpin. Jadilah aktivis yang baik, pemimpin mahasiswa yang baik karena kalian calon pemimpin masa depan,” ujar dia.(*)
