Perupa Supantono, Pasca Retrospeksi Melanglang Asean

share on:

Perupa Supantono tiada henti berkreasi. Produktivitasnya terbilang terjaga. Setelah setahun lalu memamerkan karya-karyanya bertajuk Restrospeksi Pengembaraan#2

di Sky Lounge Lantai 5, Gallery Prawirotaman Hotel, Yogya, ia terbang ke beberapa negara tetangga. Diantaranya terakhir Thailand, pada 12 Februari 2018.

“Itu event Art and Culture Festival di Arts For Life Center 2 Thailand,” tuturnya.

Selama hampir seminggu di Thailand, Supantono melakukan berbagai kegiatan pameran yang diisi seminar, presentasi hingga demo melukis di sebuah pantai. Selebihnya jalan-jalan menikmati panorama, sembari sesekali membaca.

Menurut dia, pemerintah Thailand memberikan penghargaan terhadap seni dan senimannya lumayan baik. Sehingga masyarakatnya pun memiliki apresiasi yang baik pula.

Sementara sejumlah karya yang dipamerkannya di sana hampir merupakan karya-karya baru pasca pameran ‘Restrospeksi’ 2017. Meski demikian tetap mengusung tema atas pemahamannya melihat masa lalu, untuk kemudian kian mendedahkan momen-momen inspiratif kekinian. Satu hal dari konsep atau metode pengembaraan demikian adalah tidak terputusnya alur perjalanan kreatif, termasuk dinamika teknis yang dilakukannya.

Supantono sangat kentara mengguratkan prinsip-prinsip kehidupan yang selama ini dititahkannya oleh lingkungan keluarga maupun masyarakat terdekat tanpa kehilangan gairah mencauk dinamika di luarnya. Jawa bukan berarti anti Barat, tetapi sekaligus tidak saling melenyapkan. “Saya tidak ingin dikotomis Jawa dan Barat. Tapi ingin berjalan bersama, tumbuh dan berkembang, jika perlu saling melengkapi,” tukasnya.

Dari sikap seperti itulah hampir semua lukisannya mencitrakan perpaduan yang harmonis. Garis-garis, guratan, cipratan maupun cecek

yang memenuhi kanvasnya sanggup membangun perpaduan harmonis dan terkadang ‘nakal’ saling menyentil. Konstruk keseluruhan gambar di atas kanvas itu tak bisa dipungkiri sebagai ‘perkawinan’ dekoratif-abstrak yang cukup memukau.

“Dan ternyata masyarakat seni di Thailand merespon positif. Bagi saya ini sesuatu yang luar biasa. Semacam ada benang merah kegelisahan menggali inspirasi dari masa lalu yakni budaya adiluhung leluhur kita,” pungkas pelukis yang sejak beberapa tahu resmi mengajukan pensiun dini sebagai guru SMSR Yogyakarta. 

Ia kini benar-benar total melukis dan menjajagi pameran demi pameran. Bahkan dalam waktu dekat akan pameran tunggal di sebuah galey di Jakarta.
(Inu)


share on: