Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Pembelajaran dengan Video Conference

share on:
Ari Madyatun SS || YP-Istn

BERDASARKAN Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 53 Tahun 2021 tentang perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) karena pandemi Covid-19, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah turun ke level 2. Seiring dengan penurunan level PPKM, Pemda membuat aturan baru dalam penerapan kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Semua sekolah di DIY diizinkan untuk melakukan uji coba PTM terbatas.

Uji coba PTM terbatas oleh sekolah dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat. Selain kapasitas kelas yang dibatasi maksimal 50 persen, durasi jam belajar juga hanya sekitar tiga jam untuk beberapa mata pelajaran. Kehadiran siswa diatur sedemikian rupa oleh sekolah secara bergiliran atau bergantian agar PTM tetap terlaksana dengan tidak melanggar aturan Inmendagri maupun Ingub (Instruksi Gubernur). Karena pembelajaran tatap muka di sekolah (luring) tidak mungkin diikuti oleh semua siswa setiap hari maka pembelajaran dalam jaringan (daring) masih tetap dilaksanakan.

Sebelum dibukanya kembali PTM, kebijakan pembelajaran secara daring telahdi berlakukan selama setahun lebih. Berbagai strategi dan metode pembelajaran dilaksanakan oleh guru selama pembelajaran daring. Interaksi dalam pembelajaran antara guru dengan siswa dilakukan dengan memanfaatkan berbagai platform  pembelajaran jarak jauh yang tersedia baik yang direkomendasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui SuratEdaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 maupun platform lainnya. Keberadaan berbagai platform pembelajaran jarak jauh membuat aktivitas komunikasi antara guru dan siswa menjadi variatif.

Salah satu interaksi menarik dalam pembelajaran daring dilakukan melalui video conference, sebuah inovasi teknologi komunikasi yang memungkinkan dua pihak atau lebih bertatap muka melalui sambungan video meskipun berada pada lokasi yang berbeda. Penggunaan video conference yang terkoneksi internet memungkinkan komunikasi antara guru dansiswa  bersifat dua arah pada waktu yang sama sehingga pembelajaran benar-benar bersifat interaktif. Ada beberapa aplikasi video conference yang sering digunakan dalam pembelajaran dan bahkan ada yang bisa diakses dengan kuota belajar, seperti google meet, zoom, cisco webex, dan microsoft teams.

Video conference efektif untuk pembelajaran dengan metode diskusi dan presentasi. Keberhasilan pembelajaran jarak jauh melaluivideo conference ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi yang baikantara guru dansiswa. Jika dikaitkan dengan keterampilan berbahasa maka kompetensi yang paling dominan ditampilkan adalah berbicara. Bukan bermaksud menihilkan keterampilan berbahasa yang lain namun membaca, menulis, dan menyimak memang tidak terlihat dominan dalam video conference. Jika bukan interaksi melalui aktivitas berbicara yang diharapkan, mungkin guru akan memilih menggunakan platform lain.

Melalui pembelajaran dengan video conference, diharapkan keterampilan berbicara siswa semakin baik. Keterampilan berbicara merupakan kegiatan berkomunikasi yang bersifat aktif dan produktif, bertujuan untuk menyampaikan gagasan, ide, dan perasaan melalui bahasa lisan, baik satu arah maupun dua arah. Berdasarkan hasil survei sederhana mengenai keterampilan berbicara dan pembelajaran dengan video conference melalui google formulir yang direspons oleh 107siswa kelas X jenjang SMK diperoleh data sebagai berikut.

Semenjak mengikuti pembelajaran daring padaawal semester satu yaitu pada bulan Juli sampai pada bulan September 2021 yang menyatakan pernah mengikuti pembelajaran dengan video conference kurang dari lima kali sejumlah 3 siswa (2,8%), antara lima sampai 10 kali sejumlah 89 siswa (83,2%), dan lebih dari sepuluh kali sejumlah 12 siswa (11,2%). Menjawab pertanyaan tentang intensitas berbicara dalam pembelajaran melalui video conference diperoleh data bahwa 22 siswa (20,6%) berbicara tanpa ditunjuk guru saat ada kesempatan, 56 siswa (52,3%) berbicara jika ditunjuk atau disebut oleh guru, dan 7 siswa (6,5%) menyatakan tidak pernah berbicara. Selanjutnya ditanyakan tentang kepercayaan diri atau keberanian berbicara diperoleh data sejumlah 12 siswa (11,2%) lebih percaya diri berbicara langsung di depan kelas, 66 siswa (61,7%) lebih percaya diri berbicara saat video conference, dan 17 siswa (15,9%) menyatakan sama saja saat berbicara langsung di kelas maupun dalam video conference. Jawaban pertanyaan terakhir sebanyak 107 siswa (100%) menyatakan bahwa pembelajaran dengan video conference dapat melatih keterampilan berbicara.

Berdasarkan data hasil survei tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran jarak jauh secara interaktif melalui video conference dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk melatih kemampuan dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam meningkatkan keterampilan berbicara. Oleh karena itu, selama masih diberlakukan PTM terbatas yang menerapkan blended l

earning, selainin teraksi tatap muka di dalam kelas dalam pembelajaran luring, video conference merupakan salah satu alternatif untuk pembelajaran daring yang interaktif dan efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. (Ari Madyatun SS, Guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 5 Yogyakarta)


share on: