Pelantikan MWC Pundong: Menjadi Pengurus Jamiyah NU Ujud Nyata Mengikuti Kiai

share on:
Jajaran pengurus MWC NU Pundong yang dilantik || YP/Markaban Anwar

Yogyapos.com (BANTUL) - Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Pundong, Bantul, menyelenggarakan Pengajian dan Pembacaan Sholawat Nabi sekaligus Pelantikan Pengurus Anak Ranting Nahdlotul Ulama (PAR NU) se-Desa Srihardono, Sabtu (25/1/2020).

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Husna Dusun Tangkil, Desa Srihardono, Pundong, Bantul ini berlangsung khidmat, di hadiri ratusan jama'ah.

Ketua Tanfidziyah Ranting Srihardono, Suryanto Lc mengungkapkan,  ada 14 Pengurus Anak Ranting NU se-desa Srihardono dilantik oleh Mustafied Amna MH selaku Ketua MWC Pundong.

“Kegiatan ini sebagai upaya kaderisasi jam'iyah Nahdlotul Ulama. Semakin banyak kader yang masuk dalam pengurus jam'iyah NU tentu akan semakin bagus dalam menjalankan semarak kegiatan dan program-program NU wilayah Pundong,” ujar Suryanto.

Sementara usai pelantikan dilanjutkan pengajian yang akan disampaikan oleh Ustad Miftahul Khoiri dan KH Damanhuri (Rois Syuriah PCNU Bantul)."

Ustad Miftahul Khoiri yang akrab disapa Gus Miko Cakcoy Pathoknegoro dalam ceramahnya yang luwes dan penuh canda menyampaikan,  menyatakan setiap manusia pasti akan menghadapai kematian.  Ada manusia yang telah meninggal dunia namun terasa masih hidup hingga sekarang. Manusia seperti apakah itu? Yakni manusia yang semasa hidupnya senantiasa ‘berjuang’. “Contohnya, Bung Karno, proklamator kemerdekaan Indonesia, meski telah meninggal dunia sejak 1970, namun hingga sekarang seperti masih hidup dikarenakan dalam masa hidupnya senantiasa berjuang untuk kebaikan bangsa,” katanya.

Dalam sejarah, papar Miftakhul Khoiri,  diceritakan Bung Karno dan KH Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) adalah tokoh penting dalam babak-babak awal pendirian bangsa Indonesia. Ada Piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pancasila. Bung Karno memang telah lama meninggal, namun kisah kehidupan juga ide-ide Bung Karno sampai saat ini masih dibicarakan banyak orang, buku-buku Bung Karno masih terus dikupas dan diskusikan.

 

Sedangkan KH Damanhuri sebagai penceramah pamungkas menyampaikan, sejarah Indonesia dibentuk dan berdiri hingga sekarang tidak bisa lepas dari peran dari perjuangan para ulama, baik peran gerakan fisik angkat senjata berperang melawan Belanda, maupun gerakan diplomasi melalui organisasi-organisasi yang didirikan para ulama.

“Bulan Januari ini adalah bulan NU, kita patut mengingat bahwa jam’iyah Nahdlatul Ulama yang didirikan pada 31 Januari 1926 oleh almaghfullah KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan para kiai lainnya, memiliki peran penting dalam perjuangan melawan kolonial. Sejarah Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan itu tidak lepas dari peran para ulama dan kiai.

Melalui resolusi jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 dapat mengobarkan semangat perjuangan para rakyat dalam menghadapi Pasukan Sekutu--Inggris dan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Kobaran semangat jihad mampu mengelorakan rakyat untuk berjuang angkat senjata mampu mengalahkan pasukan Sekutu Inggris-Belanda. Sejarah telah mencatat bahwa pertempuran Surabaya adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan. Bisa dibayangkan pada saat itu, kemerdekaan bangsa baru beberapa bulan diproklamirkan, kesatuan tentara Indonesia belum terbentuk. Dan yang melawan Belanda saat itu adalah rakyat dan para santri.

“Maka sungguh pantas ada Hari Santri, kaum santri yang berjuang melawan Pasukan Sekutu tahun 1945 merupakan representasi rakyat dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa Indonesia menegakkan kemerdekaan,” tuturnya.

Kiai Damanhuri memberikan nasihat kepada warga nahdliyin terutama kepada para Pengurus Anak Ranting yang baru saja dibentuk dan dilantik untuk senantiasa mengikuti ‘dawuhipun’--perkataan nasehat para kiai. Menjadi pengurus NU adalah salah satu pelaksanaan nyata mengikuti para kiai. Untuk itu setiap pengurus harus berjuang sesuai kemampuan dan senantiasa istiqomah dalam berkhidmat terhadap jam’iyah Nahdlotul Ulama.

Acara yang dimulai sejak pukul 20.30 tersebut berakhir pada 24.00Wib. Selain dihadiri oleh ratusan jama’ah nahdliyin, acara pengajian ini juga dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Bantul  Dr H Riyanto, Camat Pundong Kapolsek Pundong, Perwakilan Koramil Pundong, Lurah Srihardono, juga seluruh jajaran Pengurus MWC Pundong, pengurus Ansor-Fatayat, Banser, dan Banom-banom lainya se-wilayah Kecamatan Pundong. (Markaban Anwar)

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Pundong, Bantul, menyelenggarakan Pengajian dan Pembacaan Sholawat Nabi sekaligus Pelantikan Pengurus Anak Ranting Nahdlotul Ulama (PAR NU) se-Desa Srihardono, Sabtu (25/1/2020).

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Husna Dusun Tangkil, Desa Srihardono, Pundong, Bantul ini berlangsung khidmat, di hadiri ratusan jama'ah.

Ketua Tanfidziyah Ranting Srihardono, Suryanto Lc mengungkapkan,  ada 14 Pengurus Anak Ranting NU se-desa Srihardono dilantik oleh Mustafied Amna MH selaku Ketua MWC Pundong.

“Kegiatan ini sebagai upaya kaderisasi jam'iyah Nahdlotul Ulama. Semakin banyak kader yang masuk dalam pengurus jam'iyah NU tentu akan semakin bagus dalam menjalankan semarak kegiatan dan program-program NU wilayah Pundong,” ujar Suryanto.

Sementara usai pelantikan dilanjutkan pengajian yang akan disampaikan oleh Ustad Miftahul Khoiri dan KH Damanhuri (Rois Syuriah PCNU Bantul)."

Ustad Miftahul Khoiri yang akrab disapa Gus Miko Cakcoy Pathoknegoro dalam ceramahnya yang luwes dan penuh canda menyampaikan,  menyatakan setiap manusia pasti akan menghadapai kematian.  Ada manusia yang telah meninggal dunia namun terasa masih hidup hingga sekarang. Manusia seperti apakah itu? Yakni manusia yang semasa hidupnya senantiasa ‘berjuang’. “Contohnya, Bung Karno, proklamator kemerdekaan Indonesia, meski telah meninggal dunia sejak 1970, namun hingga sekarang seperti masih hidup dikarenakan dalam masa hidupnya senantiasa berjuang untuk kebaikan bangsa,” katanya.

Dalam sejarah, papar Miftakhul Khoiri,  diceritakan Bung Karno dan KH Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) adalah tokoh penting dalam babak-babak awal pendirian bangsa Indonesia. Ada Piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pancasila. Bung Karno memang telah lama meninggal, namun kisah kehidupan juga ide-ide Bung Karno sampai saat ini masih dibicarakan banyak orang, buku-buku Bung Karno masih terus dikupas dan diskusikan.

 

Sedangkan KH Damanhuri sebagai penceramah pamungkas menyampaikan, sejarah Indonesia dibentuk dan berdiri hingga sekarang tidak bisa lepas dari peran dari perjuangan para ulama, baik peran gerakan fisik angkat senjata berperang melawan Belanda, maupun gerakan diplomasi melalui organisasi-organisasi yang didirikan para ulama.

“Bulan Januari ini adalah bulan NU, kita patut mengingat bahwa jam’iyah Nahdlatul Ulama yang didirikan pada 31 Januari 1926 oleh almaghfullah KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan para kiai lainnya, memiliki peran penting dalam perjuangan melawan kolonial. Sejarah Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan itu tidak lepas dari peran para ulama dan kiai.

Melalui resolusi jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 dapat mengobarkan semangat perjuangan para rakyat dalam menghadapi Pasukan Sekutu--Inggris dan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Kobaran semangat jihad mampu mengelorakan rakyat untuk berjuang angkat senjata mampu mengalahkan pasukan Sekutu Inggris-Belanda. Sejarah telah mencatat bahwa pertempuran Surabaya adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan. Bisa dibayangkan pada saat itu, kemerdekaan bangsa baru beberapa bulan diproklamirkan, kesatuan tentara Indonesia belum terbentuk. Dan yang melawan Belanda saat itu adalah rakyat dan para santri.

“Maka sungguh pantas ada Hari Santri, kaum santri yang berjuang melawan Pasukan Sekutu tahun 1945 merupakan representasi rakyat dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa Indonesia menegakkan kemerdekaan,” tuturnya.

Kiai Damanhuri memberikan nasihat kepada warga nahdliyin terutama kepada para Pengurus Anak Ranting yang baru saja dibentuk dan dilantik untuk senantiasa mengikuti ‘dawuhipun’--perkataan nasehat para kiai. Menjadi pengurus NU adalah salah satu pelaksanaan nyata mengikuti para kiai. Untuk itu setiap pengurus harus berjuang sesuai kemampuan dan senantiasa istiqomah dalam berkhidmat terhadap jam’iyah Nahdlotul Ulama.

Acara yang dimulai sejak pukul 20.30 tersebut berakhir pada 24.00Wib. Selain dihadiri oleh ratusan jama’ah nahdliyin, acara pengajian ini juga dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Bantul  Dr H Riyanto, Camat Pundong Kapolsek Pundong, Perwakilan Koramil Pundong, Lurah Srihardono, juga seluruh jajaran Pengurus MWC Pundong, pengurus Ansor-Fatayat, Banser, dan Banom-banom lainya se-wilayah Kecamatan Pundong. (Markaban Anwar)

Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kecamatan Pundong, Bantul, menyelenggarakan Pengajian dan Pembacaan Sholawat Nabi sekaligus Pelantikan Pengurus Anak Ranting Nahdlotul Ulama (PAR NU) se-Desa Srihardono, Sabtu (25/1/2020).

Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Husna Dusun Tangkil, Desa Srihardono, Pundong, Bantul ini berlangsung khidmat, di hadiri ratusan jama'ah.

Ketua Tanfidziyah Ranting Srihardono, Suryanto Lc mengungkapkan,  ada 14 Pengurus Anak Ranting NU se-desa Srihardono dilantik oleh Mustafied Amna MH selaku Ketua MWC Pundong.

“Kegiatan ini sebagai upaya kaderisasi jam'iyah Nahdlotul Ulama. Semakin banyak kader yang masuk dalam pengurus jam'iyah NU tentu akan semakin bagus dalam menjalankan semarak kegiatan dan program-program NU wilayah Pundong,” ujar Suryanto.

Sementara usai pelantikan dilanjutkan pengajian yang akan disampaikan oleh Ustad Miftahul Khoiri dan KH Damanhuri (Rois Syuriah PCNU Bantul)."

Ustad Miftahul Khoiri yang akrab disapa Gus Miko Cakcoy Pathoknegoro dalam ceramahnya yang luwes dan penuh canda menyampaikan,  menyatakan setiap manusia pasti akan menghadapai kematian.  Ada manusia yang telah meninggal dunia namun terasa masih hidup hingga sekarang. Manusia seperti apakah itu? Yakni manusia yang semasa hidupnya senantiasa ‘berjuang’. “Contohnya, Bung Karno, proklamator kemerdekaan Indonesia, meski telah meninggal dunia sejak 1970, namun hingga sekarang seperti masih hidup dikarenakan dalam masa hidupnya senantiasa berjuang untuk kebaikan bangsa,” katanya.

Dalam sejarah, papar Miftakhul Khoiri,  diceritakan Bung Karno dan KH Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur) adalah tokoh penting dalam babak-babak awal pendirian bangsa Indonesia. Ada Piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pancasila. Bung Karno memang telah lama meninggal, namun kisah kehidupan juga ide-ide Bung Karno sampai saat ini masih dibicarakan banyak orang, buku-buku Bung Karno masih terus dikupas dan diskusikan.

 

Sedangkan KH Damanhuri sebagai penceramah pamungkas menyampaikan, sejarah Indonesia dibentuk dan berdiri hingga sekarang tidak bisa lepas dari peran dari perjuangan para ulama, baik peran gerakan fisik angkat senjata berperang melawan Belanda, maupun gerakan diplomasi melalui organisasi-organisasi yang didirikan para ulama.

“Bulan Januari ini adalah bulan NU, kita patut mengingat bahwa jam’iyah Nahdlatul Ulama yang didirikan pada 31 Januari 1926 oleh almaghfullah KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan para kiai lainnya, memiliki peran penting dalam perjuangan melawan kolonial. Sejarah Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan itu tidak lepas dari peran para ulama dan kiai.

Melalui resolusi jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 dapat mengobarkan semangat perjuangan para rakyat dalam menghadapi Pasukan Sekutu--Inggris dan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Kobaran semangat jihad mampu mengelorakan rakyat untuk berjuang angkat senjata mampu mengalahkan pasukan Sekutu Inggris-Belanda. Sejarah telah mencatat bahwa pertempuran Surabaya adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan. Bisa dibayangkan pada saat itu, kemerdekaan bangsa baru beberapa bulan diproklamirkan, kesatuan tentara Indonesia belum terbentuk. Dan yang melawan Belanda saat itu adalah rakyat dan para santri.

“Maka sungguh pantas ada Hari Santri, kaum santri yang berjuang melawan Pasukan Sekutu tahun 1945 merupakan representasi rakyat dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa Indonesia menegakkan kemerdekaan,” tuturnya.

Kiai Damanhuri memberikan nasihat kepada warga nahdliyin terutama kepada para Pengurus Anak Ranting yang baru saja dibentuk dan dilantik untuk senantiasa mengikuti ‘dawuhipun’--perkataan nasehat para kiai. Menjadi pengurus NU adalah salah satu pelaksanaan nyata mengikuti para kiai. Untuk itu setiap pengurus harus berjuang sesuai kemampuan dan senantiasa istiqomah dalam berkhidmat terhadap jam’iyah Nahdlotul Ulama.

Acara yang dimulai sejak pukul 20.30 tersebut berakhir pada 24.00Wib. Selain dihadiri oleh ratusan jama’ah nahdliyin, acara pengajian ini juga dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Bantul  Dr H Riyanto, Camat Pundong Kapolsek Pundong, Perwakilan Koramil Pundong, Lurah Srihardono, juga seluruh jajaran Pengurus MWC Pundong, pengurus Ansor-Fatayat, Banser, dan Banom-banom lainya se-wilayah Kecamatan Pundong. (Markaban Anwar)

 


share on: