Pelantikan BEM Nusantara Dilanjut Seminar Pencegahan Terorisme

share on:
Suasana pelantikan BEM Nusantara || YP-ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara DIY dilantik pada Kamis (1/4/2021) di Hotel Inna Garuda Jl. Malioboro Yogyakarta. Bersamaan acara tersebut digelar pula Seminar Nasional dengan tema ‘Peran Milenial Sebagai Agen Pencegah Berkembangnya Faham Radikal dan Terorisme’, diikuti  oleh 60 peserta dari berbagai delegasi kampus di DIY.

“Berdasarkan tema ini, topik bahasannya adalah upaya pencegahan terhadap faham radikal terutama di kalangan mahasiswa yang dapat merusak kebinekaan dan kesatuan Republik Indonesia. Tujuan acara ini adalah mensosialisikan dan mengedukasikan kepada mahasiswa bahwa kewaspadaan kita dalam memperhatikan berkembangnya faham radikalisme dan terorisme yang sudah mulai menyebar,” terang Koordinator BEM Nusantara DIY, Achmad Mubarok dalam rillis yang diterima yogyapos.com, Senin (5/4/2021).

Menurut dia, seminar diisi sejumah narasumber, diantaranya KP Mayndra  E Wardan perwakilan dari Mabes Polri yang bertugas di Densus 88 yang menyampaikan materi dan pesan  agar para Mahasiswa jangan mudah terbawa opini yang menyesatkan.

“Pembicara kedua adalah Mukhtar Khairi sebagai pengamat Radikalisme dan Terorisme. Bisa di bilang beliau merupakan salah satu mantan pelaku Radikalisme pada saat itu. Beliau bercerita bahwa para pelaku Radikalisme menganut paham JAD (jamaah absolute daulah) yang mana dalam kehidupan sehari-hari mereka mengelabuhi masyarakat maupun aparat dengan berganti-ganti nama di setiap daerah,” ujarnya.

Ahmad Mubarok melanjutkan pernyataan Mukhtar Khairi bahwa Radikalisme atau Ekstrimisme itu ada dua jenis yaitu secara fisik dan secara ideologi. Radikal secara fisik itu seperti pengeboman, perampasan maupun pembunuhan tetapi Ekstrimisme secara ideologi imbasnya justru lebih bahaya karena dengan cara mendoktrin saudara atau orang lain. Kekerasan terjadi karena dipicu pemahaman yang keliru dan menyesatkan.

Pembicara ketiga adalah Islah Bahrawi, beliau sebagai Direktur SMN, konsultan Bidang Radikalisme dan Terorisme. “Cari ustad baru jangan agama baru” kata beliau sebelum menutup pembicaraannya. Maksud dari kata itu adalah apabila dalam agama terutama agama islam kita di ajarkan dengan ajaran yang salah, menyimpang, menyesatkan dan radikal sebaiknya kita pergi menjauh dari forum tersebut, jangan keluar dari agama islamnya. Karena sejatinya agama apapun itu mengajarkan kebaikan dan perdamaian.

Ketiga pembicara membawakan materi yang sangat menarik dan pastinya banyak manfaat yang dapat diambil oleh mahasiswa. Mereka juga mengapresiasi dengan diadakannya acara Seminar Nasional yang membahas tentang Faham Radikalisme dan Terorisme ini sebagai upaya pencegahan keutuhan NKRI. Sehingga para mahasiswa yang hadir juga berantusias dalam mengikuti acara sampai selesai.

Terkait aksi terorisme, BEM Nusantara menyatakan 3 poin pernyataan sikap, diantaranya mengancam segala bentuk tindakan Terorisme dan Radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI, mendesak aparat (POLRI) untuk tuntaskan kasus Terorisme dan Radikalisme di Indonesia dan  mengajak seluruh elemen masarakat untk menjaga keutuhan NKRI. (*/Eko Purwono)

 

 

 


share on: