Pelaksanaan ANBK Berakhir, Forpi Yogya Merekomendasi Penambahan Guru Pendamping

share on:
Suasana pelaksanaan ANBK di SMPN 4 Yogya, Kamis (7/10/2020) || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sesuai dengan jadwal bahwa pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) bagi 45 siswa utama ditambah 5 siswa cadangan kelas VIII setiap Sekolah Menengah Pertama/MTS di Kota Yogyakarta sejak 4 Oktober lalu berakhir hari ini, Kamis (7/10/2021).

Di Kota Yogyakarta sebanyak 2.269 siswa jenjang SMP dan MTS kelas VIII mengikuti ANBK. Di mana, setiap siswa mengerjakan tiga jenis Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang terdiri dari kompetensi numerasi dan literasi serta ditambah survei karakter dan survei lingkungan belajar (sekolah).

Pada hari terakhir pelaksanaan ANBK, Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta turut melakukan pemantauan di SMPN 4 Kota Yogyakarta. Dari hasil pemantauan di sekolah ini terdapat ada satu siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang mengikuti ANBK. Total ABK ada 14 siswa dengan rincian kelas VII ada 8 siswa, kelas VIII ada 4 siswa dan kelas IX  ada 2 siswa dengan Guru Pendamping Khusus (GPK) ada 1 orang. Rata-rata ABK mengalami slow leaner. 

“Di SMPN 4 Kota Yogyakarta pelaksanaan vaksinasi bagi seluruh siswa telah mencapai 90,7%,” ujar Baharuddin Kamba dari Forpi Yogya.  

Secara umum, katanya, pelaksanaan ANBK yang berlangsung 4 hari berjalan dengan lancar. Kepatuhan dan kedisiplinan terkait dengan protokol kesehatan (prokes) telah berjalan dengan baik. Harapannya konsistensi dan komitmen dari semua pihak termasuk orangtua tetap menjaga prokol kesehatan. Begitupun bagi siswa yang memenuhi syarat untuk dilakukan vaksinasi namun belum diijinkan oleh orangtua, maka perlu ada edukasi tanpa paksaan tentang pentingnya vaksinasi bagi pelajar.

Forpi Kota Yogyakarta berharap untuk ketersediaan Guru Pendamping Khusus (GPK) yang disediakan oleh Unit Layanan Disabilitas (ULD) Pemerintah Kota Yogyakarta haruslah sebanding dengan jumlah ABK yang ada di sekolah. Tentunya juga sesuai dengan kealihan dan kebutuhan.

Misalnya, satu orang Guru Pendamping Khusus dapat mengampu dua ABK. Bukan satu GPK mengampu sembilan ABK. Ini tentunya dapat memberatkan bagi GPK. Itu kalau kita bicara soal idealnya. (*)

 


share on: