Pedagang Kuliner Pasar Imogiri Bertahan dengan Menu Tradisional

share on:
Suasana warung kuliner Pasar Imogiri || YP-Supardi

BANYAK tempat kuliner di Bantul. Misalnya bubur sambel dan pecel Panjimatan Imogiri. Namun juga ada kuliner yang sejak puluhan tahun dan hingga kini masih beratahan yaitu ‘warungan’ (kulineran) Pasar imogiri. Keberadaannya menempati los pasar di sebelah utara. 

Puluhan pedagang tersebut mulai membuka lapak dagangannya sejak tahun 1968 bertempat di pasar lama Imogiri. Seiring berjalan waktu, pada 2008 pasar itu pindah ke sebelah barat laut, para pedagang pun secara otomatis juga ikut pindah ke pasar yang baru dan hingga kini masih aktif berjualan dan menjadi jujukan banyak pembelinya. 

Salah satu ciri khas para pedagang kuliner disana dilakukan secara turun tunurun. Hingga kini sebagian pedagang juga sudah berusia 75 tahun lebih. Para pedagang yang sudah berusia lanjut namun masih giat bekerja menyajikan kuliner khasnya. Mereka tak beranjak dari makanan tradisional. Dua orang diantaranya Tujiyah dan Somo W. 

“Memang menu daharan dan unjukan (makannan dan minuman) yang ada disajikandi pasar ini bisa dibilang khusus. Setiap pedagang menyajikan menu khasnya, misal nasi lodeh kacang panjang, jipang dan yang lainnya. Bahkan ada yang menyediakan sayur lompong atau tales,” kata Tujiyah.

Sedangkan berbagai menu makanan yang ada misal tahu tempe bacam, keripik tempe alot, ketak, pisang goreng dan yang lainnya. Demikian pula minuman yang khas yakni wedang teh gula batu (poci). Setiap satu porsinya wedang jumlah gula batunya relatif banyak. 

“Kini harga minuman berupa teh gula batu Rp 3.000 hingga Rp 4.000. Nasi lodeh Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per porsi,” jelasnya. 

Sedangkan khusus menu supermie yang disajikan di warung warung ini dimasak secara khusus yaitu ditambahi bumbu tradisonal dan sayuran. “Maka rasanya khas meski harganya Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per porsi,” kata Mbah Somo. 

Lantas siapa saja pelanggannya? Mbah Sumo maupun Tujiyah menyatakan sejak dulu hingga kini para konsumennya adalah wisatawan. Selain itu juga warga Yogyakarta dan Bantul yang memang sengaja datang karena hobi makanan tradisional. Mereka makan sambil ngobrol bersama rombongan berjumlah 3-5 orang. (Supardi)

 


share on: