Pameran Keluarga Nusantara, Supantono Hadirkan Isu Kebersamaan Musyawarah

share on:
Supantono dan karya yang ikut dipamerkan | YP/Met

Yogyapos.com (YOGYA) - Pameran seni rupa yang bertajuk 'Keluarga Nusantara' yang diikuti sekitar 80 peserta telah resmi dibuka oleh Yani Saptohoedojo pecinta seni dan sekaligus isteri almarhum pematung Saptohoedojo, di Jogja Gallery, Sabtu (12/1/2019) malam. Pembukaan ditandai penggoresan cat akrilik di atas kanvas dan dilanjutkan dengan pembuatan warna, garis dan bentuk oleh para perupa yang hadir. Rencananya pameran kali ini akan berlangsung hingga 21 Januari 2019.

Pantauan yogyapos.com, diantara sekian banyak perupa itu terdapat sosok pelukis yang tidak asing bagi kita, yakni Supantono Suwarno mengikutkan karyanya. Ia sudah berpameran tunggal sebanyak 14 kali dan 98 kali pameran secara bersama baik di dalam dan luar negeri. Terakhir Supantono Suwarno, berpameran dan workshop atas undangan dari Kerajaan Thailand bersama para perupa dari Asia, Eropa dan Amerika pada tahun 2018.

Pada pameran Seni Rupa Keluarga Nusantara saat ini, ia menampilkan karya lukisan berukuran lumayan besar 200 cm x 140 cm berbahan cat akrilik dan cat minyak di atas kanvas, yang diberi titel "Noah Ark #2".

Menurut Supantono Suwarno, lukisan itu merupakan simbol kapal kebersamaan atau kapal musyawarah menuju sebuah cita-cita kemuliaan dan kejayaan sebuah negeri yang damai, aman, sejahtera, adil dan makmur. Dan ini bisa tercapai hanya dengan kebersamaan dan tentunya harus saling menghormati, saling menghargai/toleransi, saling tolong menolong satu sama lain antar penghuni kapal kebersamaan atau kapal musyawarah tersebut dalam rangka kemaslahatan kebaikan bersama.

Ada hal yang sangat menarik dari karya tersebut jika kita tarik benang merahnya dalam tahun politik atau proses pemilu Indonesia tahun ini. Muncul pesan moral di sana yang ingin dia sampaikan lewat karya lukisannya yaitu sebuah negara diibaratkan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar dikenalikan oleh sang nahkoda. Di dalamnya terdapat beberapa kru kapal dan banyak penumpang, tentu kapal itu akan selamat sampai tujuan apabila ada kerjasama antara sang nahkoda, kru dan para penumpang harus terjalin hubungan sinergi yang baik dan saling tolong menolong satu sama lain.

Kalau ada krue atau penumpang yang berusaha melubangi geladak kapal, mesti harus ada pengingatnya agar kapal tidak tenggelam. Tetapi sebaliknya ketika terjadi pembiaran di antara penghuni kapal, saling menyalahkan dan merasa paling benar (bahkan tidak ada lagi kepercayaan di antara penghuni kapal), maka cepat atau lambat kapal itu akan tenggelam dan semua yang ada di dalamnya akan mati atau binasa.

Alhasil, lukisan Supantono Suwarno sebenarnya sekuen dengan isu pemilu dan pesta perpolitikan kali ini dimana kapal kebersamaan harus ada kepercayaan, harus ada musyawarah, harus ada rasa keadilan, harus ada rasa memiliki untuk tujuan yang dicita-citakan secara bersama. Sehingga antar penghuni kapal terjalin kebersamaan yang harmonis serta tercipta semangat kegotongroyongan untuk meraih kemakmuran dan keadilan secara bersama.

“Inspirasinya memang dari kondisi atau konstelasi politik akhir-akhir ini menjelang pemilu. Jangan sampai kita kehilangan semangat kebersamaan dan musyawarah,” ujar Supantono membenarkan.

Supantono menandaskan, dirinya tidak bisa abai begitu saja dalam menyaksikan pergulatan politik sekarang. Tapi sebagai pelukis, kondisi demikian tidak lantas menjadikannya ikut terlibat ke dalam dunia politik praktik atau aksi dukung mendukung kubu-kubu yang sedang berkompetisi. Melainkan mengendapkannya, lalu terekpresikan melalui goresan kreatif di atas kanvas. (Met)

 


share on: