PAMERAN SASTRA RUPA, DUBES DJAUHARI : Diponegoro Menginspirasi Kebangkitan Bangsa

share on:
Totok Buchori dan lukisannya di pameran Sastra Rupa | YP/Awhjudi Djaja

SOSOK Pangeran Diponegoro bukan lagi tokoh lokal dengan daya jelajah terbatas, tetapi diakui dunia sebagai pejuang dengan nilai kejuangan yang universal. Babad Diponegoro yang ditulis tangan sendiri selama pengasingan di Manado (1831-1832) telah tercatat sebagai Memory of The World UNESCO tahun 2013. Ini bukan saja membanggakan tetapi juga menginspirasi bangsa untuk bangkit.

Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun mengatakan hal itu saat membuka secara resmi Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro, di Jogja Gallery, Jumat (1/2/2019) malam.

Diponegoro bagi Oratmangun bukan sosok yang asing. Pria keturunan Ambon yang lahir di Manado ini mengakui, rumahnya dekat dengan makam Pangeran Diponegoro. "Sedari kecil saya bermain di kawasan makam beliau, sehingga secara tidak langsung merangsang saya untuk belajar sejarah" tandasnya. Alumni FE UGM ini menyatakan, dengan belajar sejarah secara benar bangsa ini bisa memasuki masa kejayaannya lagi. "Sejarah adalah inspirasi pembangunan. Kita punya tokoh-tokoh besar dengan peran yang mengagumkan" Sementara itu, Dr Mikke Susanto MA salah satu kurator, mengungkapkan pameran diikuti 51 pelukis dengan beragam karakter. Mereka menyajikan 50 kisah yang diambil dari Babad Diponegoro yang memiliki lebih dari 100 pupuh dalam 1000 halaman. “Ini akan memberi ruang kepada pelukis untuk menafsirkan sosok Diponegoro" tandas dosen ISI Yogyakarta yang baru saja menyelesaikan program doktornya.

Terkait karya lukis yang dipamerkan, Mikke memandangnya dari dua perspektif. Pertama rekonstruktif naratif realistik dimana pelukis mengikuti narasi dengan mengikuti alur dan adegan secara tekstual. Kedua dekonstruksi simbolik, dimana pelukis diberi ruang untuk merespon narasi dengan secara lebih bebas.

Ia berharap, pameran lukis ini menjadi medium yang penting dalam proses pengenalan sejarah. Lukisan menjadi salah satu perangkat yang mampu merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan peserta didik, tulisnya. Melengkapi keterangan Mikke, kurator yang lain Dr Sri Margana, M Phil menembangkan salah satu pupuh dari Babad Diponegoro.


Dubes Djauhari Oratmangun saat memberikan sambutan pembukaan pameran Sastra Rupa | YP/Wahjudi Djaja

Salah satu pelukis yang ditemui yogyapos.com, Totok Buchori, menjelaskan masing-masing pelukis diberi jatah pupuh atau cerita. "Dari pupuh itu kita menafsirkan bagaimana visualnya. Saya mendapat pupuh XX yang menceritakan kawawan Tegalrejo. Dalam sebuah samadi di Pulo Waringin, Pangeran Diponegoro didatangi delapan ulama. Dia diminta untuk menggunakan nama Sultan Abdul Hamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifah Rasulullah ing Tanah Jawi,” tandas Ketua Sanggarbambu ini. Dari pupuh itu Totok berusaha memvisualisasikannya ke dalam lukisan dimana Diponegoro dikelilingi delapan ulama dengan latar belakang Gunung Merapi.

“Memang tak mudah menerjemahkan isi pupuh ke dalam bentuk lukisan. Saya harus membayangkan Tegalrejo pada saat itu dimana sawah masih luas menghijau, terlihat Gunung Merapi. Nah, disana ada tempat namanya Pulo Waringin yang biasa dipakai Diponegoro untuk samadi. Setelah saya sket saya garap sekitar sepuluh hari, jelas Totok.

Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro digelar di Jogja Galery akan berakhir 24 Februari 2019. Turut memberi sambutan saat pembukaan pameran KRTMT Indro Kimpling Suseno (Jogja Galery) dan Roni Sodewo (Patra Padi).  (Wahjudi Djaja)

 

 

 

 


share on: