Pameran dan Bursa Wilah Mataram Digelar di Banguntapan

share on:
Gusti Yudha didampingi Bupati Abdul Halim Muslih saat keliling stand pameran dan bursa Wilah Mataram, di Banguntapan || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Pameran dan Bursa Wilah (tosan aji) Mataram bertema ‘Mataram Gumregah’ digelar di salah satu rumah makan, Jalan Yupiter nomer 16 Sorowajan Banguntapan Bantul, Sabtu-Minggu (10-11/4).

Acara dibuka oleh Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih. Hadir pula pada kesempatan ini Pembina Wilah Mataram, GBPH Yudhaningrat MM, Ketua Sekretariat Nasional Senopati Nusantara Nurjianto dan Ketua Paguyuban Wilah Mataram Eko Hariyanto serta para kolektor dan pencinta tosan aji asal DIY dan luar daerah.

GBPH Yudhaningrat, dalam sambutannya menyatakan, wilah/duwung/keris merupakan warisan budaya adiluhung yang banyak mempunyai makna positif bagi manusia.

“Keris berfungsi dan peruntukannya ada tiga yaitu untuk pusaka, penganggon.(ageman) dan senjata perang. Selain itu  juga mempunyai banyak makna,” ungkap Yudhaningrat.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Wilah Mataram Eko Hariyanto, dalam laporannya mengungkapkan, Unisco telah memutuskan bahwa keris merupakan warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang mempunyai estetika dalam dan tinggi.

“Pameran dan bursa ini dikuti oleh para anggota Paguyuban Wilah Mataram. Dengan tema Mataram Gumregah diharapkan menumbuhkan pelestsrian dan bursa wilah itu sendiri dan sebagai sarana komunikasi antar berbagai pihak yang terkait dengan dunia tosan aji,” demikian Eko Hariyanto.

Disela pembukaan pameran ini, Ketua Skretariat Senopati Nasional, Nurjianto, menungkapkan dengan adanya event ini sekalipun pada masa pandemi Covid-19 dan harus taat prokes, namun bisa bermanfaaf bagi masyarakat untuk mengenali warisan budaya adiluhung. Bahkan bisa membantu untuk perbaikan ekonomi masyarakat, sebab sangat dimungkinkan terjadi transaksi.

Bupati H Abdul Halim Muslih sebelum membuka acara yang ditandai dengan memukul gong, mengatakan keris merupakan tinggalan budaya bangsa (terutama Mataram). Merupakan kekayaan dan khasanah budayan bangsa yang harus dilestarikan bahkan bisa memberikan keuntungan tanpa harus mengesampingkan nilai-nilai keadiluhungannya. (Supardi)

 


share on: