Yogyapos.com (YOGYA) - Pemerintah melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 33 tahun 2009, telah menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Berbagai kegiatan pun dilakukan masyarakat dalam memperingati Hari Batik Nasional, salah satunya Olifant School, dalam waktu 1 bulan ini telah mengadakan kegiatan Gajah Mencanting.
Direktur Olifant, Deasy Andriani SPsi, mengatakan pelaksaanaan kegiatan ini berawal dari ide melestarikan batik sebagai bagian dari kebanggaan budaya Indonesia, dan Yogyakarta sebagai pusat batik dunia. Sehingga terbitlah proyek budaya bernama Gajah Mencanting.
BACA JUGA: Prabowo Resmi Umumkan Gibran Sebagai Cawapres, 25 Oktober Siap ke KPU
“Kegiatan Gajah Mencanting ini merupakan bagian dari serangkaian acara peringatan Hari Batik Nasional yang diselenggarakan Olifant, mulai dari workshop batik dengan narasumber Abdi Dalem dan zim pembatik Keraton Ngayogyakarta,” kata Deasy, Minggu (22/10/2023) petang.
Selain workshow, peringatan Hari Batik Nasional ini juga diisi dengan kegiatan membatik yang diikuti oleh seluruh siswa Olifant dari SMA hingga usia Preschool.
“Acara Gajah Mencanting tentunya sangat istimewa. Karena kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan oleh sebuah sekolah dengan jumlah pembatik hingga 800 orang, langsung di Keraton dengan pengajar khusus dari Pembatik Keraton Ngayogyakarta,” jelasnya.
BACA JUGA: Pembukaan Pameran Lenggahing Hardjuno Dihadiri Danrem 072/Pmk
Batik yang dibuat merupakan puzzle batik berupa 1 lembar kain batik yang didesain khusus untuk Olifant yang dibagi menjadi beberapa bagian. Kemudian dirangkai menjadi satu bagian batik utuh, kemudian akan dipamerkan di Titik Nol Yogya.
Menurut Deasy, pemilihan bentuk puzzle batik ini merupakan simbolisasi value dari Olifant mengenai Unity in Diversity atau Bhinneka Tunggal Ika, kreatifitas dan kolaborasi. Sekaligus penggambaran jiwa dan semangat gotong royong yang merupakan nilai budaya di Indonesia. Selanjutnya melakukan pawai sambil mengenakan pakaian adat khas Yogyakarta, para peserta akan berjalan hingga ke titik akhir yaitu Titik Nol Yogyakarta.
“Menuju Titik Nol YogyaSetelah Proyek Sociopreneur, seluruh siswa akan mengikuti pawai santai dengan cara menempatkan para peserta pada titik awal disekitar Teras Malioboro 2,” jelasnya.
BACA JUGA: 2.500 Santri Memeriahkan Upacara dan Kirab HSN 2023 di Sleman
Head of Creative & Program Development, Mariana Hastuti SPsi menambahkan pawai santai akan diikuti oleh 1.000 peserta terdiri siswa, guru dan orang tua. Didukung oleh Keraton Ngayogyakarta serta Dinas Kebudayaan Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya.
Melalui pawai ini diharapkan para siswa Olifant secara aktif berbaur dan berinteraksi dengan para pedagang, pengunjung, pejalan kaki dan sebagainya. Selain itu, ada yang mengajak pengunjung untuk membatik bersama para pembatik atau abdi dalem Keraton yang berada di beberapa titik yang disediakan di sepanjang Jalan Malioboro.
“Para siswa juga mengajari pedagang untuk berinteraksi dengan pembeli asing menggunakan bahasa Inggris sederhana atau melakukan wawancara kepada pengunjung atau pedagang terkait dengan batik,” bebernya.
Para siswa tingkat SD dan usia dini pun mempunyai kesempatan untuk belajar berani berinteraksi dengan nyaman dengan orang asing, serta kegiatan menarik lainnya. Bahkan ada yang sudah membuat rancangan batik sebagai bagian kostum yang nanti akan diperkenalkan juga kepada para pengunjung di Malioboro. “Jadi melalui proyek Sociopreneur ini menjadi bagian Community Service dari Olifant School untuk melestarikan budaya batik,” tukasnya.
BACA JUGA: Resolusi Jihad Hasyim Asyari Dikenang Kembali oleh 20.000 Santri di Bantul
Acara diawali dengan turunnya 7 Pembatik Kraton ke Olifant School, memperkenalkan motif-motif batik, teknik sederhana mencanting sampai pewarnaan batik. Kraton Ngayogyakarta kemudian membuka gerbang bagi 800 murid Olifant School, mulai dari usia 2 tahun sampai siswa SMA untuk mencanting/membatik di Kraton. Tak kalah menarik dari serangkaian acara Gajah Mencating, yakni Pojok Batik & Fashion. Di Lokasi tersebut, ada 3-4 area mencanting yang disediakan untuk peserta dan pengunjung umum untuk mencoba mencanting yang didamping para pembatik keraton. Ini adalah pertama kali Kraton mengizinkan siswa sekolah untuk secara massal membatik di kraton, menjadi generasi termuda pelestari batik sebagai warisan wastra Nusantara. (*/Opo)
