Novita, Puteri Pedagang Sayur Keliling Raih IPK 3,84

share on:
Indri Novita Dewi || YP-Dedy Herdito

Yogyapos.com (SLEMAN) - Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sabtu pekan lalu masih menyisakan cerita. Salah satunya dari lulusan program diploma, yaitu Indri Novita Dewi yang akrab dipanggil Novita. Dia berhasil menyelesaikan studinya pada program diploma 3 akuntansi Fakultas Ekonomi dengan IPK 3,84. Namun jalan yang ditempuhnya untuk mencapai prestasi itu juga tidak mudah. 

“Tahun dimana berkali-kali saya harus menerima kegagalan. Setelah lulus SMK motivasi yang sangat luar biasa dari wali kelas saya untuk terus dapat melanjutkan pendidikan menguatkan niat saya untuk melanjutkan kejenjang perkuliahan,” kata lulusan dari SMK N 1 Pengasih tahun 2017.

Warga Josutan Karangsari Pengasih Kulonprogo itu kemudian mendaftar di beberapa kampus negeri di Yogyakarta namun mengalami kegagalan yang satunya adalah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sehingga ia memutuskan untuk mendaftar di salah satu Kampus Swasta di Yogyakarta. Namun setelah itu banyak hal yang dipertimbangkan salah satunya biaya kuliah di kampus swasta yang tidak sedikit mengingat perekonomian keluarganya yang bukan dari kalangan berada. Novita adalah anak ketiga Puji Suesti seorang pedagang sayur keliling yang telah berpisah dengan suaminya Suparno sejak Novita berumur 4 tahun. Novita dituntut oleh keadaan untuk selalu menjadi manusia yang mandiri.

Novita dan Ibundanya || YP-Dedy Herdito

Gadis kelahiran 15 Desember 1998 tersebut berkisah, perjuangan ibunya tidak mudah, namun berhasil membesarkan ketiga anaknya dan membiayai kami hingga lulus SMK. Kedua kakaknya memutuskan untuk berkerja setelah lulus SMK namun ibu sangat ingin sekali salah satu putrinya ada yang dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Dan mungkin tinggal saya yang dapat mewujudkan impian ibu tersebut.

“Namun saya menyadari tidak akan baik jika berlarut-larut dalam kekecewaan,” ungkapnya.

Kemudian Novita mencoba untuk bekerja di salah satu perusahaan namun karena bukan passion-nya maka ia memutuskan untuk keluar setelah beberapa hari bekerja. Ia kembali menekuni usaha yang telah dirintisnya sejak masih sekolah di SMK yaitu usaha custom illustration hingga gift hampers bernama Gallery siluet.

Hasil dari usaha ini ternyata lebih dari cukup untuk menopang biaya hidupnya dan jika mendapat kelebihan diberikan pada Puji Suesti. Mulai saat itu usaha ini mulai berkembang sedikit demi sedikit dan akhirnya bias digunakan untuk biaya kuliah, kebutuhan pribadi, dan sedikit untuk orang tuanya.

Novita mencoba peruntungannya kembali untuk kuliah pada 2018 dengan UNY menjadi satu-satunya kampus tujuan.

“Saya tidak berharap banyak karena sangat takut dikecewakan jika ternyata gagal kembali, bahkan saya tidak memberitahu siapapun bahwa saya mendaftar kuliah pada tahun ini,” kata Novita.

Dan ternyata ia diterima di prodi D3 akuntansi Fakultas Ekonomi UNY melaluijalur seleksi mandiri. Ia merasa sangat senang akhirnya salah satu mimpi ibu dapat segera terwujud dan ini merupakan awal dari perjuangannya di UNY.

Novita menikmati masa-masa perkuliahan yang ternyata tidak mudah membagi waktu antara belajar dan menjalankan sebuah usaha. Memutar otak agar usaha dapat terus dijalankan untuk biaya kuliah semester namun juga tidak mengabaikan akademik supaya mendapatkan hasil yang baik.

Terkadang merasa sangat lelah fisik dan psikis, ingin seperti teman-teman yang masih memiliki banyak waktu dan tidak pusing memikirkan biaya kuliah, namun lagi-lagi ia menyadari harus bersyukur sudah ditakdirkan untuk berjuang di atas rata-rata yang mungkinakan menjadi pengalaman yang luar biasa dimana tidak semua orang bisamerasakannya.

Hari ini terwujudlah mimpi sederhana Puji Suesti, melihat salah satu putrinya memakai toga. Diberikan kesempatan untuk dapat merasakan diwisuda langsung oleh Rektor merupakan pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan Novita selama hidup.

“Saya sangat berterimakasih kepada diri saya sendiri yang selalu kuat sehingga dapat menyelesaikan 7 semester ini tanpa merepotkan ibu sama sekali, baikuntuk uang pangkal, UKT, ataupun biaya hidup saya sehari-hari. Namun support ibu dan semua keluarga ketika berkali-kali saya terjatuh sangat tidak ternilai harganya,” tutup Novita. (Dedy Herdito)

 


share on: