Muliakan Air, Warga Sabrang Giripurwo Kulonprogo Gelar Merti Sendang

share on:
Dzikir dan kembul bujana merti Sendang Sabrang || YP-Ist

Yogyapos.com (KULONPROGO) - Kesadaran budaya berbasis ekologis warga Sabrang Giripurwo Girimulyo Kulonprogo patut diapresiasi. Turun-temuruan mereka menggelar tradisi memetri Sendang Sabrang demi melestarikan sumber mata air. Tradisi telah digelar sejak lama dan menjadi agenda rutin.

Merti Sendang yang digelar Jumat (1/8/2025) diawali sejak siang dengan tradisi Ngrapyak Sendang. Sebuah tradisi untuk nawu atau menguras dan membersihkan sendang yang dilakukan oleh warga. Sedangkan pada malam harinya diadakan umbul doa dan kembul bujana.

BACA JUGA: Bupati Harda Turut Berbagi Apem di Saparan ke-58 Ki Ageng Wonolelo

Dalam sambutannya Dukuh Sabrang Priyana menyampaikan kekhawatirannya terkait kelangsungan tradisi ini. "Kalau sudah purna Sa saya khawatir tidak dilestarikan oleh penerusnya. Kami berharap tradisi ini tetap dilestarikan agar kelak tak ada masalah dengan air,” pintanya.

Anom Sucondro, Mardi Santoso dan Paryana || YP-Ist

Sedangkan Lurah Giripurwo Mardi Santosa yang mangayubagyo, menyampaikan tradisi Ngrapyak sumur Sabrang rutin tiap Agustus pada Jumat Kliwon. "Ada tiga sumur yang kita miliki, yakni Sumur Pancoran, Sumur Lanang dan Sumur Sabrang. Dan untuk pelaksanaan tradisi ini diawali dengan acara nawu sumur, ziarah dan doa bersama,” tandasnya.

BACA JUGA: Bukit Klangon akan Sajikan Persaingan Sengit Rider Elit Downhill dan Cross-country

Sementara itu Anom Sucondro selaku narasumber sarasehan menyampaikan pentingnya konservasi mata air dengan pendekatan budaya. "Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merawat dan memelihara mata air. Salah satunya dengan tradisi semacam ini. Ini tidak saja mengedukasi warga tetapi juga menyadarkan kita semua tentang makna air bagi kehidupan", tandas dalang yang juga Lurah Jatimulyo ini.

Menanggapi tradisi itu Wahjudi Djaja dari Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY sangat mengapresiasi dan mendukung. Sebuah keajaiban di perbukitan bebatuan ada mata air yang dijaga sepenuh jiwa. Ini membuktikan kesadaran ekologis warga sudah terbangun mendarah daging.

BACA JUGA: Stop Judi Online! Polres Bantul Tangkap Lima Tersangka di Banguntapan

“Saat orang masih sibuk dengan teori sustainability, mereka sudah menerapkan falsafah hamemayu hayuning bawana. Itulah kenapa kita justru harus belajar pada kehidupan warga pedesaan,” jelas Dosen STIEPAR API Yogyakarta ini.

Selesai dzikir dan sarasehan acara dilanjutkan kembul bujana atau makan bersama dan tirakatan. Giripurwo memiliki potensi yang menjanjikan seperti perkebunan kakao, embung Kleco, jatilan Tri Budaya dari Bulu dan cagar budaya Joglo Raden Sugeng Dipokawoco yang pernah menjadi Kantor Kalurahan Wadas sebelum penggabungan menjadi Kalurahan Giripurwo. (Iud)

 

 

 

 


share on: