MLKI DIY Berkomitmen Damai dan Menghargai Perbedaan

share on:
Peserta Sarasehan Kebangsaan MLKI DIY berkomitmen untuk menghargai perbedaan dan menciptakan perdamaian || YP/Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA) - Keragaman budaya, agama serta kepercayaan yang ada di Indonesia telah membentuk peradaban Bangsa sesuai dengan nafas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Merawat dan menjaga asset ini menjadi prioritas program yang digelindingkan Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Indonesia (MLKI) Wilayah DIY.

Dengan menggelar Sarasehan Kebangsaan di Hotel Burza, Jogokariyan Yogya, Selasa (28/1) MLKI DIY ingin mendorong seluruh paguyuban yang terlibat di struktural untuk berperan aktif menjaga komitmen damai dan menghargai perbedaan.

Ketua MLKI DIY Drs Bambang Purnomo SE MSi dalam open speechnya mengungkapkan, value point dalam Sarasehan Kebangsaan ini adalah menjaga kerukunan antar umat beragama, komit terhadap perdamaian, menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa, serta menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang heterogen.

“Secara tegas kami menolak segala bentuk kekerasan fisik ataupun non fisik yang mengatasanamakan agama. Aspek ini sangat berbahaya dan bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat. Kami juga menolak keras segala tindakan ujaran kebencian (hate speech) dan sikap saling hujat antar anak Bangsa. Upaya yang kami lakukan adalah menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun, tata karma, saling respect, persuasif dan memprioritaskan dialogis ataupun musyawarah mufakat untuk memecahkan suatu masalah,” ujar Bambang tegas.

Bambang melanjutkan, pihaknya menghimbau kepada seluruh paguyuban yang bernaung di MLKI untuk terus menjaga kesolidan dan kekompakan agar tidak mudah terprovokasi. “Sebentar lagi di Sleman, Bantul dan Gunungkidul akan dilaksanakan Pilbup 2020. MLKI harus berperan aktif dan bersinergi dengan aparat terkait untuk ikut menjaga kondusifitas kamtibmas,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut juga hadir Presidium MLKI DIY Kuswojoyo Mulyo dan Sukoreno. Ditbinmas Polda DIY Kompol Cahyo Wicaksono SH serta Kasi Sosbud Kemas Kejati DIY Moch Sochib SH.

Kompol Cahyo menilai, akhir-akhir ini banyak gesekan yang timbul di tengah masyarakat akibat sikap egosentris dan kurang menghargai perbedaan. “Pemahamaan akan pentingnya menghargai suatu perbedaan harus dipupuk secara berkala. Pembinaan persuasif kepada publik pun harus dilakukan bertahap. Sebagai Bangsa Timur, kita harus bisa menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai, junjung nilai sopan santun serta tata karma kepada sesama anak Bangsa,” imbuh Kompol Cahyo di sela kegiatan.

Awal MLKI diinisiasi pada November 2012 melalui kesepakatan Kongres Nasional yang diadakan Dirjen Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi dibawah naungan Kemendikbud RI. Lalu pada Oktober 2014 pada Sarasehan Nasional di Kraton Yogyakarta, MLKI resmi dideklarasikan sekaligus pengesahan pembentukan Dewan Musyawarah Pusat yang dilantik oleh Wamendikbud RI Prof Wiendu Nuryanti Phd. Hingga kini jumlah anggota aktif berkisar 42 paguyuban yang tersebar se-Indonesia. (Dol)

 


share on: