Mahyeldi Dukung Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau Jadi Destinasi Wisatata

share on:
Foto bersama di acara Grand Disain Pemajuan Kebudayaan Koto Gadang Koto Anau || YP-Ist

Yogyapos.com (SOLOK) - Peninggalan sejarah memiliki potensi besar bagi kemakmuran masyarakatnya. Jika tidak dijadikan cagar budaya, keberadaannya akan mengalami kepunahan.

Menyikapi hal tersebut, Dra Zusneli Zubir MHum, Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sumatera Barat (BPNB Sumbar) memprakarsai Penyusunan Grand Design Pemajuan Kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau yang digelar pada 3 - 4 April 2021, di Depan Balai Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau, Kabupaten Solok, Kecamatan Lembang Jaya, Provinsi Sumatera Barat.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat membuka acara tersebut mengatakan, masyarakat Minangkabau dengan ketinggian budayanya dikenal dengan semangat gotong royongnya yang dituangkan dalam falsafah 'adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah'. Syarak mangato adat mamakai. Di Sumatera Barat, menyatu antara budaya dengan nilai-nilai agama, yaitu Islam.

“Inilah kekhasan yang dimiliki oleh masyarakat di Minangkabau, Sumatera Barat. Dan kekhasan ini perlu diwariskan dan ditransformasikan,” katanya.

Seperti juga disampaikan Mahyeldi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memprogramkan Kawasan Gunung Talang, Kabupaten Solok untuk menjadi objek wisata destinasi nasional dan internasional. Koto Gadang Koto Anau sebagai salah satu nagari yang berada di Kawasan Gunung Talang sebaiknya memanfaatkan kesempatan ini guna berbenah dan juga meningkatkan sumber daya manusianya agar memiliki daya tarik untuk dikunjungi oleh para wisatawan tersebut. Karena itu, Pemprov Sumbar sangat mendukung pemajuan kebudayaan di Nagari Koto Gadang Koto Anau.

Mahyeldi juga mengatakan, satu-satunya daerah di dunia yang bisa kita melihat secara sekaligus empat danau, empat gunung, air panas dan dingin secara berdampingan, dan keunikannya yang lain, hanya ada di Kabupaten Solok.

Pemerintah Kanagarian Koto Gadang Koto Anau bertindak sebagai panitia penyelenggara acara tersebut, didukung oleh ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, tokoh masyarakat, bundo kanduang, Ikatan Keluarga Koto Gadang Koto Anau (IKKA) Kota Padang, dan masyarakat setempat. Selain Gubernur Mahyeldi, acara juga dihadiri oleh Mulyadi Marcos SE MM (Plh. Bupati Solok), Nasripul Romika SSos (Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok), Drs Aprimas MM. (mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat), Derliati SSn MPd. (mewakili Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Barat), Wardarusmen, SE MM (Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat), Dra. Zusneli Zubir (Peneliti di BPNB Sumbar), Drs. Teguh Hidayat, M. Hum (Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat – BPCB Sumbar), Dr I Ketut Wiranyana (Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara), Aminulatif, SE MPd (Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat), dan Herianto SE (Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Solok).

Selain itu juga dihadiri oleh Madra SE SH (Anggota DPRD Kabupaten Solok), Jon Firman Pandu (Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Solok Periode 2021-2026), Camat Lembang Jaya, Prof Dr Tafdil Husni SE MBA (Rektor Universitas Bung Hatta), Drs Yoserizal MSia. (Dosen FISIP UNAND), Onderus Zubir Dt Bagindo Sati (Ketua Kerapatan Adat Nagari Koto Gadang Koto Anau), Novi Lesmana (ahli waris Istano Rajo Bagindo yang Dipatuan), Dra Usjunaida (Ketua Bundo Kanduang Nagari Koto Gadang Koto Anau), Lilik Supardi SE (Ketua IKKA Padang), Edi Setiawan Amd (Walinagari Koto Gadang Koto Anau), dan lainnya.

Zusneli Zubir, Peneliti senior sejarah dan Ketua Kelompok Kerja Sejarah yang juga putri daerah Nagari Koto Gadang Koto Anau pada kata sambutannya mengatakan, Koto Gadang Koto Anau adalah salah satu nagari tertua di Sumatera Barat, dapat dibuktikan dari peninggalan sejarah yang ada. Di Koto Anau bisa kita temui batu telapak kaki. Batu tersebut sama seperti batu yang ada di peninggalan Kerajaan Tarumanegara, Bogor. Selain itu juga ada Batu Balkon, masyarakat setempat menyebutnya Batu Congkak, juga ada Batu Megalit, semua memiliki banyak makna dan cerita untuk pelajaran bagi kita.

“Koto Anau juga memiliki kerajaan, bernama Kerajaan Koto Anau. Jika sebuah daerah memiliki sebuah kerajaan, tentu jadi pertanda memiliki budaya yang cukup tinggi. Baik pada bidang adat istiadat, kuliner, pakaian, sangat banyak ditemui di Koto Anau untuk kita gali. Kekayaan tersebut bisa menjadi magnet wisata. Karena itu, semua yang hadir di acara ini agar dapat ikut menyusun grand design pemajuan kebudayaan Nagari Koto Gadang Koto Anau, karena keinginan kita tersebut dapat diwujudkan jika dilakukan secara bersama-sama, demi kemajuan Koto Gadang Koto Anau,” kata Zusneli Zubir. (Muhammad Fadhli)

 

 


share on: