Ki Dhalang Sigit Tri Purnomo Bertekad Lestarikan Pakeliran Gagrak Yogyakarta

share on:
Ki Dhalang Drs Sigit Tri Purnomo || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Meski dunia seni tradisional pakeliran (pewayangan) bisa katakan dinamis, tapi bagi Ki Dhalang Drs Sigit Tri Purnomo (56), pakeliran gagrak (pakem/gaya) klasik (tradisional) Yogyakarta merupakan hal penting.

Sebab itu dhalang Yogyakarta ini bertekad tetap mempertahankan pewayangan gragrak dan melanjutkan gaya mendalang yang dilakukan oleh Ki Timbul Hadiprayitno (alm).

“Meski saya mengikuti dan menyesuaikan tuntutan masyarakat, tetapi 70 persennya tetap mengacu pada pakem baku pedalangan Yogyakarta. Dalam berpentas mengutamakan berpatokan kepada paugeran (ketentuan) baku gaya Yogyakarta,” tutur Sigit Tri Purnono kepada yogyapos.com, di rumahnya Kadekrowo Rt 5 Gilangharjo Pandak Bantul, Jumat (11/6/2021).

Dijelaskan, dirinya bertekad demikian, tujuanya supaya para generasi penerus (muda) tidak kehilangan, paham dan bisa melestarikan gaya pakeliran tradional itu. Meski generasi muda bannyak yang cenderung tertarik pada gaya yang bersifat inovasi dan modern. Jika pihaknya juga sesekali mengikuti dan memakai sedikit gaya modern, tak lain itu semua hanyalah untuk bumbu dan sedikit penyesuaian kepada selera   masyarakat. 

Menjawab pertanyaan tentang bagaimana pengaruh pandemi Covid-19 terhadap kalangsungan pentas wayang di tengah masyarakat, Sigit yang kini juga bekerja sebagai guru PNS di sebuah SMPN di Jetis Bantul, membenarkan bahwa pandemi telah menjadikan para dhalang dan seniman tradisonal tidak pernah pentas. Mereka otomats tidak punya penghasikan. Tak ada pentas, lantaran pemberlakuan protokol kesehatan yang melarang orang-orang berkerumun.

“Dalam kondisi dan situasi seperti itu, kami terus menghibur masyarakat dan menghidupkan suasana menayangkan sejumlah vidoo pentas di You tube,” ujar Dhalang putera dari pasangan suami istri pemain Kethoprak RRI Yogyakarta Ki Ngadimin dengan Ny Suratmi pelawak di Jawatan Penerangan RRI Purwokerto 'Peyang Penjol' ini.

Vedeo itu meliputi lakon Tumurune Gunug Merapi, Sri Tumurun, Wahyu Bogo, Wahyu Purbojati, Wahyu Senopati, Semar Mbangun Kayangan, Wahyu Manik Imandoyo, Puntodewo Mukso dan Dewa Ruci. (Supardi)

 

 

 

 


share on: