Keresahan Evi Idawati dalam 'Perempuan yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang'

share on:
Evi Idawati

...

Perempuan, perempuan yang berjalan menuju pintu kegaiban,

Di hatimu, sudah berdiri istana megah, ada atau tak ada yang

membawamu ke sana

Di rumah yang sempurna, tetap menjadi budak, menjadi hamba

dari pikiran-pikiran yang membunuh tajam

Kecuali pukulan demi pukulan yang terhimpun dari hangat

kenikmatan doa-doa keabadian

 

Bait diatas merupakan petikan dari bait puisi ‘Perempuan Yang Berjalan Menuju Pintu Kegaiban’, dalam antologi ‘Perempuan Yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang’ karya Evi Idawati yang belum lama ini diluncurkan. Sebuah antologi yang penuh dengan ungkapan keresahan dan jeritan hati Evi Idawati selaku perempuan.  

Menurut Evi, selama ini kaum perempuan selalu dipandang sebagai kaum lemah dan harus bergantung kaum lelaki. Pandangan ini selain muncul dari dogma dan ajaran para tetua dan terus dibangun melalui budaya, tradisi serta melalui ajaran-ajaran agama. Anggapan ini berlangsung selama beratus-ratus tahun  setelahnya dan diterima begitu saja, nyaris tanpa perdebatan.

“Ada yang bisa menerimanya dan menjalaninya sebagai kepatuhan seorang hamba dengan keimanan dan kesedian tanpa pertanyaan. Ada juga yang mencoba mencari sebab musabab, asal-usul hingga menemukan banyak jawaban dari pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan, tentang hidupnya ataupun hidup orang lain. Usaha itu, sering saya sebut sebagai cara membaca dan membaca,” ujar Evi dalam perbincangan khusus dengan yogyapos.com, di Taman Budaya Yogyakarta, belum lama ini.

Oleh karena itu, lanjut Evi, antologi puisi ‘Perempuan Yang Matanya Ditumbuhi Dendam dan Kasih Sayang’ merupakan salah satu perenungannya sebagai seorang perempuan sekaligus seorang ibu. Melalui karyanya ini, Evi ingin agar para  perempuan yang selama ini terdiam menerima perlakuan tidak adil sebagai sebuah takdir, akhirnya mampu membaca dan menumbuhkan kesadaran, bahwa di mata Tuhan semua manusia adalah sama. 

“Di dalam agama dan kepercayaan yang kita anut, kita menemukan banyak hukum atau aturan yang menempatkan perempuan sebagai individu yang berada posisinya di belakang laki-laki. Tetapi, ajaran-ajaran itu hendaknya tak begitu saja diterima tanpa perenungan. Itulah pentingnya membaca. Menjadi perempuan itu harus berani membaca. Membaca peristiwa, membaca lingkungan dan segala hal yang dijumpainya,” ujar istri dari pantominer Ende Reza tersebut. 

Sementara itu, Baban Banita dalam ulasan terhadap buku ini menyampaikan, beberapa sajak Evi Idawati menggambarkan kondisi perempuan yang mengalami persoalan dalam kehidupan, penderitaan. Untuk itu, Evi menasehatkan agar kaum perempuan  mampu membangun keberanian untuk menikam dan membelah diri sendiri dengan keiklasan melihat semesta tanpa batasan. 

“Kondisi ini terbaca jelas, setidaknya dalam beberapa sajak itu yang mengandung cinta, kisah cinta yang penuh penderitaan sekaligus kenikmatan,” ungkap Baban.  (Sulistyawan Dibyosuwarno)

 


share on: