Kebersahajaan Jaelani, Angkringannya Laris Tapi Tak Bernafsu Melebarkan Sayap Bisnis

share on:
Jaelani, dari melayani pembeli sampai cuci gelas sendiri | YP/Agung DP

LELAKI setengah baya itu sibuk melayani pembeli. Dengan sangat cekatan meracik segelas teh dan kopi pesanan pembeli. Sore itu memang banyak pengunjung memenuhi bangku angkringannya. Barangkali karena sikap penjualnya yang supel terhadap para pembeli itulah yang menyebabkan warung angkringan yang kondang disebut Angkringan Jaelani, di Lapangan Sepak Bola Krapyak, Triharjo, Sleman ini memiliki banyak pelanggan.

Angkringan Jaelani tak jauh dari rumah si empunya, Jaelani. Ia membuka angkringan setiap hari dari jam 12.00 hingga tengah malam. Terkadang Jaelani buka lebih awal, “biar pelanggal tak kecelik,” kata Jaelani yang beristrikan wanita asal Salaman, Magelang bernama Istiqomah kepada yogyapos.com, Sabtu (16/2/2019) sore.

Jaelani disamping jualan angkringan, ia juga mempunyai pekerjaan sebagai tukang kebun serta penjaga malam di SD V Sleman yang sudah ditekuninya sejak 15 tahun yang lalu sampai sekarang. Karena itu untuk persoalan menjaga angkringan disiang hingga sore hari, Jaelani membagi tugas dengan istrinya. Sedang Jaelani sendiri bertugas rutin di SD V Sleman, membantu menyeberangkan anak-anak Sekolah di pagi dan siang hari. Baru ketika sore menjelang malam, Jaelani yang menjaga angkringan.

Di Angkringan Jaelani banyak dijual bermacam makanan dengan harga murah dari sambal teri, terong balado, nasi rica, nasi usus, nasi oseng semua dibandrol harga Rp 2000. Sedangkan gorengan rata-rata Rp 500 dan minuman Rp 3000. “Murah meriah, yang penting laku dan berkah,” tukas Jaelani sembari melayani pembeli.


Angkringan Jaelani, favorit di dijadikan tempat kongkow anak-anak muda di Lapangan Sepak Bola Krapyak, Triharjo, Sleman | YP/Agung DP

Karena lapaknya dekat dengan Base Camp anak-anak muda otomatis menjadi keuntungan tersendiri bagi angkringan Jaelani. Banyak anak-anak muda yang menjadikan angkringan tersebut sebagai tempat kongkow hingga larut malam. Sisi keuntungan lain, di Angkringan Jaelani merupakan satu-satunya. Sehingga menjadi jujukan banyak orang, serta menghidupkan suasana di malam hari.

Jaelani mengakui, tak ada yang istimewa di angkringan miliknya. Biasa-biasa saja sebagaimana lazimnya angkringan. Tanpa dikemas dengan aksesori maupu spanduk, dan lainnya. “Ya begini saja. Cuma gerobak dorong untuk menaruh makanan, kompor untuk memasak air dan mie instan. Alhamdulillah terpenting hasilnya bisa untuk tambahan kebutuhan keluarga,” ujar Jaelani tanpa menyebutkan penghasilannya setiap hari.

Jaelani juga tidak mau muluk-muluk untuk melebarkan sayap bisnis angkringan. Ia tipe orang sakmadya, tidak rakus atau benafsu meraih pendapatan yang lebih besar. Merasa bersyukur dengan keadaannya seperti sekarang; sehat, punya aktivitas dan pendapatan ala kadarnya, tapi tidak kehilangan kebahagiaan dan ingatannya pada Tuhan.

Gusti boten sare. Sing penting waras, obah, mamah (Tuhan tidak tidur. Yang penting sehat, bisa beraktivitas, bisa makan,” pungkasnya lelaki bersahaja ini. (Agung DP)

 

     

 


share on: