BAGAI santap nasi dengan lauk pauknya. Kegiatan melukis sudah menjadi santapan setiap hari. Tanpa melukis ibarat perut belum kemasukan makanan, tanpa melukis terasa belum sarapan pagi.
Sepenggal pernyataan Karte Wardaya itu tercantum dalam katalog pameran bersama 5 pelukis, ‘Painting Exhibition Pa Pat 1’, yang berakhir pada 18 Desember 2022, di Kopi Macan Jalan Bugisan Selatan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.
Karte bersama 'Rhino Family', 1.5 x 2 M, acrilyc kanvas || YP-Yuliantoro
Saat berbincang di studio seni rupanya di Jalan Letjend S Parman Tamansari, Kraton Yogyakarta, Karte mengatakan, seni itu sesuatu yang indah dan melukis merupakan bagian untuk kehidupan. Karena itu berkarya tidak hanya melulu memenuhi kebutuhan idealisme, namun sebagai seniman juga membutuhkan kejelian dalam mensikapi genre pasar. Terlebih dalam situasi saat ini, dimana semua sektor ekonomi sedang mengalami kelesuan.
“Mood itu bisa dikondisikan, kecuali bila sedang tidak enak badan. Jika melukis dilakukan secara kontinyu, ide berkarya akan datang sendiri. Tidak perlu malu mengatakan saat ini idealisme tetap jalan tapi anak istri harus bisa makan, untuk itulah kecermatan dalam melihat setiap peluang harus betul-betul disikapi secara dewasa,” ujar pelukis kelahiran tahun 1965 ini, Jumat (23/12/2022).
Interior dan sejumlah lukisan Karte Wardaya || YP-Yuliantoro
Dalam pandangan pelukis dekoratif kontemporer ini, benang merah dalam berkarya harus terus terjaga dan tidak ela-elu konsep mengikuti selera pasar yang sedang booming saja. Perjalanan proses serta pemantapan teknik dan kecermatan dalam mengkomposisikan paduan warna dan garis, harus benar-benar memiliki identitas dan entitas diri sebagai pribadi yang lekat dengan karya. Sehingga, meski mengalami berbagai genre sesuai pasar yang sedang in, namun sebuah karya tetap dikenal sebagai pribadi utuh pelukisnya.
“Dengan tanpa meninggalkan konsep serta idealisme, kebutuhan pasar yang identik dengan permintaan harus dilayani sesuai marketnya,” tandasnya.
Teori dan sekaligus praktek berkarya seni dipelajarinya saat duduk di bangku Sekolah Seni Rupa Indonesia/SSri (yang sekarang jadi Sekolah Menengah Seni Rupa/SMSR) dan lulus tahun 1987.
Instalasi dari sepeda bekas bertajuk 'Wajah Ndesa' karya Karte || YP-Yuliantoro
Melalui masa mudanya sebagai ilustrator. Sejak 2001, Karte mulai melukis dengan media kanvas. Perjalanan panjang karier membawanya meraih beberapa penghargaan. Tahun 1995 dan 2001 Karte menjadi finalis ‘Philip Morris Art Award’. Tahun 2008 menjadi finalis ‘Setelah 20 Mei Kebangkitan Nasional’ di Jogja Gallery dan tahun 2014 sebagai Pemenang Harapan II ‘Anugerah Adi Rupa IV Citra Raya Eco Culture’. Ratusan lukisan yang dihasilkan dikoleksi berbagai kalangan, diantaranya artis Dian Sastrowardoyo dan beberapa pejabat.
“Kalau dalam negeri lukisan saya dikoleksi di Jakarta, Bandung, luar jawa. Sementara luar negeri ada yang di Singapura, Malaysia, Amerika dan lain-lain. Ada yang membeli langsung dari saya namun ada juga yang terdistribusi lewat orang lain,” jelasnya.
Selain tiga kali pameran tunggal Corner Cactus di Purosani Hotel (2007), Exibition the Flush di Sellie Coffe (2014), dan Meresapi di Rumah Budaya Tembi (2014), sejak 1995 Karte seringkali melakukan pameran bersama. Pameran-pameran tersebut selain sebagai pijakan untuk mengorbitkan diri, sekaligus sebagai upaya memperteguh kebersamaan dalam menjalani proses berkarya dan berkesenian.
“Untuk tahun depan, 2023 sudah empat even yang terjadwal. Paling dekat Februari, lanjut bulan Mei, Agustus, Nopember,” tegasnya.(Yuliantoro)
