KAJIAN MEDIS FILOSOFI JAWA : Hasto Wardoyo Berharap ‘Tedhak Siten’ Dimaknai Secara Keilmuan

share on:
Ny Tienuk Riefki, Dr H hasto Wardoyo dan dr Wigung Wratsangka | YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (YOGYA) - Upacara tedhak siten bisa diterjemahkan ke dalam kehidupan yang bermanfaat secara keilmuan. Karena selain bisa menjadi sarana konseling juga menjadi pengalaman yang bermakna bagi tumbuh kembang anak. Apalagi pada fase menentukan kehidupan anak yakni seribu hari pertama. Karena grafik pertumbuhan otak, motorik halus, motorik kasar terjadi pada masa itu. Periode ini orang tua harus penuh perhatian.

Hal itu disampaikan Dr H Hasto Wardoyo SP (OG) dalam Talkshow "Kajian Medis Filosofi Jawa" di Hotel Sahid Jaya Yogyarkata, Rabu (23/1/2019) Lebih lanjut disampaikan bahwa banyak pitutur yang disampaikan untuk menjaga anak saat masih berada dalam kandungan sampai usia-usia pertumbuhan. Karena pada periode ini banyak faktor yang bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan, seperti janin tumbuh lambat, kata Bupati Kulon Progo ini.

Oleh karena itu, tandas Hasto, deteksi dini atas tumbuh kembang anak itu penting sekali. Usia sembilan bulan anak harus mulai mengenal orientasi. Misal dilambangkan dengan tebu yang kerata basanya anteping kalbu. Anak dibimbing untuk berjalan lurus menapaki tangga warna-warni sebagai simbol perjalanan kehidupan. Juga orientasi warna-warni jadah. Ini  penting untuk perkembangan motorik anak.

“Proses orientasi berikutnya saat anak dimasukkan dalam kurungan. Kalau anak dimasukkan dalam kurungan lalu diam saja, kita orang tua bertanya-tanya, jangan-jangan anak ini mengalami gangguan tumbuh kembang. Harunya saat anak pisah dengan ibu itu merasa cemas dan galisah," jelasnya.

Pada masa ini anak juga memiliki kesadaran tentang milik diri. Kalau mainannya diambil dia diam saja, jangan-jangan integensinya tidak cukup, tandasnya.

Sementara itu Ketua Panitia Mukti Yudaningsih SH dari Pengantin Production Yogyakarta mengatakan, beragam versi menyangkut tedhak siten, tarapan dan tingkepan di satu sisi menunjukkan keragaman adat tetapi di sisi lain juga memunculkan kegelisahan diantara pelaku jasa upacara dan masyarakat pengguna.

"Muatan pemaknaan dan pemahaman dari sebuah simbol dan tata laksana upacara adat, lambang dan  filosofi upacara, perlu ditingkatkan kualitasnya sehingga  memiliki pesan dan ilmu yang lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama,” tuturnya.

Lebih dari 150 peserta hadir dalam talk show yang dilanjutkan dengan ritual upacara tedhak siten dan tutorial make up. Harapannya semua pelaku Make up Artis (MuA) bisa melakukan ritual ini saat diminta.(Udi)

 

 

 

 

 

 


share on: