Yogyapos.com (SLEMAN) - Perhelatan Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) ke-5 pada tahun 2020 ini bakal digelar pada 14-17 Maret di Jogja Expo Centre. Sebagai upaya sosialisasi program, panitia JIFFINA menggelar soft launching yang mengundang sejumlah penggiat furniture di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo, Rabu (15/1) malam.
Dalam kesempatan tersebut hadir Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X, Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih, Bupati Sleman Sri Purnomo, Kadis Perindag DIY Aris Riyanta, Kadispar DIY Singgih Raharjo serta Ketua DPP Asmindo Anggoro Ratmodipuro.
Ketua Komite JIFFINA 2020 Endro Wardoyo mengatakan, acara ini menjadi momentum yang paling ditunggu bagi penggiat furniture dan kerajinan berskala global, lantaran tidak ada pameran serupa. “Untuk tahun ini akan diikuti sekitar 300 peserta yang bakal dihadiri oleh 65 negara. Mayoritas peserta expo berasal dari DIY, Jateng, Jatim dan Bali. Kami pun mematok target transaksi bisa mencapai 80 juta US Dollar. Dengan agenda ini, kami berharap bisa memperbaiki neraca perdagangan serta meningkatkan ekonomi Negara kita,” ujar Endro didampingi Timbul Raharjo selaku Ketua Forum JIFFINA Jawa-Bali.
Timbul Raharjo menambahkan, persaingan industri furniture saat ini cukup ketat. Vietnam menjadi kompetitor terdepan di kawasan Asia Tenggara. “Industri furniture di Indonesia harus berdaya saing global, dengan menelurkan inovasi-iovasi baru yang mempunyai nilai kreasi tinggi. Kami optimis omzet dan buyer akan meningkat pada pameran Jiffina tahun ini. Kami juga optimis target tersebut dapat tercapai," jelas Timbul.
Sementara Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, berdasar data dari BPS, nilai ekspor furniture Indonesia per November 2019 mencapai 1,7 miliar Dollar Amerika. Prosentasenya naik 12,6 persen. “Dengan capaian ini, sektor furniture terus didorong pertumbuhannya oleh pemerintah. Jadi kalau kita melihat angka ini berarti disitu memperlihatkan pasar industri furniture ini sangat potensial. Kepada para pelaku industri hendaknya dapat memproduksi furniture dengan lebih memperhatikan keseimbangan lingkungan hidup.
Tak hanya bermaterikan kayu saja, bisa dikombinasikan dengan material logam, plastik daur ulang hingga bambu. Sesuai dengan spirit yang diusung JIFFINA ke-5, Serve The World With The Unique Diversity & Eco Lifestyle,” kata Gati Wibawaningsih.
Dalam arahannya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menegaskan jika perlu menerapkan 6 karakteristik produk yang ramah lingkungan. Yakni kayu bersertifikat, mudah dibongkar dan dibawa pulang, tahan lama dan mudah diperbaiki, berbahan logam dan plastik daur ulang, berbahan kayu reklamasi dan produk lama serta menggunakan bahan baku bambu untuk aksesoris perabotan. “Saya sangat berharap kriteria tersebut bisa diterapkan dalam produk-produk yang akan dipamerkan. Sebab jika masih jauh ketinggalan dengan produk serupa dari negara lain seperti Vietnam sebagai kompetitor utama mebel Indonesia. Acara ini juga menjadi multi impact yang positif bagi penggiat UKM,” pungkas Gubernur DIY. (Dol)
