HUT Sanggar Bambu, Totok : Pegang Teguh Amanah Pendiri

share on:
Untung Basuki dan Bambang Pujiono dalam HUT Sanggar Bambu || YP-Wahjudi Djaja

SANGGAR Bambu sudah banyak makan asam garam kehidupan. Sejak lahir 63 tahun lalu telah mengalami berbagai zaman dengan beragam peran. Banyak orang besar yang lahir dan dididik oleh Sanggar Bambu. Meskipun sampai saat ini masih belum memiliki sekretariat yang tetap tetapi bara perjuangan masih menyala tersimpan di dada para anggotanya yang bertebaran di penjuru Nusantara.

Demikian intisari sambutan Ketua Sanggar Bambu, Totok Bukhori, saat peringatan hari lahir ke-63 sekaligus Syawalan di kawasan Monumen Juang '45 Klaten, Minggu (15/5/2022). Hadir dalam acara itu segenap pengurus komisariat Sanggar Bambu dari Banyumas, Yogakarta, Klaten, Solo, Boyolali, Sukoharjo.

Berpegang teguh pada amanat dan wasiat para pendiri Sanggar Bambu, lanjutnya, kita tidak berafiliasi kepada kekuatan politik manapun. "Jalan perjuangan kita adalah jalan kebudayaan. Sebagaimana catatan sejarah, Sanggar Bambu meyakini bahwa Pancasila adalah sumber dan semangat perkembangan kebudayaan buat mengangkat derajat manusia pada martabatnya,” tandasnya sambil mengutip isi Ikrar Sanggar Bambu yang dicetuskan Purwodiningratan pada 14 Desember 1963.

Sanggar Bambu didirikan pada 1 April 1959 oleh Soenarto PR, Kirdjomuljo, Heru Soetopo, Suwarjoyo, Soeharto PR, Sumaji, Handoko Soekarno, Janarto, dan Mulyadi W. Banyak melahirkan seniman beken seperti Mien Brodjo, Danarto, Sawung Jabo, GM Sudarta, Rustamadji, Sudarmo KD, dll.

Para senior dulu, imbuh Totok, mempunyai semboyan yang sangat bijak. “Kau datang dengan karya, aku ikut. Kau datang ingin bicara, aku dengar. Itulah jalan kebudayaan Sanggar Bambu,” katanya.

Terkait perkembangan Sanggar Bambu ke depan, Totok menyampaikan telah menemui GKR Mangkubumi agar ikut memikirkan sebuah tempat yang bisa dijadikan sekretariat dan pusat kegiatan. “Sekretariat yang kami sewa di Tempuran Tamantirto Kasihan Bantul sebentar lagi habis waktunya. Kami diminta oleh Gusti Mangkubumi untuk mencari lokasi yang statusnya sultan ground untuk dijadikan markas Sanggar Bambu. Semoga segera ada jalan dan memperoleh lokasinya,” jelasnya sangat berharap.

Dalam sambutannya selaku tuan rumah, Ansori Mozaik menyampaikan, Sanggar Bambu merupakan medan perjuangan tempat para anggota, sahabat dan kerabatnya berkarya. “Kami berterima kasih karena peringatan hari lahir dan syawalan Sanggar Bambu digelar di Klaten. Harapan kami agar sanggar yang telah ada sejak Orde Lama ini tetap bisa bertahan. Seperti kata pelukis Affandi bahwa sanggar yang benar-benar sanggar adalah Sanggar Bambu,” tandasnya.

Sementara itu Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Klaten, Yuli Budi Susilowati SH MH, dalam sambutannya mengungkapkan rasa terima kasih dan bangga bahwa Klaten dijadikan pusat peringatan hari ulang tahun Sanggar Bambu.

“Kawasan Monumen Juang 45 ini pada Nopember tahun lalu telah kami jadikan taman budaya. Selain pendopo untuk kegiatan ini, juga ada museum tempat menyimpan beragam jenis peninggalan sejarah budaya. Juga kami bangun galeri untuk pameran dan pusat kegiatan. Kami berharap, mari berkolaborasi untuk sama-sama memajukan kebudayaan,” tandasnya.

Dalam sarasehan selepas acara, Ocong Soeroso merasa terketuk hatinya melihat kondisi Sanggar Bambu saat ini. “Jujur saya marah saat ada yang mengatakan bahwa Sanggar Bambu tak lebih sebuah fosil. Ini cambuk bagi kita untuk bergerak dan berkarya. Mari kita buktikan bahwa Sanggar Bambu yang pernah melahirkan seniman-seniman besar itu masih eksis,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu musisi Untung Basuki usul agar segera ditindak lanjuti dengan membentuk tim atau panitia. “Perlu segera dibentuk tim yang khusus mengawal masalah legalitas, lokasi tanah, dan aspek lain yang terkait. Jangan sampai ini menguap begitu saja,” harapnya.

Senada dengan Untung, pelukis Klaten Bambang Pujiono, menyampaikan aspek legalitas memang vital bagi sebuah organisasi. “Memang itu menjadi dasar eksistensi Sanggar Bambu. Karena dengan legalitas yang kuat, kita bisa membuka peluang lebih luas dan menginisiasi kegiatan lebih besar,” pesannya.

Peringatan hari lahir ke-63 Sanggar Bambu dimeriahkan dengan baca puisi oleh Suryono (Klaten) dan Ahmad Masih (Yogyakarta). Pentas musik oleh Untung Basuki dan Supono Pr serta penampilan lady rocker Sanggar Bambu, Picuk Siwi Asmara. Monolog oleh Liek Suyanto tentang kisah hidupnya, serta sambutan pinisepuh Hadi Wijaya (Banyumas). Hadir dalam acara itu selain sahabat dan kerabat Sanggar Bambu dari berbagai wilayah juga Dewan Kesenian Klaten, Ketua Paguyuban Seni Rupawan Klaten (Pasren) Karang Sasongko, serta Carik Tambong Wetan, Agung Wiyono. (Wahjudi Djaja)

 


share on: