Festival Purbakala III Dipusatkan di Gilangharjo

share on:
Sigit Sugito, inisiator Festival Purbakala III || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Panitia Festival Purbakala III memilih Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul sebagai ajang pelaksanaan kegiatan yang akan dihelat pada 14 Juni 2021. Wilayah ini menjadi penting sebagai bagian dari sejarah berdirinya Kraton Mataram. Salah sat penandanya adalah Situs Selo Gilang yang diyakini menjadi tempat turunnya wahyu Mataram.

Inisiator Festival Purbakala, Sigit Sugito, pemilihan Kalurahan Gilangharjo menjadi tempat penyelengaraan festival lebih didasari bahwa di Kalurahan Gilangharjo terdapat situs Watu Gilang.

“Melalui festival yang memasuki tahun ketiga ini, diharapkan generasi muda akan memahami benang merah sejarah dari masa lalu untuk merancang masa depan,” katanya, Sabtu (12/6/2021).

Sigit Sugito menambah, kedepan pelaksanaan Festival Purbakala difokuskan di Kalurahan-kalurahan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehingga pelakasanaannya juga akan mengangkat potensi Kalurahan-kalurahan tersebut.

Pada festival purbakala kali ini berbagai acara telah dipersiapkan diantaranya pertunjukan seni tradisi, pembacaan dan diskusi puisi oleh pembicara KPH Wiranagoro, Maria Tri Widayati dari Komunitas Kandang Kebo, serta Satriya Wibawa dari Institute KaHaDe.

Kalurahan Gilangharjo memiliki berbagai potensi yang selamainibelum tergali, Lurah Kalurahan Gilangharjo Drs Pardiyono, berharap pelaksanaan Festival Purbakala ini akan menjadi bagian untuk mempromosikan potensi yang adadi Kalurahan Gilangharjo.

Sigit menegaskan, tradisi dan kebudayaan telah terbukti menjadi perekat dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah memberikan spirit bagi keberlangsungan tata kehidupan yang menjadi pondasi terbentuknya tata nilai dalam masyarakat.

Spirit kebudayaan membuka ruang untuk memunculkan keragaman identitas dan segala manisfestasi ekspresif. Spirit kebudayaan juga memberi ruang untuk bertemunya antar komunitas, antar kelompok dan membuka ruang dialog untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang berbasiskan lokalitas.

“Ruang dialog menjadi penting dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman intercultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khasanah, sehingga akan tercipita karya kreatif masyarakat yang hidup dalam balutan kebudayaan serta dapat memanfaatkan segala khasanah yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya,” pungkasnya. (*/Met)

 

 


share on: