Disparbudpora Klaten Pindahkan Artefak Asal Karangnongko ke Monumen Juang

share on:
Artefak yang dipindahkan ke Monumen Juang || YP-Ist

Yogyapos.com (KLATEN) - Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten melalui Bidang Kebudayaan memindahkan artefak yang ditemukan di Desa Demakijo dan Desa Gumul, Kecamatan Karangnongko ke Monumen Juang. Pemindahaan tersebut dilakukan sebagai upaya pelestarian benda cagar budaya hasil temuan masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan, Yuli Budi Susilowati mengatakan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tersebut dipindahkan pada Selasa(12/10/2021) lalu dari lokasi ke Monumen Juang. Sebelumnya artefak tersebut tersebar di lahan milik masyarakat seperti areal persawahan, perkebunan, hingga tepi jalan umum.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan ODCB yang tersebar agar lebih terawat dan terlestarikan. Karena, meski berada di lahan milik warga, tidak ada yang merawat,” ucapnya, Sabtu (16/10/2021).

Terdapat 11 artefak yang dipindahkan oleh Tim Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbudpora Klaten. Satu di antarakan berupa yoni, sementara sisanya pecahan arca dan batuan. Kegiatan ini juga bagian dari inventarisasi dan identifikasi benda cagar budaya.

“Kalau tidak kami kumpulkan, dikhawatirkan bertambah rusak hingga sulit untuk diidentifikasi. Padahal artefak yang ditemukan bisa jadi memiliki catatan sejarah yang penting,” jelasnya

Selanjutnya pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. Wilayah Kecamatan Karangnongko diperkirakan masih menyimpan banyak artefak yang masih belum ditemukan, terlebih di wilayah tersebut banyak terdapat situs bersejarah seperti Candi Merak.

Yuli Budi Susilowati menjelaskan sebagian masyarakat masih belum memahami pentingnya pelestarian benda cagar budaya. Sehingga sebagian artefak yang ditemukan oleh warga kondisinya tidak terawat.

“Ada sebagian lainnya terawat dan dilestarikan oleh masyarakat, seperti artefak yang kondisinya tidak terpendam. Namun ada juga yang sampai beralih fungsi sebagai batu fondasi karena ketidaktahuan sebagian masyarakat. Ini merupakan tugas kami untuk memberikan edukasi agar semakin banyak masyarakat yang memahami pelestarian benda cagar budaya,” pungkasnya. (Arifin)

 


share on: