Dies Natalis UWM ke-39, Mahfud MD: Pengajar di Kampus Jangan Jadi Diktator

share on:
Ketua Yayasan Mataram Prof Moh Mahfud MD dalam sambutannya pada Dies Natalis ke-39 Universitas Widyamataram (UWM) Yogyakarta melalui aplikasi zoom, Kamis (7/10) || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Para pengajar di kampus tidak menjadi seorang ‘diktator’, mengandalkan ajarannya dari diktat dan ujian semata. Membuat diktat, disampaikan di kelas, lalu ujiannya hanya keluar dari diktat, tanpa membuat studi terhadap buku yang harus dibaca dan soal-soal ujian berasal dari buku yang tidak ada di dalam diktat yang disampaikan di dalam ruang kuliah.

“Sekarang sudah banyak buku elektronik. Supaya dibiasakan tukar menukar informasi tentang buku baru terutama yang terkait dengan ilmu-ilmu yang dikembangkan di UWM ini,” ujar Ketua Yayasan Mataram, yang juga Menkopolhukkam RI Prof Moh Mahfud MD dalam sambutanny apada Dies Natalis ke-39 Universitas Widyamataram (UWM) Yogyakarta melalui aplikasi zoom, Kamis (7/10).

Memperingati hari lahirnya 7 Oktober, sivitas akademika UWM merayakan Dies Natalies tersebut di Pendopo Agung Ndalem Mangkubumen Yogyakarta. Acara bertajuk ‘Hamemayu Hayuning Widya Mataram dalam Membangun Budaya dan Karakter Bangsa’ dihelat secara luring dengan undangan tamu terbatas serta daring melalui zoom.

Ikut memberikan sambutan dalam acara tersebut Ketua L2DIKTI V Bhimo Widyo Andoko, serta Laporan Tahunan Rektor UWM Prof Edy Suandi Hamid.  Orasi Ilmiah disampaikan Dr Octiva Anggraini berjudul ‘Gender Digital Divide dan Pemberdayaan Perempuan.

Lebih lanjut Mahfud MD menekankan pentingnya kampus terus mengembangkan budaya literasi dalam dunia pendidikan. Kampus harus mampu membangun keyakinan kepada para mahasiswa, agar menyadari dan menghayati bahwa dunia kemahasiswaan, dunia perguruan tinggi itu adalah dunia yang mulai mandiri. Mahasiswa tidak lagi terlalu banyak bergantung pada kuliah-kuliah di kelas, tetapi sebagian besar ilmu yang harus diperoleh dari setiap mata kuliah itu harus dicari sendiri.

 

Tentang kampus berbasis budaya Mahfud MD yang saat ini menjabat sebagai Menkopolhukam RI mengingatkan kembali bahwa berdirinya UWM ini tidak dimaksudkan untuk menambah daftar perguruan tinggi yang jumlahnya hampir 100 padawaktu itu di DIY, tetapi ingin memberi sumbangan bagaimana universitas itu dikembangkan berdasarkan kearifan budaya Indonesia.

“Apa itu budaya? Budaya adalah hasil daya kita, rasa, dan karsa manusia. Oleh sebab itu kalau mau berbasis budaya, makapendidikan yang dibangun di UWM ini adalah pendidikan yang menimbulkan ide-ide besar, membiasakan mahasiswa agar memiliki ide-ide orisinil, pembaharuan, tetapi tidak membahayakan. Tetapi juga ada rasa, artinya kearifan hati nurani, sehingga setiap apapun yang dibangun harus berbasis kemanusiaan, berbasis kemaslahatan. Sementara karsa adalah kreativitas, sehingga apabila dilihat hasil produk budaya adalah hasil ciptaan manusia dengan penuh rasa dan karsa, maka yang muncul dari kebudayaan adalah keindahan dan kearifan,” pungkas Mahfud MD. (*)

 


share on: