SUATU ketika saya dan Ki Sigit Sugito, yang kita kenal ia sebagai seniman dan pegiat kesenian di Yogyakarta, memperbincangkan tentang musisi jalanan Angklung Malioboro. Ada beberapa perspektif mengenai musik bambu ini, terutama dari sisi pejabat/birokrat yang mencuat di media massa dan menjadi diskursus publik.
Disisi lain, kami juga memotret suka duka para pelaku seni tradisi di jalanan itu. Saya juga pernah ngobrol dengan Mas Khocil Birowo, seniman yang juga sebagai wartawan di SKH Kedaulatan Rakyat. Beberapa hal obrolan dengan mereka berdua, sebagian saya tuangkan dalam tulisan ini.
Pertama, ada pendapat bahwa musik angklung bukanlah musik asli Yogyakarta. Kedua, ada yang bilang juga bahwa musik angklung yang bermain di trotoar Malioboro (sebelum Covid-19) adalah turunan dari PKL (Pedagang Kali Lima). Dari dua perspektif itu, maka kemudian menjadi dasar untuk sementara waktu menghentikan permainan musik angklung di Malioboro.
Hal ini sejalan dengan larangan PKL berjualan di sepanjang trotoar Malioboro, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Gubernur DIY – agar Malioboro tampak lebih asri, indah dan bersih.
Berangkat dari pendapat tersebut, Ki Sigit Sugito bilang bahwa perlu ada diskusi lebih jauh, serta dilihat dari berbagai sudut pandang agar output diskusinya lebih kaya, lebih bermartabat, berkeadilan dan lebih berperikemanusiaan. Oleh karenanya, Selasa 28 Maret 2023, Pk 14.00 WIB, Ki Sigit Sugito dan KOSETA DIY (Koperasi Seniman Yogyakarta), mengundang kita semua untuk berdiskusi untuk membicarakan hal itu.
Terlepas dari itu semua, saya pun tentunya juga punya opini. Opini saya berangkat dari pengamatan empiris, yakni sekitar 8 tahun yang lalu saya intens ke Malioboro, di saat saya sedang membangun channel Youtube Sarwanto H Swarso, dengan jargon Tips dan Hiburan, sambil mencari bahan (hunting) untuk tulisan di Sosmed dan blog pribadi.
Sebagai konten kreator yang juga jurnalis, tiba-tiba pengamatan saya tertuju pada aktivitas musik angklung yang setiap malam main di Malioboro dengan penikmat yang selalu membludag. Lalu saya mencoba mengindentifikasi, siapa saja penonton yang berkerumun di empat group angklung yang main saat itu. Empat group itu, tepatnya main di depan Malioboro Mall (Calung Funk), depan Toko Ria Busana (Banesa), depan Toko Busana Muslim Al-Farth (Carehal) dan depan Ramai Dept Store, sisi timur jalan (Angklung Rajawali).
Berdasarkan pengatamatan selama delapan tahun itu, ternyata penonton pengamen angklung terdiri dari wisatawan lokal, regional, bahkan dari mancanegara. Mereka kebanyakan merasa terhibur dengan performance angklung yang bisa membawakan lagu apa saja. Mulai lagu daerah, lagu pop, dangdut, hingga lagu mancanegara yang sedang nge-hits. Lagu manca kala itu yang ngetop di berbagai kalangan, misalnya, lagu yang berjudul Despacito. Begitu lagu ini dimainkan, semua berjoget, termasuk bule yang singgah di Malioboro. Video-videonya masih terdokumen rapi di platform Youtube dan yang lainnya.
Lagu-lagu lain pun tak kalah serunya. Ada lagu Yogyakarta (Kla Project), Caping Gunung, Lagu-lagu Jawa Timuran, Ojo Dibandingke, Pamer Bojo, Sewu Kutho, Runtah, Kidung Wahyu Kolosebo, Ilir-ilir, Gundul-gundul Pacul, Sholawatan, Tamba Ati, Gambang Suling, Sotya, Rondho Kempling, dan tembang-tembang Jawa Tengah, DIY yang jumlahnya cukup banyak hingga saya tidak mampu menghafal semuanya. Lagu-lagu dari Medan, Aceh, Madura, lagu Jakartanan (Betawi), Sunda, dan seabreg lagu lainnya seperti lagu-lagu Slank, Achmad Albar, Rhoma Irama, hingga lagu anak-anak Pok Ame-ame pun, digarap dengan musik angklung yang lucu dan menghibur penonton.
Lantas apa kesimpulan saya berdasarkan pengamatan empirik? Musik angklung di Malioboro cukup menghibur pengunjung Malioboro. Musik angklung ini merupakan sarana yang efektif untuk mempublikasikan Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Kota Pariwisata. Saya sempat merekam omongan dan komentar para pengunjung Malioboro, bahwa inilah bukti bahwa Yogyakarta adalah Kota Budaya, Kota Pelajar yang selalu kreatif dan inovatif, Kota Bhineka Tunggal Ika, serta sebutan lainnya yang cukup membuat saya bangga sebagai warga asli Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat musik angklung, Kota Yogyakarta bisa digambarkan sebagai kota yang memiliki nilai religiusitas yang tinggi.
Lalu jika timbul hal negatif yang kemudian justru lebih banyak dibicarakan oleh kalangan tertentu, ketimbang sisi positifnya – meskipun itu hanya akan cepat berlalu sebagaimana karakter Sosmed -- misalnya hal negatif itu ada gerakan joget yang dianggap kurang sopan, atau garapan musik yang dianggap kurang membawa cita-rasa Ngayogyakarta Hadiningrat?
Ya, ini tentu tugas kita bersama. Menurut saya, adanya birokrasi yang mengawasi apa saja yang terjadi di Malioboro, perlu untuk dioptimalkan. Pengawasan itu tentu harus dibarengi dengan pendampingan dan pemberian bimbingan, yang berkiblat saling Asah, Asih dan Asuh. Sebab, mereka (seniman jalanan) ini juga manusia biasa. Mereka perlu wadah berekspresi, yang kadangkala juga terpancing “maunya” penonton, mereka ini (musisi jalanan) mencari rejeki untuk hidup keluarganya, mereka ini juga perlu diajak berkomunikasi, berdialog secara terus-menerus. Performance musisi angklung di trotoar sebelum covid-19 datang dan kemudian dilockdown, mengingatkan saya akan pertunjukan teater sampakan yang ngetop di tahun 90-an. Konsep teater arena dan sampakan, memperlihatkan kehangatan antara pemain (aktor), pemusik dengan para penonton.
Di titik ini, mereka membangun komunikasi seni, kehangatan sebagai warga negara yang kadangkala dibumbui canda-tawa, humor, saling menghibur dan jauh dari rasa saling membenci. Fenomena unik itu pernah terjadi manaka dua suporter sepakbola yang main di Stadion Sultan Agung Bantul, DIY – mereka berseteru yang diwarnai kekerasan antara Bonek dengan Arema, pada malam itu mereka bisa akur di pentas musik angklung. Bahkan kedua pentolannya menyatakan berdamai dan joget bareng sambil menyanyikan lagu Mars Bonek (berjudul Emosi Jiwaku) dan lagu Mars Arema (Salam Satu Jiwa), diiringi musik Angklung Rajawali Malioboro.
Berdasarkan pengamatan saya, kadangkala pengunjung yang menonton angklung ini merasakan kebahagiaan yang berlebih (euphoria), sehingga joget mereka kadangkala tak terkontrol. Sebagai rakyat kelas bawah, mungkin disitulah mereka kelasnya bisa membeli kebahagiaan. Sementara itu, semua orang membawa kamera. Lalu pada adegan tertentu yang hanya beberapa detik itu, mereka rekam dan diviralkan. Lalu grup angklunglah yang akan terkena dampaknya, dianggap tidak sopan, tidak memiliki tata-krama dan lain sebagainya. Apes dech !!
Padahal berdasarkan pengamatan saya, membentuk grup musik semacam group angklung ini, tidaklah semudah yang kita bayangkan. Disini harus ada kesamaan jiwa. Ada kesamaan passion. Mereka harus paham karakter musik bambu, sehigga ketika alat musik ini tiba-tiba fals karena hujan dan kepanasan karena sering pentas di out dor, mereka juga harus bisa memberesi kefalesan alat musik ini. Mereka harus selalu enjoy memainkan musik tradisi ini, di tengah gempuran dan hingar-bingar alat musik modern. Modal awal pengadaan alat musik bambu, tidaklah murah, berdasarkan tolok ukur kemampuan ekonomi mereka. Pokoknya, masih terlalu banyak yang ingin saya ceritakan tentang perjalanan musik jalanan angklung. Suka duka mereka, saya pernah melihatnya langsung, bagaimana pas main baru 5 menit, tiba-tiba hujan lebat dan pentas outdor itu harus bubar dan di kotak sukarela baru ada saweran 15 ribu. Sukanya, kadangkala ada juga orang baik hati yang ngasih agak lumayan dan bisa buat membeli beras. Tapi itu pun tidak setiap saat dan tidak bisa dijagakke. Dan hal yang paling membahagiakan yang tak ternilai harganya adalah bentuk penghargaan, serta apresiasi penonton yang biasanya berakhir dengan paseduluran yang panjang.
Lantas apa harapan saya soal belum dimainkannya Angklung di Malioboro -- yang sempat viral di Sosmed belakangan ini -- terutama sempat trending di Twitter?
Angklung Malioboro, hendaknya segera dimainkan. Jika selama ini, satu video angklung malioboro (dari ribuan video yang dipublish di Sosmed), yang ditonton oleh jutaan penonton di seluruh belahan dunia ini, maka itu sarana yang efektif dan murah meriah untuk mempublikasikan Yogyakarta, sebagai tujuan wisata kedua setelah Bali. Maka tak aneh jika salah satu Walikota di Jawa Timur, beberapa tahun silam ingin memboyong grup-grup angklung untuk dimainkan di wilayahnya. Bahkan tempatnya pun sudah disediakan, yang bentuknya sangat mirip banget dengan Malioboro. Tapi ternyata temen-temen angklung tidak bergeming. Mereka sudah terlalu cinta dengan Yogyakarta. (Sarwanto H Swarso adalah Penulis, Konten Kreator, Pegiat Sosmed dan Jurnalis)
