Christiana Veni Rosita Usung 'Mahagony' dari Bahan-bahan Hasil Teknik Shibori

share on:
Persembahan 'Mahagony' dengan karya dari bahan-bahan hasil teknik Shibori karya desainer Christiana Veni Rosita yang memukau || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Mengangkat tema Mahagony dengan karya dari bahan-bahan hasil teknik Shibori, desainer Christiana Veni Rosita tampil memukau pada perhelatan Invitation Trunk Show Resurrection di Boutique Hotel Yogyakarta, Minggu (17/10/2021) sore. Pada event kali ini Rosita selaku owner Rosita Batik Shibori berkesempatan memamerkan 5 baju rancangan terbaiknya.

"Yang kami tampilkan merupakan karya baju-baju shibori, tetapi dengan desain Indonesia, dikerjakan dengan teknik shibori ala Jepang, shibori sendiri awalnya berasal dari Jepang yakni seni ikat-mengikat, dilipat, dikompres kemudian dicelup lalu dibuka ikatannya maka akan membentuk motif. Saya mengembangkan batik dengan mengaplikasikan sejumlah teknik shibori, dengan memakai memakai jarum dan benang," terang desainer yang akrab disapa Rosita kepada wartawan disela acara.

Tampilan beda dari busana besutan desainer asal Surabaya ini, yakni dengan menonjolkan tema Mahagony atau tanaman Mahoni. Dipilihnya tema ini lantaran proses pewarnaan kain dikerjakan dengan cara alami, berwarna coklat yang berasal dari warna Mahoni. Hasli karyanya sengaja dilempar ke pasar untuk semua segmen, dari kalangan usia menengah maupun yang muda.

"Warna coklat alami yang berasal dari Mahagony, filosofinya dia warnanya coklat yang merupakan warna tanah dan warna bumi tempat tumbuhan, jadi kita mencintai bumi dan kehidupan, kembali ke alam,"ungkap dia.

Menurut dia, untuk menghasilkan satu karya dibutuhkan waktu sekitar 3 minggu, selain memanfaatkan bahan alami dari pohon Mahoni, sebelumnya dia juga menggunakan sejumlah perwarna daun Indigo vera, daun mangga, daun jati dan kunyit dengan bahan baku berupa kain katun 100 persen.

Soal desain karyanya lebih menonjolkan batik Indonesia, seperti flora dan fauna. Hasil karya dengan sistem pewarnaan alami ini terbilang lebih aman dan ramah lingkunga, pihaknya mematok  harga pada kisaran Rp 350 ribu untuk bagian atas dan untuk kain selendang dihargai Rp 1,7 juta hingga Rp 2,5 juta.

"Karya rancangan saya ciptakan untuk semua segmen, artinya bisa untuk usia middle atau ibu-ibu, tapi kami juga menampilkan model yang lebih ke anak muda. Yang saya tampilkan tadi diantaranya berupa kebaya untuk kondangan, baju kantor, baju santai,"ungkap dia.

Ketua Panitia Invitation Trunk Show Resurerection, Ferry Setiawan menjelaskan bahwa digelarnya kegiatan ini bertujuan untuk menggairahkan dan membangkitkan kembali dunia fasyen Indonesia, khususnya para pelaku UMKM fasyen dan industri busana di Kota Yogyakarta. Pelaksanaanya dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

"Beberapa desainer kami undang untuk memeriahkan acara peragaan busana ini, bertujuan untuk membangkitkan dunia fasyen di Indonesia khususnya di Yogyakarta yang kemarin sempat terhenti karena pandemi Covid-19, diikuti sebanyak 12 desainer berasal dari Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Bangka Belitung, Banyuwangi, Klaten. 8 Desainer berasal dari Yogyakarta," kata Wawan. (Opo)

 


share on: