BBS EDISI 160, PROF FARUK :  43 Tahun di Yogya ‘Belum Bisa’ Menjadi Jawa

share on:
Prof Dr Faruk | YP/Latief SN

“SAYA kira-kira sudah 43 tahun di Yogya. Saya meninggalkan kampung halaman saya, Banjarmasin, pada usia 19. Artinya lebih banyak di Yogya. Hampir setiap hari dalam berkomunikasi saya menggunakan bahasa Jawa, bahkan beberapa kosakata Banjarmasin yang saya lupa. Tapi, yang bikin jengkel, ketika saya ngobrol dengan orang Jawa menggunakan bahasa Jawa, sudah panjang lebar berbincang lah kok masih ditanya juga, Njenengan ki asline ngendi? (Anda berasal dari mana?). Konangan, ketahuan kalau bukan Jawa. Sudah 43 tahun tinggal di Yogya, ternyata saya ‘belum bisa’ menjadi Jawa,” ucap Prof Faruk mengawali topik perbincangan ‘Yogyakarta Ibunda Tercinta dalam acara Bincang-Bincang Sastra (BBS) yang digelar oleh Studio Pertunjukan Sastra (SPS), di Ruang Seminar TBY, akhie pekan lalu. Faruk hadir selaku pembicara bersama Indrian Koto dan Edi AH Iyubenu. 

Acara Bincang-Bincang Sastra kali ini kembali menelisik langkah laku proses kreatif para sastrawan di tanah kelahiran kedua bernama Yogyakarta. Yogyakarta menjadi rumah yang nyaman bagi siapa saja yang datang, bagi yang sekadar bertandang maupun yang kemudian tinggal dan menetap. Atmosfer kreatif di Yogyakarta, konon tidak terjadi di tempat lain.

“Sebagai pendatang, kalau mau bicara soal bagaimana hubungan pribadi dengan Yogya, jika diibaratkan ibu maka masih banyak kategori ibu bagi kami para pendatang ini. Kalau ditanya, Yogya itu ibu angkat, ibu tiri, ibu asuh, ibu susu, ibu mertua, atau ibu apa?  Itu agak susah jawabnya. Saya menganggap di Yogya itu lebih tepatnya ngindung. Jadi meskipun sudah sekian lama, di Yogya sebenarnya saya cuma numpang,” tukas Faruk.

Kepala Pusat Kebudayaan Koenadi Harjasoemantri (PKKH) UGM itu menambahkan, ibaratnya tinggal di rumah seseorang. Meskipun dianggap saudara, dia merasa tidak pernah bisa menjadi bagian dari keluarga. Tidak menjadi bagian dari itu. “Saya juga tidak tahu mengapa saya ‘tidak pernah bisa’ menjadi orang Yogya. Mungkin karena Yogya terlalu megah, mewah, tinggi sehingga saya selalu kagok, tidak nyaman, asing memasukinya,” katanya.

Faruk menyatakan, kompleksitas Yogya membuatnya tidak bisa masuk. Tetapi mungkin juga karena posisinya sendiri, modal-modal yang dibawa, benih-benih yang sudah tertanam di tubuhnya, yang membuat dia tidak bisa beradaptasi sepenuhnya. Yogya telah memberi apa yang dimilikinya. Yogya seakan-akan telah menyerahkan semuanya. Tapi, jangan dikira Yogya telah menyerahkan semuanya. “Sekali lagi, Yogyakarta tidak pernah memberikan semuanya, sakmadya (secukupnya atau sekadarnya) saja,” paparnya.

Faruk menegaskah bahwa Yogya itu ‘gombal’. Yogya akan mengubah yang kotor menjadi bersih atau meratakan kotoran di sesuatu yang  bersih. Kesalehan Faruk muda sebagai seorang muslim hanya bertahan sampai tiga bulan awal di Yogya. Kemudian, di Fakultas Sastra UGM ia bertemu dengan paham eksistensialisme sebagai satu paham filsafat yang dipandangnya sangat radikal dan membuat ia kembali mempertanyakan semua hal yang sangat fundamental. Sejak saat itu ia menjadi Faruk yang baru. Tentu saja, bukan berarti sepenuhnya hal itu karena Yogya.

Kini Yogyakarta sangat ramai dipenuhsesaki kendaraan dan lalu-lalang orang-orang. Tapi kita patut bertanya, dari sekian itu yang orang Yogya mana? Bisa jadi tidak ada satu pun orang Yogya di situ. Tapi, sewaktu-waktu Yogya akan muncul di saat-saat penting dan genting. Selebihnya adalah sakkarepmu (semaumu). Sakkarepmu bagi Yogya mengandung dua maksud; mempersilakan atau nesu (ngambek). Yogya itu memangku, bisa mapakake, ngepenakake, namun juga bisa mateni. Ia tidak pernah satu makna. Seperti yang juga identik pada Yogya, plesetan. “Yang sangat penting ialah bahwa orang Yogya mengajak siapa saja berpikir dengan cara pandang yang lain,” simpul Kaprodi program pascasarjana Ilmu Sastra FIB UGM itu.

Berbeda dengan Indrian Koto yang mengungkapkan komunitas yang tumbuh berkecambah telah membuat daya kreatif di Yogya makin kuat. Kehidupan sastra tumbuh dari kebersamaan dan tegur sapa kreatif itu. Perjumpaan dengan sejumlah nama dari yang awalnya cuma bisa dibaca di media cetak membuat Yogya jadi rumah yang akrab. Yogya memiliki banyak pintu, siapa saja bisa masuk dan keluar dari pintu mana saja. Seseorang yang pada mulanya bukan penulis, karena tradisi personal yang berubah komunal kemudian mengubahnya.

Sedangkan Edi AH Iyubenu menyebut bahwa Yogya itu mengalir. Oleh karenanya ia enggan meninggalkan Yogya. Baginya tidak ada yang lebih menarik dari atmosfer Yogya.


Searah jarum jam: Mustofa W Hasyim (Sesepuh SPS), Prof Faruk, Cuncum Cantini (Moderator), Indrian Koto (Sastrawan Owner JBS) dan Edy AH Iyubenu (Sastrawan Owner Diva Pers) | YP/Latief SN

“Di Yogya saya belajar menulis karya sastra. Berbeda dengan orang Madura di Yogya yang lebih banyak menjadi penyair, saya memilih cerpen. Benar-benar belajar dari ketidaktahuan hingga jadi cerpenis tangguh yang tiada hari tanpa menulis cerpen bermodal mesin tik bekas,” ungkap CEO Diva Press Grup itu.

Ia menambahkan, jika sudah tiba saatnya, ingin dikuburkan di Yogya. Kesemenjanaan Yogya membuatnya merasa berada seperti dirumah dengan nyaman. Yogya adalah sesuatu yang mengalir, tidak bergemuruh, meski sesekali menghanyutkan. Sesuatu yang diam tidak bisa disebut sebagai ketakutan. “Ritmenya stabil. Tapi, di balik aliran ini ada energi besar dan cepat,” pungkasnya.

Perbincangan tentang kelahiran kedua di Yogyakarta itu menjadi tema pembuka gelaran BBS pada tahun 2019, Studio Pertunjukan Sastra bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta. Acara BBS yang digelar oleh Studio Pertunjukan Sastra secara rutin setiap bulan sekali sejak Oktober 2005 hingga Januari 2019 ini telah sampai pada edisi 160. Acara tersebut dipandu oleh Cucum Cantini, mahasiswa S-3 Ilmu Humaniora, UGM. Dalam acara itu juga tampil pertunjukan sastra berupa pembacaan puisi karya Indrian Koto oleh Shofia Yurida, pembacaan cerpen karya Edi AH Iyubenu oleh Rizky Ramdhani, dan pembacaan esai sastra karya Prof. Faruk oleh Kurniaji Satoto dan Jejak Imaji. (Latief S Nugraha)

    


share on: