AYU LAKSMI DEWI : Dari Budaya Literasi Cegah Hoax Hingga Diorama Kearsipan

share on:
Ayu Laksmi Dewi | YP/Wahjudi

PERLU strategi yang tepat dan komitmen segenap elemen masyarakat untuk bisa menjadikan budaya literasi sebagai penangkal hoax. Keluarga merupakan kunci pemahaman literasi bagi anak. Keluarga yang menyediakan waktu bagi anak untuk membaca, akan menjadi pilar utama terbangunnya budaya literasi.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman Ir AA Ayu Laksmi Dewi Astika Puteri MM, menandaskan hal itu saat ditemui yogyapos.com di kantornya, Rabu (9/1/2019.

Lebih jauh dijelaskan, pemberdayaan peran keluarga bisa menjadi penangkal dampak negatif gadget. Gerakan Ibu Mendongeng harus dilestarikan, untuk memasukkan nilai-nilai dan kearifan, sekaligus pintu masuk pemahaman budaya literasi bagi anak. Gerakan minat membaca harus terus digelorakan, tidak hanya melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), atau keberadaan perpustakaan, tetapi juga dari keluarga.  

"Di era milenial ini pengaruh gadget sangat besar, tetapi kami optimis buku fisik masih tetap diminati dan dibutuhkan. Hanya saja ini memang harus diawali dari keluarga. Perpustakaan pun sekarang telah mengalami transformasi yang luar biasa, tak lagi singup dan sepi yang hanya menyimpan koleksi, tetapi sudah ditata lebih menarik sehingg bisa untuk diskusi dan adu kreatifitas," tandas Ayu Laksmi yang didampingi Drs R Nur Rochmad, MUM (Kabid Pelayanan Sistem dan Pelayanan) dan Dra Sari Respatiningtyas (Kabid Kearsipan).

Menurut Ayu, DPK Sleman saat ini tengah membahas Raperda tentang penyelenggaraan perpustakaan. "Ini akan menjadi sebuah payung hukum. Kita mengharap agar masyarakat harus aware juga bahwa pengembangan minat baca bukan hanya tugas kita saja. Pengembangan minat baca bukan kegiatan yang physically, tetapi harus melibatkan manusia secara terus menerus. Ini saya kira yang akan mendukung Sleman sebagai smart regency dan menjadi bagian dari Yogyakarta sebagai kota pelajar dengan kontribusi yang nyata,” jelas alumni MM UGM ini.

Terkait pencapaian dan kinerja DPK Sleman, Ayu Laksmi memaparkan bahwa hasil audit eksternal oleh tim pusat, nilai yang diperoleh DPK Sleman cukup baik yaitu 90,19, ada kenaikan dari tahun sebelumnya hanya 78,35. "Salah satu amanat UU Kearsipan yang menyangkut kesesuaian pengelolaan arsip kita dengan standar nasional. Dan pencapaian ini cukup memotivasi kita untuk terus menggerakkan kesadaran pentingnya arsip,” tunjuknya.


Puji Astuti | YP/Wahjudi

Dalam hal pemasyarakatan arsip, DPK Sleman menggerakkan Genta Siaga (Gerakan Cinta Arsip Keluarga). "Kami mulai dari Desa Banyuraden tahun 2016, dilanjutkan Desa Widodomartani 2017, dan Desa Sendangadi tahun 2018. Dari situ kita berharap kepala desa mau mengalokasikan dana desa untuk penglolaan arsip". Langkah lainnya antara lain adalah pembinaan SKPD, Desa, BUMD, untuk memberikan pemahaman pentingnya arsip. Kegiatan lain adalah kunjungan perpustakaan dan arsip bagi anak-anak SD di loby DPK.

Pada 2018 DPK Sleman sudah merevisi storyline tentang perjalanan sejarah Sleman yang akan menjadi dasar pembuatan diorama kearsipan, yang diharapkan 2020 bisa direalisasikan. Narasumber yang terlibat antara lain Prof. Djoko Suryo, Prof. Timbul Haryono, RM. Tirun Marwito dan banyak ahli berkompeten di dalamnya. "Ini penting disegerakan karena dokumen harus diselamatkan, selain juga sumber informasinya masih ada, sehingga ke depan anak-anak kita tahu sejarah perjalanan Sleman dari waktu ke waktu. Kita berharap generasi muda Sleman tidak kehilangan jatidiri, sehingga nantinya bisa menjadi pusat informasi dan riset serta untuk beragam kepentingan lain". Storyline akan memuat jejak perjalanan Sleman sampai abad XXI.

Sleman, menurut pengakuan mantan Kadisparbud ini, merupakan kabupaten dimana gerakan pemasyarakatan minat membacanya (GPMB) hidup, bahkan dibentuk sampai kecamatan dan desa. Kita mempunyai program Rintisan Desa Gemar Membaca. "Semua desa kami harapkan mampu mendirikan perpustakaan. Kita awali dengan sosialisasi kepada seluruh kepala desa. Lalu ada stimulasi dari Perpusnas untuk mendirikan perpusdes. Memang kemudian responnya berbeda-beda. Namun setelah Presiden memperbolehkan dana desa untuk perpustakaan, barulah kesadaran itu muncul. Untuk sosialisasi itu, kami menggandeng Inspektorat dan Dinas PMD, bahwa dana desa boleh digunakan untuk membangun perpustakaan.

Sementara itu Sekretaris DPK, Dra Puji Astuti melengkapi, ada 13 lokasi yang dijadikan sasaran Desa Gemar Membaca, yakni Sumberayu (Moyudan), Sidokarto (Godean), Margokaton (Seyegan), Mororejo (Tempel), Sukoharjo (Ngaglik), Balecatur (Gamping), Banyuraden (Gamping), Sumberharjo (Prambanan), Purwomartani (Kalasan), Madurejo (Prambanan), Sendangadi (Mlati), Sendangmulyo (Minggir) dan Banyurejo (Tempel). "Selain dengan program di atas, kami juga mendirikan Pojok Baca di beberapa lokasi strategis seperti Mendiro, Titi Orchid, Pentingsari, TWC Prambanan, Kampung Tertib Lalulintas dan RSUD Sleman", imbuhnya. (Udi)

 

 

 

 


share on: