Astagfirullah! Peternak Lebah Wanagama Gagal Panen, Ternyata Ini Penyebabnya

share on:
Purwanto menunjukkan sarang Lebah Cerana yang selamat dari virus Sacbrood || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - Lebih dari 700 kotak lebah jenis Cerana milik peternak lebah hutan Wanagama Desa Banaran Playen Gunung Kidul mati akibat diserang penyakit Sacbrood virus (SBV). Akibat serangan penyakit jenis virus ini puluhan peternak lebah yang tergabung dalam kelompok ternak lebah Sumber Rejeki Hutan Wanagama gagal panen madu. Diperkirakan kerugian peternak mencapai ratusan juta.

BACA JUGA: GM Burza Hotel Yogya Ditahan, Diduga Terlibat Kasus Kredit Fiktif Rp 1,5 Miliar

“Ini sedang paceklik. Banyak lebah mati kena virus SBV. Virus ini menyerang sejak Mei 2023 lalu. Kerugian silakan anda hitung sendiri. Satu kotak lebah cerana nilai Rp 500.000. Kondisi normal bulan September – Oktober itu panen raya. Satu kotak lebah bisa menghasilkan madu lima sampai Sembilan botol ukuran 650 mil. Satu botol madu lebah cerana harganya Rp 400.000,” papar Saroso Hadi Purwanto (67) peternak lebah Cerana Hutan Wanagama Desa Banaran Playen Gunungkidul, di kediamannya Dusun Banaran I, Kamis (5/10/23).

Kotak lebah Cerana di halaman Purwanto || YP-Yuliantoro

Purwanto menjelaskan SBV merupakan jenis virus lebah sejenis disentri yang menyerang larva lebah dan pekerjanya. Begitu terserang virus tersebut, larva lebah makin mengecil dan akhirnya mati.

BACA JUGA: 9 Tim Berkompetisi di Grand Final BECC 2023

SBV, lanjut dia, virus lebah sejenis disentri. Lebah yang terserang virus SBV, penularannya melalui kotoran. “Penyakit ini pernah terjadi tahun 1989 awal. Diperkirakan penyakit itu dibawa oleh penggembala lebah mellifera. Biasanya menyerang ketika kemarau panjang,” terang Purwanto lagi.

Lebih lanjut Purwanto yang sudah puluhan tahun bergelut dengan lebah cerana sehingga dijuluki “Profesor Lebah" ini menceritakan, penyakit disentri lebah tahun 1989 pernah diteliti oleh Tim Fakultas Kehutanan (FKT) UGM bersama Tim Ahli Lebah Jepang dan Taiwan. Bahkan para peneliti lebah Jepang dalam penelitian tersebut akhirnya menemukan obatnya. Namun, peneliti lebah di Indonesia belum pernah menemukan obatnya.

BACA JUGA: Mekopolhukam Minta Semua Pihak Tunggu Rilis KPK Soal Status Mentan

“Jadi obatnya hanya ada di Jepang. Harganya dulu 15 CC Rp 250.000. Dulu ketika wabah Sacbrood virus menyerang tahun 1989, Tim dari FKT UGM memberikan obat tersebut dan aman,” tukasnya.

Pemantauan di kawasan Hutan Wanagama ratusan kotak lebah terlihat kosong tanpa koloni lebah. Sementara ribuan pohon penghasil nectar lebah cerana seperti pohon eukaliptus, alaska mangium, kayu putih, mahoni, jati terlihat meranggas kering tanpa daun. Sehingga kawasan tersebut terlihat gersang.

Purwanto juga mengatakan, lebah cerana yang terkena penyakit Sacbrood virus apabila koloninya mengeluarkan madu, tidak boleh diambil. Pasalnya, pengambilan hasil madu yang mengandung penyakit tersebut, akan membawa kematian lebah. “Madu yang sudah dihasilkan lebah, jangan diambil. Biarkan madu itu untuk bertahan hidup si lebah. Kalau diambil madu malah mati semua. Dan kasus kematian lebah kemarin, akibat kebanyakan madu nya diambil,” jelasnya.

BACA JUGA: UNY Bangun Dua Gedung Olahraga, Telan Biaya Rp 30 Miliar 

Selain mengalami kematian, lebah cerana di kawasan Wanagama juga pada hijrah meninggalkan kotak. Kemarau panjang menjadikan lebah kekurangan makanan berupa nectar dan bee polen sehingga koloni lebah pergi meninggalkan kotak untuk mencukupi kebutuhannya.

“Karena, banyak lebah mati, yang hidup akhirnya hijrah. Kemarau panjang juga membuat larva tidak nyaman berteduh di kotak,” tandasnya.

Hutan Wanagama kering, tidak menghasilkan nektar dan bee polen sebagai makanan Lebah Cerana || YP-Yuliantoro

Purwanto mengatakan panen madu lebah cerana biasanya terjadi pada bulan Maret – April, Juni – Juli, dan panen raya pada bulan September – Oktober. Bulan September – Oktober panen raya karena di bulan tersebut musim semi dimana hal itu menghasilkan nectar banyak yang menghasilkan madu. Namun di tahun ini paceklik karena musimnya tidak menentu. Bulan Juni – Juli yang harusnya musim kemarau, namun tiba-tiba curah hujan turun tinggi. Dan disusul kemarau panjang hingga sekarang.

“Sebenarnya masa paceklik sudah terjadi mulai covid tahun 2020 lalu. Selama covid lebah nggak mengeluarkan madu. Ini penyebabnya juga belum diketahui. Dilanjut tahun 2021-2022, sepanjang tahun hujan, tidak ada kemarau. Dan saat ini kemarau panjang dan diserang virus Sacbrood,” pungkasnya. (Yuliantoro)

 

 

 

 

 

 


share on: