SETELAH satu bulan penuh berpuasa Ramadhan, kini memasuki bulan Syawal 1441 H atau sering disebut bulan Peningkatan. Dengan modal bersih dari dosa yang langsung berhubungan dengan Allah SWT (hablun minallah), dan bersih dari dosa antar sesama manusia (hablun minannas) karena sudah saling memaafkan, diharapkan bisa terus meningkat ketaqwaan kepada Allah SWT, meningkat amal baik untuk sesama manusia, dan meningkat pula prestasi dan kinerja kita baik secara individu ataupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok masyarakat/institusi bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Bulan Syawwal adalah waktu yang tepat bagi kita untuk membangun “Resolusi Baru” termasuk bagi bangsa Indonesia, adalah momentum yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja kita menjadi lebih
baik dan lebih berprestasi.
Khusus dalam menanggulangi Covid-19, bisa dikatakan bangsa Indonesia belum berhasil; sampai saat ini trend Covid-19 secara keseluruhan di Indonesia masih meningkat, trend Covid-19 di Jabodetabek stagnan sejak awal Mei dan di Surabaya Raya justru melambung. Jika kinerja PSBB tidak segera diperbaiki saat-saat ini maka kesempatan untuk bisa menanggulangi Covid-19 dengan baik semakin kecil. Jika gagal memperbaiki PSBB maka dampak negatifnya akan semakin luas, krisis multi dimensi lebih sulit dibendung, tidak hanya krisis kesehatan dan ekonomi seperti yang sudah kita rasakan saat ini tetapi bisa cepat meluas pada krisis sosial politik, sesuatu yang tidak kita harapkan.
Resolusi baru akan mempunyai power/kekuatan yang tinggi jika dibangun dengan pondasi kejujuran, jujur dalam melihat kekurangan kita selama ini, tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak pula ada yang disembunyikan. Dengan menutup-nutupi atau menyembunyikan bisa berarti kita tidak mengakui dan menghindar dari kekurangan kita selama ini yang bisa jadi sebenarnya sumber tidak efektifnya PSBB selama ini. Evaluasi secara menyeluruh harus dilakukan terlebih dahulu terutama evaluasi terhadap data Covid-19 yang manjadi pijakan utama upaya perbaikan kebijakan.
Belajar dari riwayat sukses (success story) dari beberapa negara, baik negara besar seperti China ataupun negara kecil-menengah seperti Selandia Baru, Taiwan, Vietnam, Korea Selatan, dan tetangga kita Malaysia, yang sukses dalam pengendalian Covid-19, apapun caranya yang dipakai, lock down, rapid test atau apapun namanya, ada tiga fundamental yang harus dipenuhi sebagai syarat sukses. Fundamental pertama adalah keseriusan. Pemerintah khususnya perlu memperbaiki fundamental keseriusan ini yang masih banyak kekurangan. Masih kurang cepatnya rapid test (RT PCR), masih kurangnya APD, masih kurangnya pengakuan dan penghargaan terhadap tenaga medis, paramedis, dan pejuang garda depan lainnya adalah sebagian diantaranya. Fundamental kedua adalah kedisiplinan. Menurut hemat saya nilai kedisiplinan dalam pelaksanaan PSBB selama ini lebih buruk dibandingkan nilai keseriusan. Jika fundamental keseriusan masih kurang, maka fundamental kedisiplinan masih lebih buruk lagi. Baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama kurang disiplin. Ini bisa dilihat dari banyaknya aturan yang tumpang tindih, ego sektoral yang tampak, kebijakan pusat yang kerap kali membingungkan pemerintah daerah, kebijakan yang kurang konsisten adalah diantaranya.
Disamping itu kedisiplinan masyarakat Indonesia juga sangat rendah terutama dalam 2-3 minggu terakhir ini. Kesadaran masyarakat untuk tinggal dirumah, tidak berkerumun, dan selalu pakai masker jika keluar rumah seolah sudah luntur sedangkan kesadaran untuk tidak mudik sudah tidak terkendalikan. Ini semua menunjukkan bahwa kedisiplinan kita sebagai bangsa masih sangat rendah dibandingkan bangsa-bangsa lain yang sukses mengendalikan Covid-19.
Fundamental ketiga adalah ketegasan. Berlaku tegas dalam menegakkan aturan PSBB dan aturan lainnya yang terkait adalah tugas pemerintah dan aparatnya dari pusat sampai tingkat RT. Khususnya di Indonesia, tampaknya aturan sebaik apapun tidak bisa berjalan dengan baik jika tidak diiringi dengan tingkat ketegasan yang tinggi dalam menegakkan aturan. Sayangnya selama ini kita sulit membuktikan adanya ketegasan yang dijalankan secara konsisten selama pelaksanaan PSBB. Tidak heran jika hal ini menumbuh-suburkan ketidak-disiplinan dalam berbagai bentuk, sehingga tidak sedikit masyarakat justeru berpersepsi bahwa PSBB di Indonesia adalah PSBB bohong-bohongan, PSBB basa-basi, dan sebagainya.
Kita bisa melihat bahwa China, Vietnam dan Malaysia berhasil karena ada keseriusan dan kedisiplinan yang memadai karena dikawal dengan ketegasan yang tinggi dalam pengendalian Covid-19. Sementara Taiwan, Korea Selatan, dan Selandia Baru bisa berhasil karena adanya keseriusan dan kedisiplinan masyarakat yang sangat tinggi tanpa membutuhkan ketegasan yang berlebihan tetapi cukup memadai.
Agar PSBB di Indonesia bisa lebih efektif dan mampu menekan laju Covid-19 sampai pada level aman terkendali dalam waktu kurang dari satu-setengah bulan seperti negara-negara yang telah sukses, maka ketiga fundamental sukses harus segera diperbaiki melalui resolusi baru dengan memanfaatkan momentum bulan Syawal ini. Semoga Indonesia sukses, maju dan jaya.(Prof Dr H Hamam Hadi MS ScD adalah Direktur Alma Ata Center for Global Health dan Rektor Universitas Alma Ata, Yogyakarta).
