Ariyanto Jogkem: Jangan Hanya Tekuni Satu Bisnis

share on:
Ariyanto di Pusat oleh-oleh Jogkem miliknya || Yp-Gigin

MUNCULNYA pandemi Covid-19, yang kini masih menghantui ternyata menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun. Termasuk bagi Ariyanto. Salah satu pengusaha yang sukses dalam bisnis oleh-oleh di Yogya ini, ikut merasakan dampak kebijakan lockdown dalam rangka mengatasi penyebaran virus Corona. 

Dampak nyata yang dirasakan Ariyanto adalah menurunnya omset penjualan toko oleh-oleh Bakpia Jogkem yang dikelola bersama beberapa kolega bisnisnya.

“Omset kami terjun bebas karena tidak ada wisatawan yang datang ke Yogya,” kata Ariyanto, Sabtu (18/6/2022).

Pusat Oleh-oleh Jogkem Yogyakarta memiliki tempat parkir kendaraan yang representatif || YP-Gigin

Hampir semua pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata menderita. Kebijakan lockdown mengakibatkan tempat wisata, hotel, restoran dan tempat oleh-oleh harus ditutup sementara. “Kami merasakan situasi yang teramat berat,” ujar pengusaha kelahiran Bojonegoro Jatim tersebut.

Dalam situasi yang serba sulit akibat pandemi tersebut, Ariyanto merasa bersyukur karena dia memiliki unit bisnis lain yang masih berjalan baik. Bisnis pribadi itulah yang menopang pendapatkan saat bisnis di oleh-oleh sedang terjun bebas. “Alhamdulillah dalam situasi bisnis utama sedang sulit, masih ada bisnis lain yang eksis,” tandasnya.

Belajar dari wabah virus yang tidak pernah terduga kemunculannya tersebut, Ariyanto memberikan saran agar kita jangan hanya bergantung pada satu bisnis semata. Selama ini, ia memang fokus mengelola Bakpia Jogkem yang sudah naik kelas menjadi pemain oleh-oleh papan atas di Yogya.

Ariyanto muda bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X || YP-Ist

Ariyanto memang tercatat sebagai salah satu owner Bakpia Jogkem dan Resto Jamur Jawon yang kini sudah memasuki masa pemulihan setelah “mati Suri” karena korona.Dua brand resto dan pusat oleh-oleh tersebut, ternyata awalnya didirikan oleh empat sekawan abadi, masing-masing, Ariyanto, Ferdi, Satria dan Purwo.

Nama Bakpia Jogkem yang merupakan akronim dari Jogja Kembali bisa dibilang masih usia balita. Masih kinyis-kinyis. Dalam usianya yang masih hitungan jari tersebut, ia telah berhasil menarik perhatian ribuan biro travel untuk menjalin kerjasama kemitraan.

Sudah sewajarnya, bila dalam tempo tidak lama, Bakpia Jogkem mendapatkan banyak mitra kerjasamauntuk  penjualan produknya. Harap maklum, Empat sekawan yang menjadi pendiri perusahaan tersebut, bukanlah orang asing dalam kancah  bisnis oleh-oleh makanan khas Jogja.

Mereka pernah sama-sama bergabung di manajemen pusat oleh-olehyang  sangat terkenal di area Yogya barat. Sekitar tiga tahun  bergabung, Ariyanto dan tiga sahabatnya keluar  karena ingin mandiri. Kebetulan mereka dipercaya untuk pegang manajemen  sebuah reast area yang ada di kawasan jalan Wates, Yogya.

Di lokasi baru tersebut, mereka membuka pusat oleh-oleh Bakpia Toegoe. Sebenarnya, bapkia Toegoe cukup memiliki pasar bagus. Namun entah kenapa, Ariyanto dan kawannya di berhentikan oleh owner reast area  secara mendadak.

Tahun 2013, Empat sekawan ini mendirikan Bakpia Toegoe CIS.Namun karena keterbatasan modal, pertumbuhannya lambat tidak sesuai harapan. Pada tahun yang sama,. Ariyanto dan tiga kawannya mulai bernafas lega ketika ada pemilik perusahaan mau kerjasama dergan syarat pakai nama Bakpia Soemodigdo.

Tanpa pikir panjang, mereka setuju dengan nama Bakpia Soemodigdo tersebut. Hanya berbekal saling percaya, tanpa kontrak perjanjian yang  seharusnya, berdirilah Bakpia Soemodigdo yang berlokasi di Jalan Ireda dekat Purawisata.

Ditangan Ariyanto dkk, Bakpia Soemodigdo pada awalnya mengalamai perkembangan yang bagus dengan banyaknya mitra bisnis tour travel yang bisa mereka rangkul. Namun pada tahun ketiga ada miskomunikasi sehingga,  ia bersama rekannya harus pisah kongsi.  Ia harus bikin perusahaan baru, “Ketemulah nama Bakpia Jogkem,” tutur bapak lima anak ini.

Saat ini, Bakpia Jogkem memiliki Outlet terbesarnya di kawasan Jalan Gedongkuning Yogya. Bila hari libur tiba, suasana toko oleh-oleh ini seperti  terminal bus.Bus-bus yang pada umumnya dari luar Yogya membawa rombongan wisatawan hilir mudik keluar masuk.

“Bila pas liburan rata-rata jumlah pengunjung  bisa 100-150 bus” kata Ariyanto.

Tetap sempatkan waktu untuk keluarga || YP-Gigin

Selain di Gedong Kuning, Bapkia Jogkem juga punya outlet di tengah kota Jogja, tepatnya di utara Purawisata. Demi memenuhi permintaan konsumen, dalam waktu dekat akan segera dibuka dua outlet baru di kawasan kraton Jogja dan di Jalan Mangkuyudan. 

“Yang ditengah kota untuk melayani konsumen pribadi, becak andong taksi, serta penjualan online” tambah Ariyanto yang asli kelahiran Bojonegoro Jatim ini.

 

Kapal pesiar

Diluar bisnis oleh-oleh dan resto yang merupakan kongsi bersama temannya, Ariyanto ternyata menjalankan beberapa bisnis pribadi. Beberapa bisnis tersebut, antara lain LPK San Marino yang khusus merekan yang ingin bekerja di Kapal Pesiar dan Hotel. Tahun 2016, ia mendirikan Resto Ulam Tirta di Kalasan, tahun 2019 membuka CV Nemaco professional Care yang bergerak di bidang pest control. Tahun 2020, ia mendirikan PT. Mitta Penyedia Utama yang khusus melayani kebutuhan horeka (hotel restoran dan kafe).

Masih pada tahun 2020, Ariyanto memasuki binis kreatif dengan mendirikan PT Bio Kreatif Indonesia. Perusahaan ini membuat konten pembelajaran online dan develop marketplace Bio Biz, Kapensi Mart dan Martani. Terakhir tahun 2021, ia mendirikan PT. Berkah Gusti Bersama, ini perusahaan pertambangan khusus galian tambah untuk suplai material pasir.

Perjalanan bisnis Ariyanto, ternyata sangat menarik. Sebelum meraih posisi seperti saat ini, ia pernah mengalami masa-masa pahit. Ia sebenarnya digadang orangtua untuk mernjadi Pegawai Negeri Sipil. Tapi ia punya pandangan lain.

Selepas dari SMA, Ariyanto memilih kuliah di Akademi Pariwisata Yogyakarta (APY). Lulus kuliah ia sempat mengajar dan bekerja di hotel. Bahkan sempat di rumah sakit swasta yang cukup terkenal.

Karena ingin mendapatkan penghasilan yang lebih, ia mencoba bekerja di kapal pesiar dan diterima di Miami Chruise. Dari kapal pesiar, ia mendapatkan gaji yang cukup tinggi. Ia berhasil membangun rumah memiliki mobil untuk keluarga. Namun setelah bertahun tahun di kapal pesiar memutuskan keluar karena merasa tidak nyaman jauh dari keluarga.

ditipu

Dari hasil kerja di kapal pesiar tersebut, Ariyanto memiliki tabungan yang cukup.Harapannya bisa untuk modal usaha. Namun ia mengalami nasib yang kurang baik saat terpikat untuk investasi di perusahaan yang khsuus bisnis pulsa. Ia menanamkan dana ratusan juta.

“Saya tertipu bukan untung tapi malah bunting,” kisahnya.

Dalam keadaan tidak punya uang, Ariyanto tidak panic. Untung ia masih memiliki skill yang cukup untuk melamar kerja di Resto Ambarketawang. Dan dari sinilah, ia mendapatkan pengalaman baru dalam bisnis oleh-oleh. Dan akhirnya dengan berbagai lika-liku yang dihadapi ia menemukan bisnis bisnis baru Bakpia Jogkem yang kiniu makin eksis di bisnis oleh-oleh. “Pokoknya kita jangan takut berbisnis dan jangan hanya satu jenis usaha, harus berdiri di beberapa kaki karena kalo satu ambruk masih ada yang menopang,” ucapnya. (Gigin)


share on: