Ansori Mozaik : Pemkab Klaten Perlu Bikin Agenda Pemberian Anugerah Seni

share on:
Ansori Mozaik di ruang tamu yang dipenuhi karya-karyanya | YP/Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KLATEN) - Klaten adalah kawah candradimuka yang melahirkan banyak tokoh seni bertarap nasional dan internasional. Ki Narto Sabdo (Dalang), Dharmo KD (Sastra Jawa), GM Sudarta (karikatur), Rustamadji (Pelukis) adalah contoh betapa Klaten punya andil besar dalam kebudayaan Indonesia. Pemkab Klaten perlu memberikan anugerah seni kepada mereka, misalnya dengan membuat Anugerah Seni ‘Narto Sabdo’ yang dihelat setiap tahun.

Harapan itu disampaikan Ansori Mozaik, seorang perupa yang juga mantan Ketua Paguyuban Senirupawan Klaten (Pasren 2009-2017) saat ditemui yogyapos.com di rumahnya, Minggu, (13/1/2019).

Menurut dia, dengan anugerah itu kita bisa mikul dhuwur mendhem jero kepada mereka yang telah mempopulerkan Klaten di berbagai forum dengan karya-karyanya.

“Mosok justru dari daerah lain yang memberikan penghargaan kepada mereka! Ini kan ironis. Maka kita mendorong agar Pemkab Klaten proaktif dengan segera memberikan anugerah kepada mereka, agar generasi muda Klaten mempunyai kebanggaan kepada para pejuang seni yang telah mendarmabaktikan hidupnya untuk nama besar Klaten. Misal Anugerah Seni Ki narto Sabdo, kenapa tidak?” tandasnya.

Ansori kelahiran Gombong 1961 dikenal sebagai seniman mozaik --yang di Indonesia masih langka-- hingga dikenal dengan Ansori Mozaik. Bakat melukis telah ada sejak kecil. Jalan hidup mempertemukannya dengan Wim Nirahuwa, eksponen Sanggarbambu generasi pertama angkatan Narto Pr, di Jakarta. Ansori tidak saja dijadikan murid tetapi juga anak angkat sejak lulus SMA sampai Wim meninggal dunia.

"Dari beliau saya belajar banyak hal, tak hanya melukis tetapi juga berbagai strategi dalam menjalani hidup. Beliau berpesan agar saya percaya diri dalam berkesenian. Beliau berkata, kalau kamu senang dengan seni mozaik, maka kembangkan dengan tekun, jujur, sesuai bahasa hati," kenangnya pada sosok kelahiran Ambon yang sangat njawani itu.

Dalam banyak hal, Wim melibatkan Ansori dalam proyek mozaik. Tak aneh bila karya Ansori menjadi koleksi tokoh papan atas seperti Sudwikatmono, Probosutedjo, juga di Taman Ogoh Ogoh Bali atau restauran Grafika Gombong. “Saya dimasukkan Sanggarbambu Jakarta tahun 1993 yang saat itu menjadi partner pemerintah DKI Jakarta. Dari situ saya terlibat dalam proyek-proyek besar yang digagas pemerintah,” katanya bangga.

Di Yogyakarta karya Ansori bisa ditemukan di hotel Griya Persada (25 buah), hotel Bandungan (16) atau kolam di rumah pelukis Nasirun. Ansori mengakui pada masa awal tak sedikit yang memandang sebelah mata. Selain karena tak mudah dan perlu ketekunan, seni mozaik memang tergolong asing di Indonesia. “Saya mencoba improvisasi dalam membuat mozaik, baik dalam hal tema maupun bahan. Tema yang paling saya sukai adalah tradisinal seperti wayang yang kaya dengan karakter,” sambung pria beranak dua ini.

Seni rupa baginya bukan hanya perangkat atau media untuk memperindah lingkungan. “Seni rupa jangan sampai hanya dimaknai sebagai sesuatu yang kaku. Seni bisa untuk memperindah tatakota. Seni rupa harus menyatu dengan kultur setempat, seperti monumen. Kaidah seni rupa harus digunakan secara proporsional, selaras, dan mengedepankan harmoni, bukan hanya dalam rangka proyek,” sindirnya.

Terkait dinamika kesenian di Klaten, Ansori melihat adanya gagap orientasi, arahnya kemana belum jelas. “Potensi seni Klaten harus duduk bersama mendiskusikan orientasi ke depan agar kita punya identitas yang jelas. Jangan sampai sarana, perangkat, dan potensi termasuk pemerintah mengedepankan ego masing-masing, tandasnya. Idealisme harus dihormati, jangan dirusak dengan proyek yang berjalan. Dia mengakui, pemerintah kabupaten mulai membuka diri, makanya perlu format kerjasama yang jelas agar kejayaan para pendahulu seni Klaten bisa dilanjutkan generasi penerus.

Ansori juga berpesan agar rumah dan koleksi milik para seniman besar Klaten diselamatkan. “Kita tak tahu bagaimana kelangsungan rumah Mas GM lengkap karya-karyanya sepeninggal beliau. Baik kiranya pemerintah kabupaten memfasilitasinya agar koleksi langka beliau bisa diselamatkan. Mungkin bisa dibangun gedung kebudayaan, nama-nama beliau dijadikan penanda. Gedung itu sebagai penyimpan koleksi para pahlawan seni sekaligus tempat pembelajaran generasi penerus,” pintanya. (Wahjudi)

 

 

 

 


share on: