Yogyapos.com (BANTUL) – Komunitas Minggu Legen yang dipandegani Dr Akhir Lusono SSn akan menggelar kegiatan bertajuk ‘KML bersholawat’ di Dusun Gabugan, Donokerto, Turi, Sleman, pada Sabtu, 22 Juni 2024 pukul 19.30 WIB.
Kegiatan ini bekerjasama dengan takmir Masjid Mutaqqin, Gabugan, Donokerto, Turi, Sleman. Menghadirkan narasumber (pentausiah) Kyai Cepu seorang Filsuf dan Agamawan yang pernah study strata tiga di University Of Belgorad Rusia dan juga Anggota Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia. Selain itu juga Ahmad Badhawi Maksum, seorang Kiai dari Piyungan Bantul yang lama melayani masyarakat sebagai Dukuh dan juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kab Bantul.
BACA JUGA: Anggerpas Band Mulai Berkibar di Magelang dan Sekitarnya
“Kami akan mencoba terobosan dengan menduetkan Kyai Cepu dan Kyai Ahmad Badhawi Maksum. Kedua beliau ini memiliki kharisma dan kekhususan masing masing,” ujar Akhir Lusono kepada yogyapos.com, Selasa (18/6t/2024).
Komunitas Minggu Legen dalam kesempatan tersebut juga mengundang Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo.

Komunitas Minggu Legen diinisiasi Akhir Lusono, Konsultan Tri Mulyono, Penasehat Bambang Sugeng Haryanto SSn dengan anggota Agus Budi Susanta, Mor, ini intens mengadakan kegiatan yang migunani tumraping liyan. Tak hentinya pengurus komunitas ini berswadaya membuat acara yang harapannya bisa memberikan secercah kebaikan kepada masyarakat.
BACA JUGA: PMI Tempel: Donor Darah Merupakan Seni Mencintai Sesama
Aktivitas yang bertemakan kegiatan sosial humaniora ini sengaja digagas dan dirancang untuk dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat bangsa dan negara.
Tri Mulyono selalu konsultan yang sangat intens mendampingi setiap aktivitas Minggu Legen berharap kedepannya komunitas ini bertumbuh dan dapat diterima oleh masyarakat.
“Kami ini menyodorkan aktivitas yang positif dengan kegiatan: sarasehan, pentas budaya kontemporer, kegiatan sosial dan lain sebagainya. Betul betul aktivitas yang keberagaman. Ini menandakan komunitas ini diperuntukkan bagi semuanya. Kalau orang Jawa bilang klungsu klungsu Melu udhu,” pungkas Tri Mulyono. (*)
