13 Tahun GPMB DIY: Seni Menggerakkan Minat Baca

share on:
Salah satu kegiatan rutin GPMB DIY

Yogyapos.com (YOGYA) – Peringatan HUT ke-13 Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) DIY ditandai dengan rangkaian kegiatan, antara lain tumpengan, pentas tembang dolanan, raker dan seminar. Puncak acara bersama Among Putra Ngemplak pimpinan Sigit Nur Rahmat SPd akan berlangsung pada 20 Desember 2018, di Ghratama Pustaka BPAD, Yogyakarta.

Ketua GPMB DIY, R Bambang Nursinggih menyatakan GPMB DIY selama ini menjembatani dan memfasilitasi upaya peningkatan dan pengembangan minat baca di kalangan masyarakat sesuai karakter dan kondisi sosiologis Yogyakarta.

“Yogyakarta sebagai kota budaya, sejarah, dan pendidikan memiliki beragam potensi yang harus dijadikan inspirasi pembangunan agar keistimewaan Yogyakarta tetap terjaga. GPMB kami orientasikan bisa memfasilitasi sesuai tugas pokok dan fungsi para pengurusnya,” jelasnya kepada yogyapos.com, Selasa (18/12/2018).

Bambang bertekad, organisasi yang dipimpinnya memasuki usia ke-13 harus mampu menggerakkan minat baca secara mandiri, tidak bergantung pada siapapun. "Tidak hanya baca tulis tetapi juga pandang dengar bagi para lansia,” tandasnya seraya menambahkan pihaknya kini telah menyatukan persespsi bersama pengurus tentang budaya literasi.

Audiensi Ketua GPMB dengan Kepala BPAD DIY

Diharapkan pula, teknologi yang semakin maju akan mampu mempermudah pengembangan minat baca. Media sosial yang semakin mewabah di masyarakat bisa melahirkan peluang sekaligus tantangan.

Setiap daerah, papar Bambang, mempunyai karakter yang berbeda-beda sehingga pendekatannya juga harus berbeda-beda. Potensi daerah harus didukung dan dikembangkan agar masyarakat semakin terbuka ilmu dan wawasan serta cakrawalanya.

Sementara itu diinformasikan, selepas raker akan digelar seminar bertema ‘Etika Berbahasa di Media Sosial’, mengetengahkan narasumber antara lain Drs Pardi MHum (Kepala Balai Bahasa Yogyakarta), Mahsunah Syakir SE MEK (Tokoh Literasi Masyarakat), dengan pembicara kunci Dra Monika Nur Lastiyani MM (Kepala BPAD DIY).

Dalam seminar yang dimoderatori Wahjudi Djaja SS MPd nanti diarahkan ke pembahasan penting mengenai fenomena hoax atau berita bohong dan saling serang hanya karena beda aspirasi semakin menjauh dari etika ketimuran. Orang menjadi abai dengan norma dan etika berbahasa dan lupa dengan tatakrama.

“Soal hoak ini tentu sangat memprihatinkan mengingat Indonesia apalagi Yogyakarta dikenal sebagai bangsa berbudaya yang ramah,” kata Bambang di akhir bincang-bincang tentang rencana seminar yang didukung majalah Djoko Lodang dan LKJ Sekar Pangawikan, serta dilanjutkan rapat koordinasi diikuti GPMB Kabupaten/Kota dan Kecamatan, dipimpin moderator Drs H Budiono SIP. (Udi)

 

 


share on: