Syawalan Warga Rt 28 Jatimulyo Baru Berlangsung Khidmat

share on:
H Ir Soewarno MS saat menyampaikan 'Khimah Syawalan' warta Rt 28 Perum Jatimulyo Baru Yogya || YP/Ismet

Yogyapos.com (YOGYA) – Acara Syawalan atau Halal bi Halal tak pernah pudar dalam masyarakat kita. Kegiatan berkumpul dan saling bermaaf-maafan dalam suasana Idul Fitri ini merupakan tradisi yang tetap terjaga kelestariannya, sebagaimana dilakukan oleh warga Rt 28/Rw 06 Perumahan Jatimulyo Baru, Yogya, Rabu (12/6/2019) malam yang berlangsung khidmat.

Sejak usai Isya, warga berduyun-duyung menuju pelataran dua rumah saling berhadapan yang dijadikan arena Syawalan Idul Futri 144H. Layaknya sebuah acara, ada panitia penyedia konsumsi dan penerima tamu undangan. Kehadiran para tamu yang bertetangga itu tak pelak disambut juga oleh Ketua RT setempat, Dr drg Dibyo Pramono SU MDSc.

“Monggo, monggo langsung saja nikmati hidangan yang ada,” ajak Dibyo sembari melempar senyum.

Tak ada kecanggungan, semua warga yang hadir langsung menuju tempat prasmanan. Mengambil menu yang mereka suka, lalu duduk di kursi-kursi yang tertata rapi sembari menikmati hidangan dari bakso, bakmoi, mie goreng, sate ayam, dan lainnya.

Usai santap malam, acara pun dibuka dengan pembacaan kalam ilahi, dilanjut sambutan Ketua RW setempat Drs Sunarko maupun Ketua RT, serta dipungkasi ceramah ‘Hikmah Syawalan’  oleh H Ir Soewarno Hasan Bahri MS.

Sunarko dalam sambutannya menegaskan, Syawalan di kampung Jatimulyo Baru sudah menjadi tradisi yang diselenggaran setiap Idul Fitri. Kegiatan yang positip demikian perlu dilanjutkan guna memupuk kerukunan warga.

Hal senada ditegaskan H Soewarno bahwa Syawalan yang merupakan tradisi ini punya nilai spiritual religiusitas dan sosial. Lebih khusus lagi bagi umat muslim, yang pada dasarnya punya dua kewajiban dalam hidup bertetangga.

“Pertama kewajiban saling menghormati sesama muslim, dan kedua menghormatinya sebagai tetangga,” tandasnya.

Soewarno antara lain menyatakan, pentingnya acara Syawalan agar sesama warga bisa hidup berdampingan secara rukun; saling menghormati, bahu-membahu, tidak membuka aib. Sehingga ketika terjadi sesuatu hal ‘buruk’ yang menimpanya, tetanggalah yang pertama-tama memberikan bantuan baik diminta atau tidak diminta.

“Saya pernah tugas ke luar kota selama beberapa waktu, dan anggota keluarga ada yang tertimpa musibah.  Alhamdulillah, ketika saya pulang ternyata sudah dibantu oleh para tetangga,” kenang dosen Fakultas Kehutanan UGM asal Ajibarang yang sudah tinggal di Yogyakarta sejak 1968 ini.

Sementara secara religiusitas, Syawalan bisa meretas batas dalam kehidupan bertetangga. Bisa menjadi wahana untuk saling terbuka demi kemaslahatan. Hal ini pula yang dianjurkan oleh Allah SWT. Karena Allah akan memuliakan muslim yang saling menghormati dan maaf memaafkan sesama tetangga.  (Met)


share on: