SOAL PEDESTRIAN MALIOBORO, WAWALI: Masih Uji Coba, Tak Perlu Ditolak

share on:
Malioboro akan menjadi kawasan pedestrian, bebas kendaraan. Inzet: Wawali Yogya, Heroe Poerwadi || YP/Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA) - Wacana Malioboro akan menjadi area pedestrian dan bebas kendaraan bermotor, terus mendapat tanggapan dari sejumlah elemen masyarakat. Yang sangat getol tentunya para Pedagang Kali Lima (PKL) Malioboro dan sejumlah pengusaha yang mengandalkan lini bisnis di Malioboro.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Forum Komunitas Malioboro, Rudiarto mengatakan, konsep pedestrian Malioboro harus dikaji matang oleh semua pihak terkait. Rudiarto mengkhawatirkan, akan terjadi penurunan animo wisatawaan untuk berkunjung ke Malioboro.

“Akses jalan di Malioboro yang rencananya akan bebas kendaraan bermotor, wajib dikaji secara matang dari segala aspek. Budaya masyarakat kita untuk jalan kaki jauh dari area parkir ke lokasi yang dituju, belum ada. Masyarakat kita cenderung memarkir di tempat terdekat dimana ia akan berkunjung. Fasilitas kantong parkir yang lega juga harus ditata. Agar tidak terjadi penumpukan dan menyebabkan crowded,” ujar Rudiarto kepada yogyapos.com, Senin (3/6).

 Sedangkan Ketua Paguyuban Pedagang Lesehan Malioboro (PPLM), Sukidi mengatakan, pihaknya akan melihat uji coba besok seperti apa.

“Hingga saat ini belum ada sosialisasi detail dari pihak terkait. Kami belum dapat informasi yang utuh dan lengkap. Soal adanya wacana relokasi, kami juga belum tahu,” ujar Sukidi, kemarin Senin.

Ditemui terpisah, Wakil Walkota Yogya, Drs Heroe Poerwadi MA menjelaskan, penerapan kawasan Malioboro bebas kendaraan bermotor, masih memerlukan beberapa tahapan lagi. Belum final. Pasti akan kita kaji plus-minusnya. Mulai manajeman lalu-lintas serta dampak yang ditimbulkan yang berimbas bagi pengguna jalan, warga sekitar, pengunjung Malioboro, hingga para PKL. “Untuk mengatasi masalah kemacetan di Malioboro dan sekitarnya sudah kami rancang dan kaji matang. Sejumlah sirip jalan akan dibuat satu arah. Lalu membuat beberapa putaran jalan, serta mengoptimalkan kantong-kantong parkir.

Lanjut Wawali Yogya, Malioboro sebagai daya tarik utama wisata harus dibuat nyaman. Perubahan yang lebih baik pun perlu proses utk pembiasaan. "Jadi tidak perlu ditolak, kan masih uji coba. Dan hasil ujicoba akan didiskusikan bersama termasuk dengan pelaku usaha di kawasan Malioboro," tandas Heroe Poerwadi. (Fadholy)


share on: