SIAP GABUNG KE JAKARTA : Di Nol Kilometer Yogya, JGP dan Emak-Emak Tuntut KPU Jurdil

share on:
Semangat Emak-emak yang tak terbendung menuntut KPU Jurdil || YP/Ismet

Yogyapos.com (YOGYA) – Gelombang unjuk rasa menuntut pemilu jujur dan adil (jurdil) makin menguat dilakukan oleh Presidium Jogja Ganti Presiden (JGP) dan sejumlah elemen masyarakat di Yogyakarta. Dalam aksi lanjutan yang berlangsung di Nol Kilometer Yogyakara, Selasa (14/5/2019), para pengunjuk rasa sepakan meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat maupun daerah-daerah menghentikan segala bentuk kecurangan.

“Saat ini kami memberi kartu merah untuk KPU,” seru Koordinator Presidium JGP Muhammad Dadang Iskandar, yang disambut yel-yel ‘hentikan kecurangan’ dari peserta unjuk rasa.

 


Pengunjuk rasa membentangkan spanduk yang sangat tegas 'Hentikan Segala Bentuk Kecurangan' di Nol Kilometer Yogyakarta, Selasa (14/5/2019) || YP/Ismet

Para pengunjuk rasa bergerak dari titik kumpul Benteng Vredeburg pukul 09.20 berjalan kaki sembari mengacungkan poster dan membentangkan spanduk menuju Nol Kilometer Perempatan Kantor Pos Besar Yogya. Mereka kemudian saling bergantian orasi dan baca puisi ditingkah yel-yel tuntutan penghitungan suara pemilu secara jurdil.

Dalam orasinya, dadang juga membacakan 20 tuntutan antara lain agar KPU menghentikan Situng yang curang, lakukan penangkapan dan pemidanaan oknum-oknum yang yang terbukti terlibat kecurangan, jangan melakukan manipulasi markup maupun pengurangan suara, serta berani melakukan diskualifikasi pasangan calon presiden yang ikut merekayasa atau membiarkan kecurangan.


Sejumlah militan yang tetap ceria walau puasa dan tak terhindar dari sengatan matahari | YP/ismet

“Ini aksi kedua kami sebagai pemanasan untuk menyambut people power pada 22 Mei 2019 di Jakarta,” tegas Dadang diakhir pembacaan ‘Petisi Rakyat’ yang berisi 20 butir tuntutan.

Sementara salah satu peserta Pangastuti Utami SH yang berada dalam ‘gerbong’ Emak-emak menegaskan pemerintah jangan alergi terhadap pengkritisan rakyat terhadap KPU, juga jangan alergi terhadap people power yang pada hakekatnya merupakan ujud kedaulatan rakyat dalam menyampaikan apirasinya.


Dadang Iskandar (berkopiah) saat membacakan 'Petisi Rakyat' berisi 20 butir tuntutan || YP/Ismet

“Kalau sedikit-sedikit main tangkap justru merugi dan mengalami kemunduran dalam berdemokrasi. Selama tidak anarkis, seraplah aspirasi kami dengan baik dan lakukanlah pengungkapan terhadap berbagai indikasi kecurangan,” katanya.

Pangastuti juga menyatakan siap bergabung dalam people power di Jakarta. Pihaknya sudah menyiapkan segalanya, rombongan Emak-emak berikut akomodasi yang selama ini dikoordinasi secara ‘bantingan’ dalam jumlah ratusan personel.


Salah satu Emak-emak fighter membacakan puisi protesnya || YP/Ismet 

Meski gegap gempita, aksi unjuk rasa selama sekitar 1 jam berjalan lancar. Diakhiri menyanyi lagu-lagu kebangsaan dan doa, mereka pun kemudian membubarkan diri. (Met)

 

 


share on: