SEMINAR KEPUSTAKAWANAN, DR ZULFIKAR ZEN: Asta Etika Pustakawan Harus Dilaksanakan

share on:
Nara sumber Dr Zulfikar Zen (kiri) saat memaparkan materi Asta Etika Pustakawan || YP/Mufti

Yogyapos.com (SLEMAN) - Hakekat pustakawan adalah sebagai Manajer Informasi, Pengawal Pengetahuan, dan Peduli si miskin. Informasi merupakan kebutuhan dasar manusia selain makan yang dijamin oleh UUD 1945, UU HAM, Declaration of Human Right 1948 atau Piagam PBB. Ilmu bisa didapat dari guru, buku, pengalaman, maupun wahyu (konteks agama). Pustakawan sebagai pengawal informasi harus mampu menyiapkan, melestarikan, serta mendistribusikan informasi pada masyarakat.

Hal itu disampaikan Dr Zulfikar Zen SS MA, Wakil Ketua Umum Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sekaligus staf pengajar Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia dalam Seminar Nasional Kepustakawanan. Seminar diselenggarakan Pengurus Daerah IPI DIY, bertema 'Asta Etika Pustakawan Indonesia' di Gedung Perpustakaan UGM, Rabu (9/10/2019).

Menurut Zulfikar, pustakawan terikat oleh kode etik sebagaimana profesi lainnya. Naskah kode etik IPI yang sudah ada terlal upanjang. Banyak pasal-pasal sehingga terkesan mirip undang-undang.  Hal tersebut membuat pustakawan merasa kesulitan menghapalkan dan memahaminya.

Karenanya pembahasan Kongres Nasional IPI beberapa waktu lalu menghasilkan kesepakatan bahwa kode etik harus diubah, disesuaikan supaya ringkas mudahdi pahami. Maka terbitlah kemudian kode etik diberi nama Asta Etika Pustakawan Indonesia, bukan lagi kode etik IPI,” terangnya.

Asta Etika Pustakawan Indonesia, lanjut Zulfikar, meliputi delapan poin. Itu harus dilaksanakan oleh setiap pustakawan. Dia menjelaskan lebih jauh, kode etik ini berlaku umum. Tidak hanya untuk pustakawan berstatus ASN saja, tetapi menyangkut pustakawan di instansi swasta, perguruan tinggi, sekolah, maupun perpustakaan lainnya.

Sebagai pembicara tunggal, Zulfikar menambahkan, adanya kode etik dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi. Setiap pustakawan punya kewajiban menyebar luaskan Asta Etika Pustakawan Indonesia, baik pada sesama profesi maupun masyarakat umumnya.

“Tidak setiap orang bercita-cita menjadi pustakawan. Tetapi ketika menjadi pustakawan wajib baginya mengamalkan Asta Etika Pustakawan Indonesia,” pungkasnya.

Selain paparan dari nara sumber, terbuka kesempatan bagi peserta mengajukan pertanyaan atau pendapat di sesi sharing. Bertindaks elaku moderator, Zulfa Kurniawan, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY. Sejumlah pejabat perpustakaan, pustakawan, serta berbagai unsur perpustakaan lainnya hadir dalam seminar ini. (Muf)

 


share on: