Sardiman, Dari Sampah Raih Kalpataru

share on:
Sardiman || YP/Wahjudi Djaja

Sampah adalah masalah peradaban. Adanya mengikuti dinamika zaman. Aneh bila pemerintah dan masyarakat tak memiliki kepedulian terhadap masalah sampah. Kasus penutupan TPA beberapa waktu lalu yang menyebabkan menumpuknya sampah di Yogyakarta bisa dijadikan indikator daruratnya masalah sampah.

Itulah keprihatinan yang menggugah kesadaran Sardiman untuk bergerak dan berkreasi mengolah sampah menjadi beragam karya seni.

"Kita bisa menghitung besarnya tonase sampah yang diproduksi tiap hari. Padahal tidak semua daerah memiliki tempat pembuangan sampah yang permanen. Ini sungguh mengkhawatirkan kita semua. Harus ada kesadaran bersama tentang masalah ini," ujarlelaki kelahiran Klaten 5 Juli 1960 ini. Pernah menjadi PNS di LIPI Bandung dan mengundurkan diri tahun 2006, sosok yang akrab dipanggil Sardi Beib ini mulai menggeluti sampah sejak tahun 2011.

Warga Tegal Kemuning DN II/804 RT 44/10 Tegalpanggung, Danurejan Yogyakarta ini tak henti menyadarkan pentingnya pengelolaan sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan penghasilan. "Ini soal serius yang sering diabaikan. Ini pula yang menggugah kesadaran saya untuk mencoba mencarikan solusi, siapa tahu bermanfaat,” katanya saat ditemui yogyapos.com, Minggu (7/7/2019).

Sardi menggelar workshop pengolahan sampah yang diikuti ibu-ibu dan anggota Pokdarwis Dewi Rawe. Ayah tiga anak ini dikenal tekun dan entengan memberikan beragam ilmu dan seni pengolahan sampah. Beragam karyanya seperti topeng, relief, wayang golek dan lukisan dia bisa buat dari sampah kertas, plastik, dan kain. Dari situlah dia mendirikan Sanggar Topeng Koran tahun 2011.

"Eman rasanya kalau sampah dan limbah dibuang begitu saja atau dibakar. Selain menyebabkan polusi air dan tanah, hal itu juga bisa memicu kerusakan udara yang berakibat munculnya beragam gangguan", jelasnya meyakinkan.

Dari kepedulian dan aktitasnya itu, Sardiman meraih Juara III Lomba Kalpataru Tingkat DIY untuk Kategori Perintis Lingkungan. Penghargaan itu dia terima saat Peringatan Hari Lingkungan Hidup tingkat DIY yan di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Playen GK, Rabu (26/06/2019).

Menurut alumni STEMBAYO ini, sampah merupakan sumber daya yang terbarukan. Setiap hari sampah datang dalam beragam jenis. Baik dari rumah tangga maupun pabrik dan perkantoran. "Harus ada yang mengurai masalah sampah. Alangkah baik apabila negara atau pemerintah mendirikan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sampah (Puslitbang Sampah). Karena, kalau tahu cara dan seninya, sampah terkelola menjadi rezeki,” tandasnya. Sardiman yang pertama kali mengadakan workshop sampah pada car freeday di Jalan Sudirman tahun 2013 ini sangat berharap agar perjuangan yang dia pelopori bisa menyadarkan banyak pihak dan menggerakkan masyarakat. Workshop yang pernah digelar antara lain di Perpusnas Jakarta, Imogiri, Tegalpanggung, Serayu, Lempuyangwangi, Komunitas Anak Pinggir Kali Code, Merti Kali Code, Sanggar Bambu dan Desa Wisata Budaya Rajeg Wetan (Dewi Rawe). Ketua Pokdarwis Dewi Rawe, Agus Yoko Sunartono, mengakui workshop yang digelar Sardiman bisa menggerakkan ibu-ibu hingga anak-anak untuk memberdayakan sampah.

"Kami sangat beruntung diajari Pak Sardi. Setelah belajar mengolah sampah menjadi karya seni, malamnya ditutup dengan pergelaran wayang golek yang dibuat dari limbah sampah. Mendidik dan menghihur", ujar alumnus FP UGM ini.

Di mata Kepala Dukuh Rajeg Wetan, Widiarto, kehadiran Sardiman juga amat membantu saat mengikuti Lomba Proklim 2019. "Dukuh Rajeg Wetan ditunjuk mewakili Kecamatan Mlati dalam Lomba Proklim Tingkat Kabupaten Sleman tahun 2019. Kami bisa menampilkan kegiatan yang beda karena ada dokumentasi workshop dan pameran karya seni dari limbah sampah. Ini sangat memotivasi warga", akunya. Berkaitan dengan aktifitas yang positif bagi kelestarian dan kesehatan lingkungan itu, Widiarto memberi ruang bagi Sardiman untuk menyebarluaskan ilmu dan pengalamannya di Rajeg Wetan. (Yud)


share on: