PT AMI Jadikan Dramatari ‘Sekar Pembayun’ Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya

share on:
Adegan Sekar Pembayun bersama para pengawal putri || YP/Dok

Pada mulanya adalah ungkapan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat/Gubernur DIY yang disampaikan kepada Direksi PT AMI, BUMD milik Propinsi DIY yang saat ini mengelola destinasi wisata Taman Kaliurang. Beliau ingin agar Taman Kaliurang memiliki ikon dongeng berlatar sejarah yang bisa diangkat di Kaliurang. Beragam jenis dongeng yang telah ada di Nusantara khususnya di Yogyakarta merupakan khasanah kekayaan yang memberi warna.

PT Anindya Mitra Internasional (AMI) diharapkan mampu mengangkatnya sehingga Kaliurang menjadi destinasi wisata dongeng yang menarik. Ungkapan Beliau menjadi inspirasi untuk menjadikan dunia dongeng menjadi pilihan thema revitalisasi Taman Kaliurang.

Dalam sejarah manusia, dongeng yang selalu diminati sepanjang sejarah adalah dongeng tentang drama percintaan. Setelah melalui beberapa pertimbangan, pilihan pun jatuh ke dongeng kisah percintaan antara Ki Ageng Mangir – Sekar Pembayun yang memiiki kedalaman jiwa patriotik. Terdapat nilai-nilai positif di dalamnya sebagai pengenalan budaya yang layak untuk menjadi tuntunan bagi kehidupan manusia. Dongeng tersebut dapat disampaikan dengan berbagai cara. Salahsaru cara penyampaian dongeng yang menarik adalah atraksi kesenian tarian dan drama. Kali ini PT AMI memilih membuat serangkaian Dramatari yang berjudul Dramatari Sekar Pembayun, yang merupakan bagian dari rangkaian Dramatari Arum Bhumi (the series).

PT AMI, BUMD milik Propinsi DIY, memulai mengusung ruh mendongeng sebagai eksplorasi pariwisata budaya di Taman Kaliurang dengan menyelenggarakan Serial Dramatari/Dramatari yang diberi nama Arum Bhumi The Series. Pagelaran tersebut telah sukses diselenggarakan sebanyak dua kali, sejak 26 Januari 2019 dengan mengangkat cerita dalam episode bertajuk “Dramatari Sekar Pembayun”.   

Skenario disusun oleh Bondan Nusantara, disutradarai oleh Agoes Kencrot, melibatkan pemain drama/tari serta pengiring musik profesional dan mengikutsertakananak-anak/remaja di seputar Kaliurang dalam pertunjukannya.

Pertunjukan telah dilangsungkan tujuh kali di tahun ini, diadakan secara rutin setiap Sabtu Legi pukul 09.00 -11.00 (pagi) di Taman Kaliurang. Pertunjukan yang sama digelar, Sabtu (28/9/2019). Dramatari di pagi hari merupakan hal baru. Konsep yang diusung dalam pertunjukan ini pun bukan hal yang biasa. Penonton diajak untuk terlibat dalam pertunjukan ini dengan mengusung konsep interactive-moving, dan attractive-thrilling performance.Pertunjukan bulan ini diselenggarakan pada tanggal 28September 2019. Merupakan kesatuan pertunjukan ini, adalah pengenalan makanan tradisional tempo dulu seperti gudeg Manggar, jadah, dawet, dll. Di akhir sessi dramatari dilakukan penanaman pohon di sekitar area Taman dengan pot khusus.

Tokoh utama dalam dongeng yang akan diangkat di Taman Kaliurang adalah Sekar Pembayun, putri sulung Panembahan Senopati. Perjuangan Pembayun untuk memperluas wilayah kerajaan Mataram yang saat itu dipimpin oleh ayahndanya, Panembahan Senopati, telah dilakukan dengan tekad yang kuat sepenuh hati.

Kisah cinta Pembayun dengan Ki Ageng Mangir telah dikenal luas. Bagi masyarakat Yogya, cerita cnta tersebut telah menjadi kisah abadi yang menyebar dari mulut ke mulut, abadi selama ratusan tahun. Cerita epik tentang Babad Tanah Mataram tak bisa dipisahkan dari cerita ini, dengan pendekatan humanis-romantis.

Sekar Pembayun layak disebut sebagai Srikandi Mataram. Dialah perempuan tangguh berprinsip teguh yang memiliki peran penting dalam meraih kejayaan Bhumi Mataram. Sayangnya tak banyak orang mengenal sosok perempuan lembut yang keras hati dan berparas cantik ini. Dia nyaris terlupakan oleh sejarah yang terkubur bersama simpang-siurnya berita yang dibumbui kasak-kusuk sarat kepentingan. Mengangkat cerita tentang sosok Sekar Pembayun, Srikandi Mataram yang pantang dilupakan merupakan hal yang menarik untuk digali. Ada secercah harapan untuk mengenang dan menghidupkan kembali cerita epik tersebut di Taman Kaliurang dengan perspektif yang berbeda dari yang selama ini dipahami.

Ada apa di Taman Kaliurang? Sebagaimana diketahui, Kaliurang adalah bagian dari Garis Imajiner Filosofis yang dimiliki oleh Yogyakarta, membentang dari pantai selatan ke bagian utara Yogyakarta, yang sebagiannya mulai diakui oleh UNESCO. Mengangkat cerita epik berlatar sejarah Babad Tanah Mataram bagaikan menarik benang merah kekuatan keistimewaan Yogyakarta.

Khasanah dongeng di dalam masyarakat Jawa merupakan budaya yang telah berlangsung lama. Beragamnya versi dongeng akan menambah kekayaan dongeng Babad Mataram dan Babad Mangir yang telah dikenal selama ini, sehingga menambah dinamika budaya di Nusantara yang penuh warna.

Penyelenggaraan Dramatari secara rutin di Taman Kaliurang merupakan bagian dari perencanaan revitalisasi Taman Kaliurang menjadi Taman Dongeng (Loce Storytelling Park). Selain penyelenggaraan dramatari secara rutin dengan diangkatnya dongeng tentang tokoh-tokoh lain dalam beberapa episode yang beragam, objek wisata Taman Kaliurang akan menawarkan beberapa kegiatan budaya, seperti festival mendongeng, kethoprak, tari,outbond seni-budaya, dan kegiatan seni-budaya lainnya.

Seni mendongeng merupakan  wahana efektif untuk mempromosikanpemahaman positif tentang nilai budaya di seluruh dunia. Sebagai karakteristik intrinsik dari setiap masyarakat dan kebudayaaan, mendongeng memang memungkinkan orang untuk menjadi seorang empatik: bersimpati pada karakter, plot, dan akhirnya akan menemukan pelajaran (hikmah) di dalamnya. Lebih dari itu, mendongeng pada dasarnya adalah salah satu cara jitu menyampaikan pesan penting kepada khalayak tanpa ada kesan menggurui. (*/AK)


share on: