Pasca Pemilu, Rektor UGM Serukan Persatuan dan Kesatuan Bangsa

share on:
Pembacaan deklarasi 'Seruan Bulaksumur untuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa' di Kampus UGM, Senin (6/4/2019) || YP/Met

Yogyapos.com (SLEMAN) – Khawatir terjadi disharmoni di tengah masyarakat pasca pemilu 17 April 2019, sejumlah inteletual Yogyakarta mengeluarkan seruan moral menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

“Melihat perkembangan yang terjadi di lapangan maupun medsos akhir-akhir ini, maka kami mengajak seluruh komponen bangsa, terutama pihak-pihak yang berkonstasi dalam pemilu untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa,” ucap Rektor UGM Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng mewakili sejumlah iltelektual melalui Deklarasi bertajuk ‘Seruan Bulaksumur untuk Persatuan dan Kesatuan Bangsa’, di Kampus Bulaksumur, Senin (6/4/2019).

Tampak dalam pembacaan deklarasi itu antara lain Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta Prof Edy Suandi Hamis, Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Yogyakarta Prof Purwo Santoso, Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Kav Muhammad Zamroni dan Wakapolda DIY Brigjen Pol Bimo Anggoro Seno.

Panut mengaku bersyukur karena pemilu telah berlangsung aman, tertib, damai sesuai prinsip-prinsip demokratis taitu jujur dan adil. Namun demikian dalam perkembangannya, hasil pemilu yang prosesnya berlangsung baik tersebut telah menimbulkan suasana pro dan kontra di tengah masyarakat. Hal itu terjadi karena masing-masing pihak yang terlibat dalam kontestasi pemilu telah mengklaim kemenangan secara sepihak, menuduh pihak lain berbuat curang dan adanya upaya mendelegitimasi hasil pemilu dengan mempersoalkan kredibilitas lembaga penyelenggara pemilu.

Situasi sosial politik yang berkembang pasca pemilu dikhawatirkan akan mengganggu keutuhan bangsa Indonesia yang saat ini sedang mencurahkan enerjinya untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain.

“Karenanya kepada pihak yang berkontestasi kami menyerukan mengedepankan sikap kenegarawanan dalam menerima hasil pemilu sebagai mekanisme tertinggi kedaulatan rakyat,” pinta Panut.

Ia juga mengimbau masyarakat mengawal pelaksanaan pemilu dan hasilnya dengan mematuhi konstritusi dan berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu mengajak menahan diri mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memperkeruh suasana dan melahirkan kontroversi di masyarakat.

“Terakhir kami mengajak untuk menggunakan cara-cara damai dan prosedural sebagaimana diatur dalam undang-undang dalam merspon kletidakpuasan atas hasil pemilu,” tandas Panut di akhir pembacaan butir-butir deklarasi.

Sementara itu Danrem Brigjen Muhammad Zamroni mengungkapkan secara umum kondisi di DIY terkendali. Terkait dengan adanya kekeliruan juga dilakukan pencoblosan ulang di beberapa TPS. “Ya bahkan hari ini masih ada pencoblosan ulang di Bantul. Ada yang tidak puas dengan proses lalu diulang,” katanya.

Sedangkan Wakapolda DIY Brigjen Pol Bimo Anggoro Seno memastikan pelaksanaan pemilu di DIY berhalan lancar. Hingga kini situasi wilayahnya aman dan damai. Kalau pun ada konflik dalam skala kecil, itu terjadi saat masa-masa kampanye.

“Aman, aman. Kalau konflik sebelum pemilu itu sudah diproses,” tegasnya. (Met)

 

 


share on: