Paralakon Rilis Dua Single 'Menari Ja'i' dan 'Kupang' di Yogyakarta

share on:
Personel Paralakon berfoto bersama usai merilis single berjudul Menari Ja'i di Yogyakarta, Minggu 2 Mei 2019 || YP/Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Paralakon, grup yang menggabungkan musik, seni dan audiovisual merilis duo single sekaligus 'Menari Ja'i dan 'Kupang' di Yogyakarta. Grup musik kreatif ini beranggotakan empat personel. Mereka adalah Danang Pamungkas sebagai vokalis. Pria asal Bantul yang akrab disapa D Getso ini hobinya menulis lirik lagu. 

Lalu ada Ardie Boy, pekerja seni sekaligus aranjer. Jati Biru si penggebuk drum. Jati merupakan penggiat acara konser musik dan pengelola studio. Terakhir Bagus Satatagama, seorang sinematografer. 

Danang Pamungkas mengatakan, Paralakon yang diisi beragam background ini, karya yang dihasilkan memiliki karakter yang kuat dan beragam. "Karya yang dihasilkan tidak lepas dari tema alam, manusia dan budaya," kata Danang, di Yogyakarta, Minggu (2/6/2019).

Dijelaskan, dalam single Menari Ja'i ini tidak hanya menampilkan gugusan pulau dengan keindahan alam Danau Kelimutu atau Pulau Padar maupun eksotisme komodo sebagai warisan fauna purba.

"Dalam video klip juga  juga menawarkan tradisi luhur yang terlahir dari kebiasaan turun temurun para tetua dan pemangku adat," katanya.

Pria yang akrab disapa D Getsu ini mengungkapkan, Menari Ja'i sebagai lagu mengandung ajakan untuk menyampaikan syukur tentang apa yang boleh didapatkan dan dinikmati oleh manusia.  "Konsepnya sederhana, bagaimana alam bisa menghidupi serta filosofi agar setiap pribadi dapat menjadi lebih baik," kata dia.

Menurut dia,  Menari Ja'i merupakan tarian yang terlahir dari pengalaman sederhana. "Tarian ini tentang bagaimana menyampaikan syukur pada Sang Ilahi melalui tarian tradisi," imbuhnya.

Bagus Satatagama menambahkan, pada penyampaiannya, Menari Ja'i memadukan musik yang bernuansa etnik. Visualisasinya memadukan berbagai kekayaan tradisi maupun keindahan alam di Flores.

Dalam tarian itu, kata dia, Kampung Wae Rebo dan masyarakatnya mewakili bentuk kehidupan sederhana. "Namun secara spiritual sarat dengan makna bagaimana alam harus diperlakukan dan dihargai dengan baik," kata dia.

Menurut dia, apa yang ditradisikan dalam menjaga kearifan lokal patut dicontoh. Hewan komodo, misalnya yang merupakan hewan purba adalah bukti tradisi turun temurun manusia menjaga alamn. "Sampai kini keindahan alam dan komodo tetap lestari dan bisa dinikmati," ungkapnya.

Lalu bagaimana cara bisa mengakses karya-karya Paralakon? Karya empat sekawan ini bisa diakses dan dinikmati di channel YouTube dengan key word search Paralakon. (One)

 

 

 

 

 

 


share on: