LOLOS KE KURSI DPRD, MARWOTO HADI : Ngaruhke dan Mengawal Keinginan Masyararakat

share on:
Marwoto Hadi SH | YP/Ist

RASA gembira tersirat di wajah Marwoto Hadi SH, setelah memperoleh suara di atas ambang batas dan dipastikan lolos ke kursi DPRD Kota Yogyakarta. Pada pemilu 17 April 2019 baru lalu, politisi Partai Gerindra ini mencalonkan diri sebagai caleg Dapil V kota Yogyakarta meliputi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo.

“Gembira, tentu saja. Ini berkat masyarakat konstituen yang telah memilih saya, disamping juga secara khusus atas dukungan dan keikhlasan teman-teman yang memposisikan sebagai tim selama masa-masa kampanye,” ujar Marwoto didampingi salah satu petinggi Partai Gerindra Kota Yogya, Satya AB, Jumat (3/4/2019) malam.

Partai Gerindra Yogya dipastikan berhak menempatkan 5 wakilnya di DPRD , dua diantaranya yakni Dhian Novitasari dan Ririk Banowati merupakan incumbent. Sedangkan tiga lainnya masing-masing R Krisma Eka P, Marwoto Hadi dan Krisnadi Setyawan adalah pendatang baru. Meski pendatang baru untuk mewakili Partai gerindra di kursi DPRD Yogya, tapi Marwoto yang bapak dari tiga anak ini termasuk politisi kawakan. Ia pernah menjadi anggota DPRD Yogya periode 2009-2014 dari Partai Demokrat. Setelah usai periode keanggotaannya, ia undur diri pula dari parpol berlambang segi tiga mercy itu.

“Saya akhirnya gabung dengan Partai Gerindra sambil kembali menata diri dan konsentrasi bisnis,” kenang pria kelahiran 1970.


Sesibuk apapun selalu meluangkan waktu bersama keluarga | YP/Ist

Tidak menjadi anggota dewan ketika itu bukan berarti abai terhadap konstituennya, melainkan tetap ngaruhke, tetap menjaga kesinambungan ‘tegur sapa’ dengan mereka secara baik. Dari keberlanjutan hubungan kemanusiaan inilah, Marwoto bersemangat dan merasa perlu untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Sebab dengan cara itu tekad mengawal keinginan masyarakat bisa tersalurkan melalui jalan politik.

“Ya lagi-lagi karena secara tidak langsung ada desakan dari masyarakat agar saya melanjutkan mengawal keinginan mereka melalui legislatif. Makanya saya nyaleg saat Pemilu 2019 yang lalu. Bersyukur, ternyata meraih 2900-an suara,” terang politisi yang sejak lama ikut nyengkuyung sejumlah komunitas di Yogyakarta.


Marwoto (kiri) bersama anggota DPRRI Andika Pandu Purugabaya dan anggota DPRD DIY Sinarbiyat Nujanat | YP/Ist

Rekan-rekan internal partai maupun kompetitor politik di luar partai menyatakan, Marwoto sosok yang dekat dan nguwongke masyarakat. Sehingga sejak awal pencalonannya sudah diprediksi bakal dipilih oleh banyak konstituen.

Masa-masa kampanye dari kampung ke kampung dilaluinya dengan semangat persaudaraan dan penuh kegembiraan. Ia juga tidak menggunakan seni meraih suara yang cenderung menabrak etika, tidak melakukan kampanye di kantung-kantung yang ditengarai telah menjadi milik caleg lain sesama internal partainya.

Marwoto menyatakan bahwa sebagai pengurus parpol punya kewajiban moral untuk memperoleh sebanyak-banyaknya suara partai. Mindset demikian meniscayakan dihindarinya perebutan suara oleh caleg dari parpol dan di dapil yang sama.

 


Salah satu bentuk alat peraga kampanye yang ikut andil mendulang suaranya pada Pemilu 2019 | YP/Ist

Ini artinya masing-masing caleg harus percaya diri dan berjuang membina konstituennya di basis-basis massa yang berbeda. Jangan sampai tabrakan. Sebab masyarakat sekarang sudah pinter, punya paradigma tidak mau dibohongi dan sebalinya enggan membohongi. Mereka memilih caleg terutama karena kedekatannya secara emosional, sehingga mengetahui kredibilitas maupun kapasitasnya sebagai calon wakil mereka.

“Makanya saya saat kampanye juga selalu menyampaikan kepada masyarakat, jika saya pantas dipilih maka pilihlah. Jika tidak pantai maka jangan dipilih. Dan ternyata jawab mereka kompak; siaaap!” papar Wakil Ketua Geridra DIY, tersenyum.

Banyak hal yang ingin diperjuangkan Marwoto ketika kelak telah menjalani tugas sehari-hari di kursi legislatif. Yakni memenuhi keinginan masyarakat dan mengawal program pemerintah kota.

Secara makro, jelas dia, sumber PAD Yogya terbesar diperoleh dari sektor pariwisata. Maka sektor inilah yang akan diusulkan untuk ditingkatkan. Sementara bicara pariwisata tentu menyangkut tentang sarana dan prasarana yang mau tidak mau harus melibatkan sejumlah dinas. Bukan hanya Dinas Pariwisata saja, tetapi juga Dinas Perhubungan, Pekerjaan Umum dan Perdagangan.

“Sebenarnya terlalu dini kalau saya beberkan. Tapi intinya sektor tersebut harus ditingkatkan karena tentu akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi rakyat dan penyerapan tenaga kerja. Perlu diterbitkan Perda-perda baru terkait dengan sektor Usaha Mikro,” simpul Sarjana Hukum alumnus UJB Yogyakarta yang punya motto hidup lebih bermakna jika bermanfaat bagi orang lain. (Met)

 


share on: