KAMPOENG RAMADAN JOGOKARIYAN #15 : Dari Masjid Membangun Persatuan Bangsa

share on:
Siapa dan berapa pun yang datang akan beroleh takjil buka puasa dari paniti Kampoeng Ramadan Jogokariyan || YP/Fadholy

Yogyapos (YOGYA)- Kampoeng Ramadan Jogokariyan (KRJ) pada tahun ini memasuki usia yang ke 15 tahun. Untuk Ramadan 1440 Hijirah kali ini, tema besar yang diusung adalah ‘Dari Masjid Membangun Persatuan Bangsa’. Hal ini terkait up[aya agar situasi dan kondisi negara kita tidak carut-marut.

Ditemui Senin (13/5) sore, Ketua Panitia KRJ #15, Edo mengatakan, momentum bulan Ramadan adalah waktu yang pas untuk kita saling introspeksi diri. Buang sifat iri dengki, dendam. “Kita ini mahluk yang sama di mata Gusti Allah. Tidak ada embel-embel jabatan ataupun status social. Semua sama derajatnya. Maka itu,kami mengusung spirit dari masjid membangun persatuan bangsa. Konteksnya jelas, berbuat yang terbaik bagi bangsa,” terang Edo yang tahun ini mengakomodir sekitar 300 pedagang, yang berasal dari warga sekitar dan pedagang umum.


Edo optimis KRJ tahun ini berlangsung sukses & lancar || YP/Fadholy

Sore itu selepas ashar, kesibukan mulai nampak di Masjid Jogokariyan. Sejumlah ibu-ibu Dasawisma Jogokariyan, memasak dan mempersiapkan di dapur. Sementara para relawan menata piring-piring di meja besar. Pria-wanita. Tua-muda berbaur gotong-royong menyiapkan hidangan buka sebanyak 2.500 porsi tiap harinya.

Edo berujar, jumlah hidangan buka mengalami pelonjakan dari tahun sebelumnya. Untuk kali ini pihaknya menyediakan 2.500 porsi untuk hari biasa. Sedangkan di akhir pekan, jumlahnya mencapai 3.000 porsi 

“Kami memasak sejak pagi. Kalau kesiangan takut jumlahnya kurang. Menunya variasi, agar tidak monoton. Yang tentunya bergizi. Seperti daging/ayam, telur, sayur, buah, kurma dan minuman manis. Anggarannya berasal dari para donatur, serta infaq takjil,” imbuh Edo yang menerapkan menu buka puasa dengan konsep minim sampah.


Suasana yang selalu menggembirakan jelang berbuka puasa di Masjid Jogokariyan || YP/Fadholy 

Apa yang dimaksud minim sampah? Edo menjelaskan, banyak pihak yang bertanya ke panitia, kenapa menggunakan piring dan gelas. Tidak dengan nasi box saja. Yang lebih efektif dan praktis.


Alhamdulillah berbuka puasa di Kampoeng Ramadan Jogokariyan yang terasa senantiasa dalam jalinan ukhuwah Islamiyah || YP/Fadholy

“Jika dengan nasi box, tiap harinya kita akan memproduksi 2.500 sampai 3.000 kardus ataupun styrofoam. Itu sampah aktif yang akan bergulir selama bulan Ramadan. Hitung saja jumlah sampah dalam sehari, dikalikan 30 hari. Nggak bisa bayangin lingkungan kita dipenuhi sampah. Ini soal guyub rukun, gotong royong. Ada yang memasak nasi & lauk. Membuat air minum. Mempersiapkan gelas dan piring, menata di meja, serta mencuci piring dan gelas. Semua harus terlibat. Berkontribusi memakmurkan masjid," tandas Edo yang membuka kesempatan kepada sejumlah TK,PAUD, SD di sekitar Jogokariyan unjuk kebolehan di panggung KRJ #15. (Fadholy)

 


share on: