Heniy Astiyanto SH : Maksimalkan Pengadilan Agama untuk Selesaikan Waris

share on:
Heniy astiyanto SH (berpeci) saat memaparkan gagasannya || YP/Ist

Yogyapos.com (YOGYA) – Advokat senior Heniy Astiyanto SH mengajak jajaran DPC Peradi Wonosari dan advokat Indonesia pada umumnya untuk memperjuangkan penyelesaian kasus waring melalui Pengadilan Agama. Hal ini perlu dilakukan karena massyarakat masih berpikran pola tertuju pada Pengadilan Negeri (PN) dalam menyelesaikan kasus waris.

 “Ya, Peradi Wonosari harus menjadi pelopor memperjuangkan penyelesaian kasus waris harus diadili di pengadilan agama. Ini agar masyarakat tidak menggunakan pola pikir lama melakukan penyelesaian waris melalui gugatan di PN,” ajak Heniy dalam diskusi hukum menyambut buka puasa bersama di Sekretariat DPC Peradi Wonosari, Jalan Veteran Yogya, Jumat (24/5/2019).

Dalam diskusi yang dibuka oleh Ketua peradi Wonosari Suyanto Siregar SH ini, Heniy mengungkapkan bahwa ketidaktahuan masyarakat itu terjadi karena memang jarang dilakukan penyuluhan hukum sebagaimana terhadap kasus-kasus lain seperti narkoba, utang-piutang dan lainnya. Di sisi lain juga karena masih ada aktivis sosial berpendapat bahwa Pengadilan Negeri bisa untuk menampung sengketa waris Islam.

“Sekarang yang perlu dilakukan DPC Peradi Wonosari adalah penyuluhan hukum ke masyarakat agar kasus sengketa waris Islam diajukan ke Pengadilan Agama, demi untuk mendapatkan keadilan,” ujarnya.

Untuk itu, tandas Heniy, perlu ditingkatkan kualitas dan pengetahuannya advokat melakukan penyuluhan penyuluhan. Termasuk tentang sengketa ekonomi syariah, HAKI dan sejenisnya. Sebab ketika berbicara warisan bisa muncul kumulatif hukum, termasuk apabila obyeknya dijadikan jaminan bank

“Artinya hukum waris Islam tidak tunggal tapi kumulatif, bisa berhubungan dengan HAKI dan sengketa perbankan Syariah,” jelasnya.

Beracara di Pengadilan Agama sebagaimana di PN, ada proses mediasi dan win win solution agar putusan tercapai sesuai keinginan para pihak. Keuntungan penyelesaian secara mediasi tidak menimbulkan luka dan konflik berkepanjangan.

Untuk itu advokat juga perlu bertindak sebagai mediator untuk mencapai penyelesaian yang mencerahkan dan lebih baik bagi para pihak

Pesan kepada advokat muda, perlu ditingkatkan kemampuannya untuk Bidang mediasi. Misalnya ketika ada sengketa waris Islam belum maksimal, dan tidak membawa konsep yang ditawarkan para pihak. Pokoknya harus sesuai gugatan dan tidak bisa dirundingkan

Maka apabila melalui mediasi perlu diringankan tuntutan-tuntutan tidak seperti dalam gugatan, jadi mendengarkan melalui musyawarah.

“Saya mengamati untuk merumuskan hal hal yg perlu dilakukan untuk win win solution itu belum maksimal dilakukan advokat muda. Termasuk kemampuan menegoisasi. Padahal negosiasi ada seninya termasuk melontarkan tawaran, bertahan dan intuitif yang selalu perlu diasah. Hingga pada kemampuan menuliskan dan menuangkan hasil mediasi atau akta mediasi,” pungkas advokat yang berkantor di Jalan Tamansiswa Yogya. (Met)

 


share on: